Runtuhnya Akhlak dan Moral Bangsa

[Penulis : Dodi Abdullah, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI SUMBAR ]

***

ilustrasi : The truth is not justified

Kadang kala kita harus melihat sejarah perjalanan ini. Tapi saya bukan bermaksud membandingkan perilaku orang sekarang dengan orang yang terdahulu, apalagi sampai menghakimi bahwa orang dahulu lebih baik daripada orang sekarang dalam hal moral dan akhlak. Namun, saya yang terbiasa hidup di desa merasakan betul perbedaannya atau paling tidak nuansanya.

Saat saya di waktu kecil, ada seorang anak gadis tetangga yang pulang di atas pukul 21:00 ini akan menjadi gunjingan sekampung. Maklum, karena kami sudah terbiasa untuk menarik selimut tinggi-tinggi selepas salat isya. Biasanya, pukul 21:00 kita sudah beranjak tidur. Malam sepertinya hanya terdengan sunyian bahkan sesekali terdengar suara kodok, jangkrik, atau burung hantu. Atau milik hantu-hantu yang diceritakan lewat dongeng oleh orangtua saya kepada saya saat saya telat untuk pergi ke bilik untuk tidur.

Bangun sebelum subuh untuk salat kemudian membaca sebagai persiapan pergi sekolah. Pernah ada anak gadis tetangga yang pulang malam setelah menonton film India, Koi Mil Gaya, film yang hits di tahun 2003 silam itu. Besoknya, anak gadis itu menjadi gunjingan karena diantar pacarnya pulang malam-malam. Pernah juga ada tetangga jauh yang anak gadisnya dikabarkan hamil di luar nikah. Lalu, anak gadis tetangga itu "hilang" atau "menghilangkan" dirinya untuk sementara waktu. Ada juga anak tetangga yang terlibat pencurian ayam. Anak tetangga itu sampai mendapat hukuman di pos hansip dengan cara diinterogasi dan dipermalukan sehingga anak tetangga itu menghilang untuk sementara waktu karena aib yang dideritanya.

Dahulu orangtua saya yang kesehariannya mencari nafkah dengan cara nelayan dan sambilan dengan bertani agar kami (kakak, saya, dan adik) bisa terus bersekolah sampai perguruan tinggi.

Konon dahulunya, kolam ikan tidak akan dicuri karena ikan gratis masih melimpah di sungai Batang Hari tempat kediamanku. Bahkan, ikan mas sebesar paha orang dewasa pun tetap utuh tanpa harus dijaga. Kalau sekarang? Apa boleh buat, perjalanan waktu barangkali sudah mengubah karakter seseorang, bahkan karakter bangsa secara keseluruhan. 

Saya tidak akan jauh-jauh membandingkannya. Saya membandingkannya dengan tempat saya lahir, tempat dimana saya dibesarkan saja, sebuah desa kecil di Dharmasraya, Sumatra Barat.

Saat kembali ke rumah orangtua di kampung, saya saat itu berkesempatan jalan-jalan sampai larut malam sambil menikmati angin malam yang menusuk-nusuk jantung, sekadar bernostalgia saja. Apa yang saya lihat sungguh jauh berbeda dengan semasa waktu saya masih kecil dulu.

Waktu itu pukul 22:30, bahkan tengah malam, ternyata masih banyak gadis desa yang jalan-jalan, berpasangan dengan kekasihnya. Biasanya di waktu saya kecil jam 21:00 sudah terdengar suara jangkrik dan sesekali suara burung hantu. Tapi sekarang suara jangkrik dan burung hantu pun sudah tak terdengar lagi.

Orangtua yang menikahkan anak perempuannya lebih awal karena sudah telanjur hamil sebelum menikah tidak dianggap sebagai aib lagi. Bahkan, ada pasangan yang hidup seatap tanpa menikah. Apakah zaman telah mengubah karakter suatu bangsa? Sekarang jangan coba-coba merawat ikan di kolam tanpa penjaga. Tanpa harus menunggu ikan-ikan itu besar, besoknya ikan itu sudah ludes.

Bukan karena dipancing, melainkan karena langsung dijebol maling. Bahkan, memancing ikan di kolam milik orang lain pun terang-terangan pada siang hari. Bahkan ada juga yang mencuri kelapa, petai, rambutan, jagung, pepaya dan yang lain. Jangan harap tersisa jika tidak cepat-cepat diambil. Jadi, pemilik harus balapan dengan maling. Siapa cepat dia dapat. Weleh-weleeweh.

Saya termenung dan saya memikirkan, alasan karakter bangsa bisa berubah dalam kurun waktu yang singkat itu. Apakah karena penduduk sudah sedemikian banyak sehingga mereka perlu mempertahankan diri dengan cara mencuri tatkala lahan semakin sempit, tatkala pekerjaan tidak tersedia?

Bahkan mencuri terang-terangan bukan aib lagi, bahkan digunakan sebagai gaya-gayaan, bahwa ia seorang pencuri yang dicap pemberani? Mengapa hal-hal seperti hamil di luar nikah, perceraian, atau perselingkuhan bukan suatu aib yang hebat untuk masa sekarang? Dahulu perselingkuhan yang ketahuan sudah pasti akan berujung pada perceraian sekarang perselingkuhan yang ketahuan disebut suatu kekhilafan.

Saya tidak tahu apakah akhlak dan moral itu urusan Pendidikan Agama atau Pendidikan Moral Pancasila. Saya kira dalam agama apapun mencuri pastilah dilarang. Pendidikan moral juga mengatakan demikian. Namun, mengapa orang-orang sepertinya sudah tidak malu-malu lagi melakukan?

Coba lihatlah para koruptor itu. Mereka malah bangga karena bisa memberi harta kepada istri-istrinya, anak-anaknya, dan keluarganya sampai tujuh turunan. Mereka ke sana-ke sini dengan mobil yang harganya miliaran rupiah dan duduk santai di teras rumah supermewah yang bisa disulap menjadi hotel bintang lima.

ilustrasi: korupsi 

Biasanya kalau kita melihat orang yang korupsi pasti hartanya berlimpah, sampai-sampai ikat pinggang mereka pun seharga jutaan rupiah, bahkan harganya sama setara satu sepeda motor terbaru. Para koruptor yang biasanya berpredikat pejabat negara atau politisi tidak ragu lagi mencuri uang rakyat. Toh, penjara akan melepaskannya beberapa tahun kemudian dengan harta hasil korupsi yang tidak pernah dikurangi dan tidak terlacak karena sudah --dicuci bersih-- dalam bentuk pembelian aset-aset berharga.

Alhasil, negara tidak pernah selesai membayar utang-utangnya yang kian hari kian berbunga. Korupsi menyebabkan uang dan kekayaan hanya milik segelintir orang dan menjadi beban APBN. Ketika APBN harus bertambah, pajak segera ditingkatkan. Namun, di sisi lain, pengusaha kaya malah menghindar dari pajak itu dengan membayar calo-calo pajak. Rangkaian ini pasti mengakibatkan naiknya biaya hidup di Indonesia. Kesejahteraan tidak bisa dinikmati secara merata. 

Maka, berembuslah ketidakadilan dan ketidakmerataan yang mudah dibelokkan menjadi makar atau teror. Saya tidak tahu lagi bagaimana akhlak dan moral bangsa pada saat 10, 20, atau 30 tahun ke depan. Apalagi ditambah dengan zaman yang super canggih dan super simple, semua urusan bisa dengan sekali kedip dan sekali tekan. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap moral bangsa? Apakah pejabat pemerintah, apakah tokoh agama atau panutan masyarakat, atau sama sekali tidak ada yang harus bertanggung jawab?

***

Ikuti juga tulisan lain di blog pribadi penulis di sini.