Arif Gumensa: "Berorganisasi adalah Panggilan Jiwa"

[Wawancara oleh: Dodi Abdullah]

***

Arif Gumensa. Foto/Istimewa

Arif Gumensa, mendengar nama ini, tentu sudah tidak asing lagi di telinga para aktivis pergerakan di Sumatra Barat. Arif Gumensa bisa dikata mendapatkan kematangan lewat organisasi.

Banyak kenalan baru, relasi, cerita seru hingga haru dilaluinya dari sekian tahun berkecimpung di dunia organisasi. Memang, kegandrungannya terhadap “dunia” ini sudah muncul sedari masa pendidikan sebagai pelajar di tingkat SMP maupun di SMA. 

Bermula dari Organisasi Siswa Intra Sekolah "OSIS"-lah beliau mengawali jejak. Seiring berjalannya waktu dan pengalaman yang kian bertambah semakin tinggi jenjang organisasi yang ia geluti.

Organisasi bagi Arif Gumensa bukan hanya sekadar untuk gaya-gayaan. Pun hanya untuk memampang tampang “wah” di profil media sosial. 

Baginya organisasi merupakan panggilan jiwa untuk beraksi, bersuara, dan membela yang lemah. Tidak tehitung banyaknya aksi parlemen jalanan yang telah dilakoni Arif Gumensa dan kolega.

Sekadar menyebutkan contoh beberapa diantaranya; Aksi menentang kesewenang-wenangan aparat terhadap penambang emas di Kabupaten Dharmasraya (2013), Aksi menolak kenaikan BBM, Aksi peduli terhadap kesejahteraan guru di Pesisir Selatan.

Semasa menjadi mahasiswa. Arif memilih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai kendaraan berjuang. Loyalitas dan integritas ditunjukkan betul kepada himpunan tercintanya tersebut. Ia menjadi Ketua Umum di HMI Komisariat STKIP PGRI SUMATRA BARAT periode 2011-2012.

Bahkan suatu ketika di bulan November 2012 akibat terlalu letih beradu argumen dengan para cendekia di himpunan itu, ia terpaksa dirawat di Rumah Sakit Ibnu Sina, Padang.

Aktif di luar kampus tak menjadikan ia buta keadaan dalam kampus. 

Kampusnya, STKIP PGRI SUMBAR ia masuki tahun 2007. Memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. 

Di kampus, Arif sendiri tercatat sebagai wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa untuk masa jabatan 2010-2011. Lewat dunia kampus ini pula ia bisa menjejakkan kaki di Singapura pada 2010 hingga mengikuti pertemuan perwakilan dari Badan Eksektif Mahasiswa se-nusantara pada pagelaran BEMNUS di Jakarta 2012 silam.

Sebagai mahasiswa --yang tergolong aktif--, Arif tetaplah manusia biasa dan melakukan kesalahan. 

Tepatnya tahun 2009, ia harus rela mengajukan permohonan “berhenti studi sementara” dikarenakan satu hal yang menimpanya (tidak bisa dijelaskan di sini).

Yang pasti, kegiatan sosial tetap berlanjut walaupun di tengah masa BSS tersebut. 

Bersama rekan-rekan seperjuangan di kampung halaman ia turut menggalang dana untuk korban bantuan gempa di Padang pada 30 September 2009 silam. 

Kemudian terjun langsung memberikan bantuan saat terjadi letusan gunung Sinabung di Sumatra Utara, untuk kegiatan yang disebutkan terakhir ini –terjadi—setelah BSS selesai dan tak lupa Arif memboyong dua generasi muda, dalam misinya tersebut yang direkrut dari SMA N 1 Sitiung sebagai relawan.

Berorganisasi mendatangkan manfaat yang tak terhingga nilainya. Terbukti, saat menyelesaikan studi tahun 2013, ia tak perlu berlama-lama menyandang status sebagai pengangguran intelektual. 

Arif melanjutkan petualangan ke ibu kota dan bekerja sebagai pegawai di salah satu bank ternama. 

Setahun berselang ketika pesta demokrasi pemilihan presiden berlangsung, pria yang akrab disapa "Kanda" ini menjadi salah satu bagian dari JASMEV. Tim relawan Jokowi-JK untuk kampanye bagian media sosial.

Pada usianya yang sebentar lagi menginjak kepala tiga. Ia tetap teguh memegang prinsip "saling membesarkan". 

Dia terus memberikan wadah atau malah membuat wadah tersebut demi kemajuan adik-adik yang nanti akan meregenerasi perjuangannya dan demi membentuk karakter “muda-mudi” penerus itu. 

***

Kini, Arif Gumensa tercatat menjadi salah satu tokoh perintis terbentuknya HMI Cabang Dharmasraya dan terpilih menjadi sekretaris DPD KNPI Dharmasraya hasil musyawarah daerah yang diadakan tanggal 28 Desember 2016. 

Dodi dari Tanpa Nama berhasil mewawancarainya di akhir buka bersama DPD KNPI Dharmasraya, yang diadakan di RM. One Gunung Medan, Selasa (20/7/2017). 

Sebagai seorang yang kenyang akan manfaat berorganisasi. Arief menuturkan agar generasi muda terus menerpa diri dengan berhimpun, mengasah pemikiran, dan –terutama—untuk mahasiswa supaya terus menyuarakan kebenaran sebagai agent of change dan social control

Harapan besarnya agar pemuda jangan loyo, juga “jangan hanya sekadar menjadi aktivis gaya-gayaan di media sosial”. 

Sesi wawancara selama tujuh menit ini terfokus kepada rencana dan program-program DPD KNPI Dharmasraya ke depannya. 

Dimulai dari rencana ke depan bersama KNPI, bagaimana cara untuk terus memotivasi generasi muda agar terus berorganisasi dan “Jangan sesekali melupakan sejarah” (Jas Merah) tuturnya, menyitir kalimat Bung Karno yang tersohor itu.

Berikut petikan wawancara tim Tanpa Nama dengan pria yang kini lebih sering disapa “Ayah Azka” ini:


Untuk waktu mendatang, kira-kira apa yang akan dipersiapkan untuk DPD KNPI Dharmasraya ini Kanda?

“Yang pertama, tentu sekretariat. Terus S.K pelantikan, dan kemudian program-prgram ke depan untuk menjaga eksistensi serta kontribusi terhadap mahasiswa Dharmasraya pada umumnya (dan) pemuda pada khususnya. (Untuk) Menjaga dan mengayomi pemuda bahwasanya KNPI itu harus berperan penting untuk bisa mengajak para pemuda bagaimana mereka (sebagai) harapan bangsa. Apalagi di KNPI itu kan elitnya pemuda, salah satu unsur pimpinan daerah. Jadi, sangat disayangkan ketika kita terlalu lama hanya berkutat dengan SK dan segala macam (itu)."


Tadi ada beberapa Kawan-kawan berbicara seputar peran pemerintah terhadap KNPI. Dikatakan bahwa belum ada kontribusi pemerintah dalam kegiatan KNPI ini. Jadi, apa langkah yang mesti diambil untuk mengambil hati pemerintah itu, bagaimana caranya kira-kira Kanda?

“Kita tidak (bisa) menyalahkan pemerintah pada saat ini. Kenapa? Secara legalitas, kita belum sah. (Jadi) Kita tidak bisa salahkan pemerintah. Ketika (nanti) SK kita sudah ada, (terus) pelantikan, baru nanti kita (lakukan) sharing namanya, sowan sama pemerintah atau kemudian kita audiensi. Jadi kita tidak ada di sini (yang namanya) o.. kita pro-pemerintah atau kontra pemerintah, tidak ada. Karena apa? Pemuda itu harus bisa bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat dan (juga) pemuda.”


Kira-kira bagaimana Kanda, cara menghidupkan atau lebih tepatnya memotivasi jiwa muda untuk memajukan DPD KNPI Dharmasraya ini?
“Kita bisa melihat dari bagaimana peran KNPI (dharmasraya)yang sebelum-sebelumnya itu. Melihat ke belakang dulu. Jangan lupakan (sejarah) jas merah, kemudian kita melihat dengan program-program yang ada. Untuk motivasi kawan-kawan ke depannya mempunyai peluang yang bagus (karena) bisa ber-KNPI. Karena apa? Ber-KNPI itu (kumpulan) banyak sekali OKP-OKP dan kemudian bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan elit-elit, dengan muspida. Jadi, memang itu yang akan kita motivasi bahwasanya kawan-kawan sebagai KNPI itu bisa bagaimana mungkin bisa berkontrbusi terhadap pemerintah daerah, bersinergi dengan pemerintah daerah, dan kemudian bisa memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat sesuai dengan bidan-bidangya (di KNPI). Mari kita fungsikan KNPI itu sebagaimana fungsinya."

Berarti dengan ber-KNPI pemuda sudah dimantapkan  dengan wadah tersebut dan optimis dengan kejayaan KNPI?
“Ya! Wadahnya (kan) sudah ada (itu). Kenapa? KNPI ini lahirnya orde baru, tidak bisa kita nafikan bahwa pada rezim Suharto dan pergeseran dari rezim itu. Tentu ada masa-masa kejayaannya, sesuai pada masanya dan kita harus mengambil peran itu. Ketika musda itu saya katakan ‘Yok, kita jayakan lagi, kita kembalikan lagi marwahnya.' Karena mungkin, ada faktor-faktor yang saya pikirkan seperti itu."

(dab/jrda)