Bararak

(Penulis: Vera Yuliana, Cerpenis tanpanama.id, Mahasiswa Sejarah UNP angkatan 2017)

***


Ilustrasi Bararak.

Hari ini pagi lebih awal datang menjelang. Fajar sejengkal lebih dahulu menaiki langit, embun pun memilih lebih cepat meninggalkan dedaunan, juga hiruk pikuk aktivitas di tungku belakang rumahku yang lebih subuh dimulai.

Aku terbangun dari tidur lelap semalam karena mendengar suara bising Bundo, Mak Uwo Eti, dan Tek Linar yang sedang sibuk memasak nasi lamak, yang akan dibawa bararak di acara khatam Al-quran hari ini.

Akbar, anak Mak Dang Pijun ikut khatam Al-quran di Surau Raya.

Kemarin, mamakku satu-satunya itu mengantarkan setengah gantang beras pulut untuk dimasak hari ini. Katanya, nasi lamak ini harus selesai dimasak pagi-pagi sekali, mengingat pukul tujuh acara bararak sudah dimulai. Dan itulah yang sedang dikerjakan Bundo dan saudara-saudaranya.

"Sudah bangun, Ran? Sudah salat subuh?" tanya Bundo saat aku berdiri di pintu dapur belakang rumah dengan masih menggunakan baju tidur dan rambut yang masih kusut serta wajah berminyakku.

Aku menggeleng sembari menguap karena kantuk sedikit banyak masih menguasaiku yang belum sepenuhnya sadar.

"Kalau begitu pergilah salat dulu, setelah itu cepat mandi karena kita mau pergi bararak."

Bararak? Mendengar kata itu mataku langsung menjalang. Kantukku mendadak hilang.

Bararak adalah hal yang paling kugemari dalam perhelatan khatam Al-quran. Berkeliling kampung beramai-ramai diiringi alunan musik marching band yang menggemparkan dan berisik namun sangat menyenangkan.

Aku langsung berlari ke sumur yang tak jauh dari dapur itu untuk mengambil wudhu kemudian salat subuh, setelah itu mandi dan bersiap-siap. Aku sungguh tidak sabar.

***

Jam tanganku menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat, namun Bundo masih belum siap-siap. Masih mondar-mandir mencari baju yang tepat untuk dipakai bararak, sementara aku sudah sangat rapi.

"Ndo, cepatlah! Kita hampir terlambat. Nanti kita tertinggal rombongan."

"Iya, tolong carikan baju kurung warna merah kesukaan Bundo di lemari, Ran."

"Pakai yang warna hijau ini saja, Ndo. Pakai yang ada saja dulu," jawabku sembari menyodorkan baju kurung yang ada di atas dipan dengan perasaan mulai kesal.

"Bagus tidak Bundo pakai baju ini? Bundo sudah sering memakai ini di acara baralek," Bundo masih saja mengutak-atik baju yang kusodorkan sambil mencocokkannya di cermin.

Aku menghela napas kesal, lalu memandang memelas ke arah Bundo pertanda aku ingin segera pergi bararak.

Untungnya Bundo mengerti dan mengikuti saranku untuk memakai baju kurung hijau itu dan bersolek seadanya. Tepat pukul tujuh lewat sepuluh, kami berangkat ke Surau Raya dengan baju kurung terbaik yang kami punya.

Rasa tidak sabar membawa langkahku dan Bundo begitu cepat berlalu. Kami begitu bersemangat walau kadang langkah terganggu oleh sepatu hak tinggi yang tidak terbiasa kami pakai.

Juga kulihat Bundo kerepotan dengan nasi lamak yang tertengger di atas kepalanya. Namun semua itu bukanlah masalah besar.

Sesampainya di Surau Raya, warga kampung telah ramai berdatangan.

Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sibuk dengan dandanan anaknya yang jadi peserta khatam, ada yang sibuk dengan talam dan nasi lamak yang akan dibawa bararak, juga tak sedikit yang mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama. Untunglah kami belum terlambat.

Pak Uwo Alim selaku salah satu guru mengaji sibuk berceloteh di pengeras suara surau yang terdengar berisik, dia menghimbau agar warga kampung ikut beramai-ramai bararak.

Suara grup marching band yang berdemo di luar surau semakin menggebu-gebukan semangatku dan seluruh warga kampung. Peserta khatam mulai mengambil tempat sesuai arahan Bang Rahmat, anak Pak Uwo Alim.

"Berapa ekor membantai sapinya, Bang?" tanyaku pada Bang Rahmat yang juga merupakan kakak kelasku di sekolah.

"Dua ekor, Ran. Satu dari iuran peserta khatam, satunya lagi sumbangan dari Haji Ali."

"Wah, banyak juga, ya? Pasti nanti siang Rani bisa pesta gulai daging. Jarang-jarang bisa makan enak."

Bang Rahmat tertawa mendengar celotehanku, "Jangan terlalu berharap, Ran." Kemudian dia kembali sibuk mengatur barisan rombongan karena bararak benar-benar akan dimulai.

Aku juga mengambil barisan di belakang grup marching band seperti Bundo dan warga kampung lain. Sesaat setelah semuanya oke, iringan musik marching band mengawali arak-arakan kami.

Di barisan awal, ada Saiful dan Rohman, murid TPA yang membawa spanduk, diikuti peserta khatam di urutan kedua, lalu grup marching band, pembawa talam dannasi lamak, dan warga kampung lainnya.

"Bundo, bararaknya asik sekali, ya?" ucapku setelah berteriak karena iringan musik yang terlalu bising.

Bundo mengangguk dan tersenyum setuju sambil terus berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan.

Sesekali perjalanan kami terhenti karena banyaknya kendaraan yang tersendat akibat sebagian besar badan jalan terpakai untuk arak-arakan ini. Namun hal itu tidak mengurangi serunya bararak. Sungguh.

Di sepanjang perjalanan pun warga rela berkumpul di depan rumah masing-masing menunggu arak-arakan melalui rumah mereka.

Anak-anak kecil juga tidak sungkan berjoget mengikuti musik atau sekedar bertepuk tangan. Aku juga tidak segan melambaikan tangan pada semua orang yang kukenali.

Itu menyenangkan.

"Rani, titip handphone, ya? Abang tidak ada saku. Nanti ambil pas di surau," pinta Bang Rahmat mengagetkanku dari belakang sambil menyodorkan ponsel layar sentuh ke tanganku.

Aku baru saja hendak menjawab saat Bang Rahmat dengan cepat berlalu ke barisan depan hingga tidak terlihat lagi, "Tapi Bang, Rani juga tidak ada saku," teriakku percuma.

Ah, sudahlah, biar kupegang dulu ponsel Bang Rahmat ini, mungkin dia sedang sibuk. Bararak lebih seru ketimbang mengejarnya.

Sepersekian detik kemudian, alat komunikasi itu berdering. Awalnya aku tidak menghiraukannya karena takut mengganggu privasi pemiliknya.

Namun pemikiranku berubah saat dering ponsel itu bertambah sering. Kuputuskan melirik pesan yang baru saja masuk itu, takut ada sesuatu yang penting.

'Dagingnya sudah kuamankan, Bos. Mau dibawa sekarang?'

Apa maksud dari pesan dengan nomor tidak dikenal ini? Kuputuskan melihat pesan selanjutnya untuk menghilangkan rasa penasaran.

Isinya, "Para pembantai sapi sudah tidak ada di sini. Mereka sedang makan bersama di dalam surau. Aku akan ambil sekarung. Kapan rombongan bararak kembali ke Surau Raya, Bos?"

Aku bertambah bingung dengan isi pesan-pesan ini. Daging? Bararak? Apa yang akan orang ini ambil? Apa hubungannya dengan Bang Rahmat yang dipanggilnya "Bos"? Langkahku melambat.

"Rani, kamu kenapa? Cepat jalan, nanti ketinggalan," panggil Bundo membuyarkan lamunanku.

Sayang sekali topik pesan ini mendadak lebih menarik ketimbang bararak yang mulai membuatku bosan.

Aku jadi lebih ingin menerka-nerka arah pembicaraan orang misterius ini daripada berjalan jauh pun kepanasan dan membuat tungkaiku mulai lelah.

"Bundo duluan saja, ya? Aku lelah."

"Yasudah, nanti susul Bundo kalau kamu sudah tidak lelah lagi, ya?"

Aku mengangguk dan memperlambat langkah kakiku hingga tertinggal di barisan akhir.

Betisku nyeri, badanku mandi keringat sedang rasa penasaranku terus menguap dan berpendar. Untunglah perjalanan kembali ke surau sudah dekat.

Sepulang bararak, aku mampir ke rumah Mak Dang Pijun yang ada di belakang surau untuk melepas lelah.

Hanya aku sendiri di rumah karena yang lain masih di surau. Saat sedang istirahat, aku mendengar suara kresek-kresek dari belakang rumah. 

Aku lantas melihatnya dari jendela dapur. Dan sebuah pemandangan mengejutkan ada di depan mataku. Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam dan menggunakan penutup kepala sedang mengangkut sebuah karung ukuran sedang yang terlihat cukup berat.

Astaga! Siapa mereka? Apa yang mereka bawa? Kenapa kelihatan seperti maling? Takut mulai menggerogotiku.

Aku terus mengintip aktivitas keduanya pria misterius itu dengan badan yang gemetar menahan takut.

Sejenak mereka berhenti dan salah satu mereka dari mereka mengeluarkan ponselnya, menekan dengan cepat tombol-tombolnya lalu kembali melanjutkan perjalanan ke arah hutan rimba.

Ponsel yang sedari tadi ada dalam genggamanku tiba-tiba berdering, membuatku sedikit terkejut. Kucoba lirik isi pesan yang datang.

"Semua aman, Bos. Daging sudah kami amankan. Tidak akan ada yang tahu."

Yaampun, aku masih belum mengerti dengan semua ini. Ada apa sebenarnya?

Aku beranjak dari dapur ke teras depan untuk menghilangkan ketakutan, namun mendapati Ni Eka, tetangga Mak Dang Pijun yang setengah berlari ke arah surau.

“Ni Eka, ada apa?”

“Ada insiden di tungku tempat masak daging untuk khatam, Ran,” jawabnya segera lalu bertolak pergi.

Insiden apa? Aku juga cepat-cepat melihat kejadian itu setelah menutup semua pintu.

“Bundo, ada apa?” tanyaku pada Bundo yang ada di antara kerumunan orang di tungku surau.

“Itu loh, Ran, daging untuk gulai hilang. Lenyap tanpa jejak.”

Astaga! Dagingnya hilang? Aku terperangah kaget seperti semua orang di sana juga bertanya-tanya heran.

Aku termenung. Tiba-tiba sebuah ingatan muncul di benakku tentang daging. Tentang si pengirim pesan misterius ke ponsel Bang Rahmat tadi. 

Aku memutar otak dengan cepat.

Aha, aku tahu sekarang. Semua kejadian-kejadian ini saling berhubungan. Pasti hilangnya daging di tungku surau ini adalah ulah orang suruhan Bang Rahmat yang telah mencuri sekarung daging.

Mereka bekerjasama menggelapkannya. Dan dua orang misterius di belakang rumah Mak Dang Pijun itu adalah orang yang sama yang mengirim pesan-pesan itu.

Pantas saja tadi Bang Rahmat bilang aku tidak boleh terlalu berharap pada gulai daging itu, ternyata ini maksudnya?

Sungguh tak kuduga. Bahkan orang yang amat kukagumi dengan suara indahnya kala mengaji tega berbuat seperti ini. Bagaimana mungkin?

"Hey, Ran, dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi.” Tiba-tiba saja orang yang sedang kupikirkan itu muncul dengan tampang tidak bersalah.

Dasar lelaki bermuka dua. Ternyata tersimpan hati yang busuk di balik hati malaikatmu. Aku memandangnya penuh kebencian. Ingin sekali aku buka kedoknya sekarang.

“Rani! Kenapa melamun? Maaf aku menitip handphone terlalu lama.”

Aku bergeming,” Aku tidak menyangka sedikitpun, Bang.” Aku benar-benar muak melihat kepura-puraannya.

“Maksudmu, Ran?”

Masih bisa orang ini mengelak? Dasar perampas hak orang lain dengan cara licik. Aku benci padamu. Aku terus bergumam dalam hati.

“Ran, kamu kenapa sih?”

Lagi-lagi aku hanya diam memendam kebencian.

Tiba-tiba hadir Haji Ali di tengah kami, “Rahmat, mana handphone saya? Surya bilang kamu yang menemukannya saat saya tidak sengaja menjatuhkannya saat acara bararak tadi, benarkah?"

“Itu sama Rani, Pak. Tadi saya titip sama dia karena tidak ada saku.”

Apa? Kenyataan apa lagi ini? Aku terkejut setengah mati, “Handphone ini milik Bapak?” Haji Ali mengangguk sekenanya.

Gila! Ternyata ponsel ini milik Haji Ali? Jadi bukan Bang Rahmat pelakunya? Ini benar-benar parah. Aku tidak habis pikir dengan semua ini. Dadaku sesak seperti baru saja ada yang menghujam.

Kenyataan apalagi ini? Satu hal yang baru kusadari, selama ini aku salah menilai, titel besar seseorang memang tidak menjamin keikhlasan hati nuraninya, meskipun orang itu seorang haji sekalipun.

Tinggalah acara khatam Al-quran tanpa gulai daging dan salawat dulang nanti malam terancam gagal. 

Apa aku harus jujur?

***