Rindu Sahabat
Ilustrasi: Persahabatan
Tahun 2012, adalah tahun yang tak pernah aku lupakan, di mana ketika saya mengingatnya tak kuasa menahan air mata yang langsung membasahi pipi. Sebelumnya kenalkan namaku Robby Arianto, aku biasa dipanggil oleh teman-temanku dengan sapaan Robby. Aku lahir di Dharmasraya, Sumatra Barat.
Pada tahun 2012, saya sedang duduk di bangku SMA kelas XII A. Di sekolah, saya banyak memiliki teman, teman yang sampai saat ini masih menjalin hubungan baik denganku. Ada yang kuliah di luar negeri, dalam negeri, bahkan ada satu kampus denganku dulu.
Tapi aku tidak akan menceritakan soal teman-teman yang sudah sukses mengejar cita-cita. Aku malah teringat beberapa teman yang sampai kini kami tak bisa berjumpa dengannya.
Waktu itu, kami telah selesai mengikuti UN (Ujian Nasional), dan terasa sangat lega sekali setelah selesai menempuh UN selama satu minggu itu. Aku dan temanku: Andi Saputa, Gerry Iskandar, dan Anto Wijaya berencana merayakan kesuksesan kami yang selesai mengikuti UN --yang katanya sangat susah itu.
Kami berencana merayakan ini dengan bermalas-malasan saja, beda dengan teman-teman yang lain yang merayakannya berlibur ke Bandung, Jakarta dan Bali.
Sempat waktu itu Andi ingin berangkat ke Bandung dengan teman yang lain. Tapi dengan Andi kepikiran dengan jailnya aku, Gerry, dan Anto, ia membatalkan keberangkatannya itu. Kami mempunyai sapaan pada waktu itu. Sapaan kepada kami berempat ialah RAGA "Robby, Andi, Gerry dan Anto”.
***
Empat hari telah kami lewatkan untuk bermalas-malasan, sesuai dengan kesepakatan. Dalam empat hari kami pun berbeda-beda tempat bermalam. Pertama bermalam di rumahku, malam kedua di rumah Andi, malam ketiga di rumah Gerry, dan terakhir di rumah Anto.
Empat hari kami lewatkan dengan gembira sambil bermalas-malasan. Di malam terakhir di rumah Anto, kami membuat janji supaya pertemanan kami ini terjaga sampai kami tua nanti untuk diceritakan kepada anak-anak kami kelak.
Di malam kelima, kami berempat pergi bersama-sama ke suatu warnet untuk bermain game. Game yang kami mainkan ialah Point Blank, game yang sangat populer waktu itu. Dari kami berempat yang jago mainkan game Point Blank ialah Gerry dan Anto. Aku dan Andi selalu menjadi tumbal untuk menuntaskan misi-misi game mereka. Pukul 22.00 WIB, sudah hampir dua jam kami duduk di depan monitor yang membuat mata kami lelah memandang layar sebesar 17 inch itu.
Kami memutuskan untuk beristirahat sambil menatap-natap langit yang malam itu dihiasi bintang-bintang.
Pas kami melihat bintang, si Gerry langsung membuat kami kaget dengan suaranya yang begitu keras “ada bintang jatuh!” kata Gerry sambil melihat ke langit. “Di mana?” kataku langsung melihat ke arah yang Gerry lihat. “Oh, iya itu Robby,” kata Anto sambil menujuk.
Dikarenakan Andi tak bisa melihat dalam kejauhan karena menderita rabun jauh Andi berkata “Bagus kagak bintangnya teman?” “Bagus banget, Ndi” jelas Gerry.
Biasanya ketika orang melihat bintang, orang akan meminta permohonan. Aku langsung bertanya kepada teman-teman yang masih menoleh ke langit. “Eh.. mau minta permohonan kagak?” tanyaku sambil melihat ke langit. “Permohonan apa Rob?” Anto langsung melihatku. “Ya.. suatu permohonan” lanjutku. Teman-temanku sepakat dengan kami meminta permohonan supaya persahabatan kami akur sampai kami dewasa nanti. “Semoga persahabatan kita tak sampai di sini teman-teman, apapun yang kita hadapi, apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama”. Janji kami malam itu.
***
Setelah beristirahat setengah jam di luar warnet, kami melanjutkan main game Point Blank lagi. Tak lama kami di depan monitor, Andi berdiri dan bilang “Aku beli pulsa dulu ya buat abangku, abangku nyuruh aku beli pulsanya dia,” “Oke” sahut kami bertiga.
Lama setelah itu, Gerry menghampiriku, “Rob, gue lapar nih” aku menjawab “ya udah beli nasi goreng aja yang dekat pertamina.” dan Anto yang ada di sebelahku langsung mendengar pembicaraanku dengan Gerry, “saya ikut Ger” kata Anto.
Lalu mereka pergi berdua, dan aku menunggu di warnet untuk melihat komputer mereka. Takutnya jika kami tak ada di warnet, meja yang sudah kami booking akan diambil oleh orang.
Tak lama setelah itu, 15 menit mereka pergi, seseorang berlari ke warnet dan menyorakkan ada yang kecelakaan, lalu aku bergegas lari ke luar dan bertanya kepada abang itu “Siapa yang kecelakaan Bang?” Perasaanku mulai tak enak ketika bertanya kepada orang itu. “Motornya mio warna hijau!” tambahnya. Darahku mengalir sangat cepat karnea detak jantungku mulai tak stabil mendengarnya.
Setelah sampai di tempat kejadian, benar dugaanku. Sahabatku Gerry, Anto, dan Andi terkapar di atas jalan lintas itu. Dengan darah yang berceceran di aspal. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, langsung aku menerobos orang yang sedang mengerumuni ketiga temanku. Air mataku tak bisa kutahan. Setelah melihat tiga temanku yang sehari-harinya itu bersama dan canda gurau bersama. Sekarang terbaring di atas jalanan.
Terlihat dari kejauahan, mobil ambulan dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat kejadian untuk membawa tiga sahabatku yang kritis. Setelah sampai di rumah sakit. Salah seorang dokter mangatakan “Satu orang tak bisa ditolong!” Lalu aku hampiri dokter yang bicara, “Siapa dokter, siapa??” dengan air mata yang selalu keluar dimataku, “yang bernama Anto” kata si dokter. Tangisku meledak, sekuat-kuatnya aku menangis, aku hampiri Anto dan memeluk Anto yang terkapar di atas tempat tidur rumah sakit.
Sedangkan Gerry dan Andi berada di ruangan UGD untuk mendapatkan perawatan. Dengan kondisi kritis aku berdoa, “Jangan engkau panggil juga teman-temanku yang lain, ya allah” doaku sambil duduk.
30 menit berjalan, air mataku masih deras membasahi pipi. Lalu teriakan dari dalam ruangan UGD terdengan kencang sekali, jelas sekali terdengar suara Andre kakaknya Gerry “tidaaaaaaaaaaaaak bangun dik, banguuuuun,” Aku tak kuasa mendengar teriakan kakaknya Gerry dan langsung tangisanku tercucur lagi.
Tak lama mendengar kakaknya Gerry, Andi yang saat itu bersebelahan dengan Gerry juga menghembuskan nafas terakhirnya. Aku berlari ke taman rumah sakit dan memandang langit. “Kenapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, kenapaaa temanku meninggalkanku???” tangisku benar-benar meledak pada saat aku meneriakkan protes itu.
Lalu Ferdy menghampiriku dia adalah teman satu sekolahku juga, “Rob, aku tahu mereka bertiga sahabat dekatmu, yang sabar ya, Rob”. Kupandangi Ferdy dengan tatapan sedih. Lalu aku bertanya. “Kenapa Andi bisa bersama mereka?” “Tadi pas Gerry dan Anto lewat. Gerry memanggil Andi, dan berkata 'kamu ikut kagak, mau beli nasi goreng?' 'Robby mana?' sahut Andi 'dia nungguin di warnet' kata si Gerry' Di saat itulah Andi ikut mereka Rob, Aku tadi bersama Andi lagi di counter” Ferdy menceritakan.
Mulai hari itulah, aku kehilangan sahabat-sahabat yang mengisi hari-hariku dan menemaniku saat senang maupun sedih. Kini aku tak bisa merasakan kebersamaan yang telah kami janjikan itu. Sejak itu, aku tak akan melupakan hari kehilangan sahabat-sahabatku yang aku sayangi. Dengan janji-janji di malam itu saat kami berjanji ketika melihat bintang, lalu aku menuliskan di setiap sudut dinding kamarku.
Kata-kata yang tak bisa kulupakan:
“kita akan tetap menjadi sahabat sampai tua nanti."

Post a Comment