Pertemuan Singkat dengan Bang Eggi
[Penulis: Ferdy Andika, Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang]
Waktu itu saya sudah semester tua yang harus wajib membuat skripsi. Di saat bimbingan dengan dosen PA, beliau bertanya perihal saya ikut aksi menolak BBM tersebut sampai dengan kenapa bisa jadi korban polisi. Cerita pun berlanjut sampai saya bercerita tentang semangat yang diberikan oleh Bang Eggi. Ternyata beliau menyambut dengan hal lain, "teliti saja beliau sebagai bahan skripsimu."
Pernyataan yang sulit diterima mengingat saya hanya baru sekali berkomunikasi dengan beliau, itu pun lewat telfon. Jarak antara Padang dan Jakarta, tempat beliau tinggal pun cukup jauh. Semalaman saya berfikir, akhirnya saya putuskan untuk mengkaji biografi beliau sebagai bahan skripsi saya.
Akhirnya saya berangkat ke Jakarta menemui beliau untuk diwawancara, sebelumnya saya sudah berkomunikasi lagi dengan beliau perihal penelitian skripsi tentang biografi, beliau setuju. Pada tanggal 11 Juni 2016 saya sudah berada di Bogor. Walaupun cukup sulit menemukan rumah beliau karena saya tidak paham dengan geografis Jakarta apalagi Bogor.
Hari pertama saya sampai di rumah beliau, saya hanya bertemu dengan asisten beliau. Dia memberikan nomor yang baru karena nomor yang lama sudah tidak aktif. Besok harinya saya sudah datang lagi dan akhirnya bertemu.
***
![]() |
| FOTO. Penulis dan Eggi Sudjana/dok. pribadi |
Pertemuan itu tidak disengaja, sebelumnya saya hanya mengenal beliau lewat pemberitaan dan buku sejarah yang saya baca. Waktu saya mengikuti sebuah pelatihan di Kabupaten Bangko ternyata beliau salah satu orang yang menjadi pemateri di pelatihan tersebut.
Kesannya sederhana, tetapi ketika sudah berbicara, suara bariton-nya menggema di dalam ruangan tersebut. Materi yang beliau sampaikan perihal keislaman yang menguatkan ideologi yaitu "Ideopolstratak". Pertemuan itu singkat, saya belum sempat berkenalan langsung dengan beliau waktu itu. Ramainya peserta latihan yang lainnya berkenalan dan berfoto membuat antrian panjang dan akhirnya tidak sampai kepada saya, beliau sudah meninggalkan lokasi pelatihan.
Sepulangnya dari pelatihan tersebut, saya ikut dalam sebuah aksi demonstrasi di Kota Padang, perihal menolak kenaikan BBM pada tanggal 17 November 2014. Dalam aksi tersebut saya menjadi salah satu korban kekerasan bersama 7 orang lainnya, yang dilakukan oleh polisi. Mengakibatkan pelipis mata saya pecah, dan mengeluarkan darah yang cukup banyak sampai menutup pemandangan mata saya.
Satu hari setelah aksi, saat sedang santai di basecamp organisasi, saya ditelfon oleh salah satu senior penyelenggara pelatihan waktu di Bangko. Beliau mengatakan “Bang Eggi mau bicara sama kamu silahkan kontak ke nomor beliau,” katanya beliau miris melihat foto saya yang jadi korban.
Satu hari berselang barulah saya mengontak beliau. Sebuah semangat baru ketika tokoh mahasiswa di masa Orde Baru memberikan semangat untuk tidak berhenti begitu saja “teruskan!!" kata beliau. Sederhana tapi mengena. Sebuah ungkapan bahagia bagi seorang mahasiswa biasa-biasa seperti saya dapat semangat dari tokoh gerakan mahasiswa di masa Orde Baru.
Kesannya sederhana, tetapi ketika sudah berbicara, suara bariton-nya menggema di dalam ruangan tersebut. Materi yang beliau sampaikan perihal keislaman yang menguatkan ideologi yaitu "Ideopolstratak". Pertemuan itu singkat, saya belum sempat berkenalan langsung dengan beliau waktu itu. Ramainya peserta latihan yang lainnya berkenalan dan berfoto membuat antrian panjang dan akhirnya tidak sampai kepada saya, beliau sudah meninggalkan lokasi pelatihan.
Sepulangnya dari pelatihan tersebut, saya ikut dalam sebuah aksi demonstrasi di Kota Padang, perihal menolak kenaikan BBM pada tanggal 17 November 2014. Dalam aksi tersebut saya menjadi salah satu korban kekerasan bersama 7 orang lainnya, yang dilakukan oleh polisi. Mengakibatkan pelipis mata saya pecah, dan mengeluarkan darah yang cukup banyak sampai menutup pemandangan mata saya.
Satu hari setelah aksi, saat sedang santai di basecamp organisasi, saya ditelfon oleh salah satu senior penyelenggara pelatihan waktu di Bangko. Beliau mengatakan “Bang Eggi mau bicara sama kamu silahkan kontak ke nomor beliau,” katanya beliau miris melihat foto saya yang jadi korban.
Satu hari berselang barulah saya mengontak beliau. Sebuah semangat baru ketika tokoh mahasiswa di masa Orde Baru memberikan semangat untuk tidak berhenti begitu saja “teruskan!!" kata beliau. Sederhana tapi mengena. Sebuah ungkapan bahagia bagi seorang mahasiswa biasa-biasa seperti saya dapat semangat dari tokoh gerakan mahasiswa di masa Orde Baru.
Waktu itu saya sudah semester tua yang harus wajib membuat skripsi. Di saat bimbingan dengan dosen PA, beliau bertanya perihal saya ikut aksi menolak BBM tersebut sampai dengan kenapa bisa jadi korban polisi. Cerita pun berlanjut sampai saya bercerita tentang semangat yang diberikan oleh Bang Eggi. Ternyata beliau menyambut dengan hal lain, "teliti saja beliau sebagai bahan skripsimu."
Pernyataan yang sulit diterima mengingat saya hanya baru sekali berkomunikasi dengan beliau, itu pun lewat telfon. Jarak antara Padang dan Jakarta, tempat beliau tinggal pun cukup jauh. Semalaman saya berfikir, akhirnya saya putuskan untuk mengkaji biografi beliau sebagai bahan skripsi saya.
Akhirnya saya berangkat ke Jakarta menemui beliau untuk diwawancara, sebelumnya saya sudah berkomunikasi lagi dengan beliau perihal penelitian skripsi tentang biografi, beliau setuju. Pada tanggal 11 Juni 2016 saya sudah berada di Bogor. Walaupun cukup sulit menemukan rumah beliau karena saya tidak paham dengan geografis Jakarta apalagi Bogor.
Hari pertama saya sampai di rumah beliau, saya hanya bertemu dengan asisten beliau. Dia memberikan nomor yang baru karena nomor yang lama sudah tidak aktif. Besok harinya saya sudah datang lagi dan akhirnya bertemu.
Saya sampaikanlah niat baik saya tentang penelitian yang akan saya lakukan, beliau bertanya "Apa judul skripsi yang akan kamu buat?", "Eggi Sudjana tokoh pressure di masa orde baru bang," Jawab saya *(orang memanggil bg Eggi jadi saya juga ikut memanggil abang). "Mulai dari tahun 1979 awal abang masuk kuliah sampai dengan 1998 karena saya mengambilnya di masa orde baru saja bang." Saya menegaskan.
"Terus apa yang akan saya ceritakan?" kata beliau. Dengan singkat saya jawab "Abang di masa Orde Baru." Sambil tersenyum beliau mulai menceritakan kisah-kisah beliau. Beliau bercerita cukup lama, sore itu hanya dihentikan oleh hujan yang cukup deras dan suara orang mengaji menjelang adzan magrib yang sudah terdengar.
"Terus apa yang akan saya ceritakan?" kata beliau. Dengan singkat saya jawab "Abang di masa Orde Baru." Sambil tersenyum beliau mulai menceritakan kisah-kisah beliau. Beliau bercerita cukup lama, sore itu hanya dihentikan oleh hujan yang cukup deras dan suara orang mengaji menjelang adzan magrib yang sudah terdengar.
Akhirnya, saya mendapatkan data-data ditambah dengan informan-informan lainnya untuk ditulis dan disusun dalam bentuk skripsi.
Eggi Sudjana lahir pada tanggal 5 desember 1959 di Jakarta. Satu-satunya anak laki-laki dari enam bersaudara. Sejak SMP sikap pemberontak beliau sudah mulai terlihat, di masa SMP beliau sudah melihat pemandangan aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di Jakarta.
Eggi Sudjana lahir pada tanggal 5 desember 1959 di Jakarta. Satu-satunya anak laki-laki dari enam bersaudara. Sejak SMP sikap pemberontak beliau sudah mulai terlihat, di masa SMP beliau sudah melihat pemandangan aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di Jakarta.
Memasuki SMA "Bang Eggi" dipercaya menjadi ketua OSIS yaitu di SMA 30 Jakarta. Pada tahun 1979, Eggi sudah Tamat SMA dan masuk ke Universitas Jayabaya mengambil jurusan hukum. Di tahun yang sama Bang Eggi sudah bergabung dengan organisasi ekternal yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Di HMI, ternyata Bang Eggi memiliki keseriusan dalam memahami Islam. Sampai akhirnya, Bang Eggi menjadi salah satu trainer materi keislaman yang sering diundang oleh HMI di sekitar Cabang Jakarta. Bang Eggi sangat aktif dalam gerakan keislaman, terutama gerakan islam kultural, beliau aktif berdiskusi di kelompok diskusi Mustika.
Gerakan Islam Kultural yang Bang Eggi bangun dirumuskan dalam dua bentuk yaitu "Islamisasi Sains" dan "Islamisasi Kultur". Gerakan ini menyebar dengan luas di kampus-kampus di seluruh Indonesia dengan satu tema besar “Jilbabisasi”. Pada semester empat Bang Eggi sudah menggerakkan massa untuk demonstrasi ke DPR menyangkut hukum yang tidak adil.
Puncak dinamika yang Bang Eggi alami ketika harus mengambil pilihan untuk mempertahan asas Islam di organisasi HMI. Akhirnya, Bang Eggi dan kawan-kawan memilih untuk tetap mempertahankan Asas Islam di HMI walaupun dilarang dan bergerak secara sembunyi-sembunyi.
Pascamenjadi mahasiswa Bang Eggi bergabung di CIDES dan menjadi ketua bidang Hukum dan HAM. Sampai akhirnya, di penghujung orde baru, Bang Eggi mendirikan PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia) sebagai wadah untuk terus memperjuangkan cita-cita ideologis.
Di HMI, ternyata Bang Eggi memiliki keseriusan dalam memahami Islam. Sampai akhirnya, Bang Eggi menjadi salah satu trainer materi keislaman yang sering diundang oleh HMI di sekitar Cabang Jakarta. Bang Eggi sangat aktif dalam gerakan keislaman, terutama gerakan islam kultural, beliau aktif berdiskusi di kelompok diskusi Mustika.
Gerakan Islam Kultural yang Bang Eggi bangun dirumuskan dalam dua bentuk yaitu "Islamisasi Sains" dan "Islamisasi Kultur". Gerakan ini menyebar dengan luas di kampus-kampus di seluruh Indonesia dengan satu tema besar “Jilbabisasi”. Pada semester empat Bang Eggi sudah menggerakkan massa untuk demonstrasi ke DPR menyangkut hukum yang tidak adil.
Puncak dinamika yang Bang Eggi alami ketika harus mengambil pilihan untuk mempertahan asas Islam di organisasi HMI. Akhirnya, Bang Eggi dan kawan-kawan memilih untuk tetap mempertahankan Asas Islam di HMI walaupun dilarang dan bergerak secara sembunyi-sembunyi.
Pascamenjadi mahasiswa Bang Eggi bergabung di CIDES dan menjadi ketua bidang Hukum dan HAM. Sampai akhirnya, di penghujung orde baru, Bang Eggi mendirikan PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia) sebagai wadah untuk terus memperjuangkan cita-cita ideologis.
Singkat cerita data-data yang sudah saya dapatkan, saya rangkum di dalam skripsi sejarah yang berjudul, “Eggi Sudjana Tokoh Pressure Group di masa Orde Baru (1979-1998)”.
***
Ikuti tulisan lain penulis di Cerita Sore

Post a Comment