Dia yang Berlalu dan Terkenang
(Penulis: Selvi Hastria Ningsih)*
Embed from Getty Images
Pagi itu hari minggu, jalanan ramai dipenuhi pejalan kaki, tentu saja diikuti dengan rombongan-rombongan kecil lengkap dengan pakaian olah raga ala mereka. Beberapa dari mereka tampak mengenakan baju kebersamaan "caple" bahasa kerennya.
Tak jarang pemandangan ini mengusik hatiku yang baru saja tiba. Mereka sepertinya tampak menikmati hari minggu. Di kampungku tentu saja pemandangan ini tidak pernah terlihat, 'inikah kota?' bisikku dalam hati.
Perjalanan hidup yang baru kurasakan di kota kecil yang ramai penduduknya. Tentu saja kota ini pusatnya kampus-kampus terkenal. Mengenyam pendidikan di kampus yang terkenal adalah suatu kebanggaan sendiri dalam hatiku. Namun demikian aku tak terlalu berminat kuliah di sini.
"Waw..." tentu saja kamu bertanya jika tidak berminat mengapa masih saja ada.
Apakah ini keterpaksaan atau hanya sekedar pengisi waktu atau pelepas tanya saja? Tentu saja itu adalah jawaban dari pertanyaan klasik yang selalu terlontar. Kau tau alasan aku ingin mencoba kehidupan dunia kampus yang kata orang dipenuhi tugas yang memusingkan serta mengharuskan seorang mahasiswa untuk begadang mengerjakan tugas kampus?
Secara pribadi tugas bukanlah hal yang masalah bagiku. Hanya saja menikmati kuliah di kota ini karna aku ingin dekat dengan kekasihku. Ya mungkin alasan ini terdengar klasik dan murahan. Tapi itulah yang terjadi hari ini padaku.
Kota ini adalah kota yang tak kukenal, tapi aku beruntung memiliki kekasih yang selalu setia dan sabar menemaniku kemana pun aku mau.
Embed from Getty Images
Dalam hal pendaftaran hingga sampai duduk tenang di kampus semua diuruskan oleh kekasihku. Kau tau siapa namanya? Jika kamu adalah seseorang yang penrnah satu SMA denganku tentu saja kamu akan sangat kenal dengan kekasihku.
Namanya adalah Andi, sesesok manusia yang berhasil merebut seluruh hati dan fikiranku hingga kau tak sempat untuk memikirkan orang lain.
Bahkan dalam ponselku ini hanya ada satu kontak laku-laki yaitu kontak Andi dengan nama Sayangku. Wah benar sekali aku sangat alai tapi kau tau itu adalah sisi romantis dari kisah cintaku.
Andi adalah seorang gitaris band di sekolah ku. Aku tidak tau dan tidak mau tau apakah banyak para gadis yang menyukainya, yang jelas semenjak aku berpacaran dengannya komunikasiku tidak pernah terhenti.
Telfonan selalu, jelas saja itu yang kami lakukan, meskipun berhentinya ketika jam-jam genting seperti belajar di sekolah, dan kegiatan lainnya yang mengharuskan aku menjauhkan ponsel dari genggamanku.
Ah sepertinya kau berbohong dalam kelas pun masih sempat kukirimkan pesan kepada kekasihku.
Aku tau kamu akan bertanya apakah aku tidak bosan. Tentu saja aku tidak bosan karna kebosanan diusir oleh pesan-pesan romantic kekasihku, hal ini selalu membuat aku bahagia. Selama bersama dia aku merasa hidup dalam film hollywood yang romantis.
Tiga bulan sekolah, ternyata sesosok laki-laki menarik perhatianku. Sama dengan kalian semua, aku juga pernah bertengkar, dan lumrahnya perempuan kebanyakan --aku juga cemburuan dan ngambek.
Tapi selalu saja Andi punya cara untuk membuat aku tersenyum. Sebuah bunga yang dirangkai dari kertas bekas adalah hadiah Andi ketika aku ngambek padanya.
Tiga tahun menjalin kasih dengannya membuat aku bahagia tanpa air mata.
Pernah putus karena kebodohanku mengajarkan aku rasa sakit kehilangan. Dan itu ku rasakan sampai hari ini. Keputusan mengakhiri kisah cinta dengan Andi karena aku ingin mendekatkan diri kepada sang pencipta dan sang maha pemberi cinta.
Mungkin ini caraNya untuk memisahkanku dari cinta yang sesungguhnya ingin sampai akhir hayat saja.
Kesendirian dan kesepian yang kurasakan, tidak ada lagi lagu romantis setiap kali telfonan, tak ada lagi bercanda lucu dan kasih sayang yang indah. Frustasi, iya, aku sangat frustasi.
Namun kesedihan itu tak ingin kubiarkan terus mengerogoti tubuhku, perlahan aku menjalani hidup di kota ini. Memiliki teman baru, keluarga baru, dan dunia baru. Kampus adalah pelampiasan luka di hatiku.
Aku dan teman-temanku adalah teman sejati dan penghuni kampus, bagaimana tidak datang ke kampus jam tujuh pagi dan pulangnya jam tujuh malam.
Ini sangat luar biasa, kau tahu apa yang kami lakukan?
Kami hanya bermain bersama, bercerita dan menghitung mahasiwa yang melanggar peraturan kampus di Blok M begitu kami menyebut tempat itu.
Sebenarnya kami bukanlah mahasiswa yang taat aturan juga, karena di antara kami juga sering melanggar aturan kampus, apalagi aku. Aku sangat suka memakai baju kemeja dengan rok jins serta sepatu yang tidak terlalu feminim.
Hal ini membuat aku sangat percaya diri, sesekali mengenakan baju kaos. Tentu saja kami bukanlah orang-orang yang patut untuk dicontoh. Perjalanan perteman ini masih membuat kami merasa kesepian satu sama lain, tentu saja karena terbiasa ada yang perhatian, dan sekarang tidak tentu saja hidup ini terasa langit menghimpit bumi.
Hidup ini sangat tidak menyenangkan.
Pelantaran blok M mempertontonkan bagaimana mahasiswa kampusku, jalan berdua dengan tawa yang selalu mangambang membuat kami kebakaran jenggot dan sesekali menyumpah “semoga besok pagi putus” ah ini benar-benar memalukan.
Hari demi hari kesepian itu semakin saja memperlihatkan taringnya. Perlahan aku menyusuri seluruh kampus, kakiku terhenti di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Bernama Pers.
Hari itu aku bertemu seseorang bernama Oka dan Nelly . Dia adalah seorang senior yang aku tanya apa itu Pers. Ketika aku suka menulis kemana akan ku salurkan hobi ku itu. Tentu saja mereka menjelaskannya secara detail.
Menunggu pembukaan untuk penerimaan anggota baru Pers adalah rumah kedua bagi ku, sering belajar disana sehingga kau merasa sedikit istimewa. Perlahan kegalauan itu menghilang dari ku. Belajar, makan dan bersuka cita di sekretariat Pers membuat aku akrab dengan anggotanya.
Cinta lokasi, tapat saja aku menaruh hati pada sesosok pria putih yang cuek bernama Rudhi. Ada senang dan ada kesal dalam hati ku karena berpacaran sesama Anggota mengharuskan kami dipecat secara tidak hormat atau salah satu harus mengundurkan diri.
Benar-benar aturan konyol yang sangat ku benci. Bukan anak Pers namanya jika mereka tidak tau apa yang aku rasa, masing-masing dari mereka mulai memperingatkanku hingga semuanya harus ku ikhlaskan.
Aku tau kamu bertanya apakah Rudhi juga memiliki perasaan yang sama. Tentu saja aku tidak pernah tau sampai hari ini karna aku tidak pernah bertannya padanya.
Pers memberi aku warna baru dalam kehidupan kampusku.
Teman, tentu saja mereka sangat mengerti bahwa aku harus liputan dan menerbitkan berita setelah itu aku akan ada waktu untuk mereka, walaupun waktu makan dan obrolan singkat di kantin kampus.
Kantin kampus yang sangat kami suka memang banyak sekali orang di sana, entah itu dosen, mahasiswa fakultas lain dan fakultaku sendiri.
Tentu saja banyak cowoknya dan kau tau hal itu tidak membuat kami melirik salah satu di antara mereka, karna seluruh temanku sudah memiliki kekasih hati kecuali aku. Hanya saja "bodo amat" dengan semua itu.
Hari-hari kampusku memang dipenuhi rutinitas yang itu-itu saja, kuliah, pustaka, pers, dan tongkrongan kecil di kantin atau blok M.
Tidak ada yang spesial dari itu, yang indah adalah kasih sayang dan kedekatan pertemannan. Sesekali kami juga pergi bermain band walaupun hanya satu lagu yang benar-benar aku hafal kunci gitarnya.
Ah.. "gitar", kamu hanya mengingatkanku pada mantan kekasihku, dan sampai hari ini aku gagal move on, sesekali aku berlari mengitari lautan dekat kampusku, sepertinya memang tidak ada tempat lari dan bersembunyi dari kisah yang membuat ku hampir mengakhiri hidupku ini.
Mungkin kau berpikir aku bodoh, tapi cobalah sebentar saja jadi diriku pada saat seperti ini maka kau tidak akan mengatakan aku bodoh. Satu kalimat putus asa yang kutanamkan dalam hatiku adalah:
[* Selvi Hastria Ningsih adalah seorang mahasiswa Pascasarjana Perbankan Syariah IAIN Batusangkar]
Embed from Getty Images
Pagi itu hari minggu, jalanan ramai dipenuhi pejalan kaki, tentu saja diikuti dengan rombongan-rombongan kecil lengkap dengan pakaian olah raga ala mereka. Beberapa dari mereka tampak mengenakan baju kebersamaan "caple" bahasa kerennya.
Tak jarang pemandangan ini mengusik hatiku yang baru saja tiba. Mereka sepertinya tampak menikmati hari minggu. Di kampungku tentu saja pemandangan ini tidak pernah terlihat, 'inikah kota?' bisikku dalam hati.
Perjalanan hidup yang baru kurasakan di kota kecil yang ramai penduduknya. Tentu saja kota ini pusatnya kampus-kampus terkenal. Mengenyam pendidikan di kampus yang terkenal adalah suatu kebanggaan sendiri dalam hatiku. Namun demikian aku tak terlalu berminat kuliah di sini.
"Waw..." tentu saja kamu bertanya jika tidak berminat mengapa masih saja ada.
Apakah ini keterpaksaan atau hanya sekedar pengisi waktu atau pelepas tanya saja? Tentu saja itu adalah jawaban dari pertanyaan klasik yang selalu terlontar. Kau tau alasan aku ingin mencoba kehidupan dunia kampus yang kata orang dipenuhi tugas yang memusingkan serta mengharuskan seorang mahasiswa untuk begadang mengerjakan tugas kampus?
Secara pribadi tugas bukanlah hal yang masalah bagiku. Hanya saja menikmati kuliah di kota ini karna aku ingin dekat dengan kekasihku. Ya mungkin alasan ini terdengar klasik dan murahan. Tapi itulah yang terjadi hari ini padaku.
Kota ini adalah kota yang tak kukenal, tapi aku beruntung memiliki kekasih yang selalu setia dan sabar menemaniku kemana pun aku mau.
Embed from Getty Images
Dalam hal pendaftaran hingga sampai duduk tenang di kampus semua diuruskan oleh kekasihku. Kau tau siapa namanya? Jika kamu adalah seseorang yang penrnah satu SMA denganku tentu saja kamu akan sangat kenal dengan kekasihku.
Namanya adalah Andi, sesesok manusia yang berhasil merebut seluruh hati dan fikiranku hingga kau tak sempat untuk memikirkan orang lain.
Bahkan dalam ponselku ini hanya ada satu kontak laku-laki yaitu kontak Andi dengan nama Sayangku. Wah benar sekali aku sangat alai tapi kau tau itu adalah sisi romantis dari kisah cintaku.
Andi adalah seorang gitaris band di sekolah ku. Aku tidak tau dan tidak mau tau apakah banyak para gadis yang menyukainya, yang jelas semenjak aku berpacaran dengannya komunikasiku tidak pernah terhenti.
Telfonan selalu, jelas saja itu yang kami lakukan, meskipun berhentinya ketika jam-jam genting seperti belajar di sekolah, dan kegiatan lainnya yang mengharuskan aku menjauhkan ponsel dari genggamanku.
Ah sepertinya kau berbohong dalam kelas pun masih sempat kukirimkan pesan kepada kekasihku.
Aku tau kamu akan bertanya apakah aku tidak bosan. Tentu saja aku tidak bosan karna kebosanan diusir oleh pesan-pesan romantic kekasihku, hal ini selalu membuat aku bahagia. Selama bersama dia aku merasa hidup dalam film hollywood yang romantis.
Tiga bulan sekolah, ternyata sesosok laki-laki menarik perhatianku. Sama dengan kalian semua, aku juga pernah bertengkar, dan lumrahnya perempuan kebanyakan --aku juga cemburuan dan ngambek.
Tapi selalu saja Andi punya cara untuk membuat aku tersenyum. Sebuah bunga yang dirangkai dari kertas bekas adalah hadiah Andi ketika aku ngambek padanya.
Tiga tahun menjalin kasih dengannya membuat aku bahagia tanpa air mata.
Pernah putus karena kebodohanku mengajarkan aku rasa sakit kehilangan. Dan itu ku rasakan sampai hari ini. Keputusan mengakhiri kisah cinta dengan Andi karena aku ingin mendekatkan diri kepada sang pencipta dan sang maha pemberi cinta.
Mungkin ini caraNya untuk memisahkanku dari cinta yang sesungguhnya ingin sampai akhir hayat saja.
Kesendirian dan kesepian yang kurasakan, tidak ada lagi lagu romantis setiap kali telfonan, tak ada lagi bercanda lucu dan kasih sayang yang indah. Frustasi, iya, aku sangat frustasi.
Namun kesedihan itu tak ingin kubiarkan terus mengerogoti tubuhku, perlahan aku menjalani hidup di kota ini. Memiliki teman baru, keluarga baru, dan dunia baru. Kampus adalah pelampiasan luka di hatiku.
Aku dan teman-temanku adalah teman sejati dan penghuni kampus, bagaimana tidak datang ke kampus jam tujuh pagi dan pulangnya jam tujuh malam.
Ini sangat luar biasa, kau tahu apa yang kami lakukan?
Kami hanya bermain bersama, bercerita dan menghitung mahasiwa yang melanggar peraturan kampus di Blok M begitu kami menyebut tempat itu.
Sebenarnya kami bukanlah mahasiswa yang taat aturan juga, karena di antara kami juga sering melanggar aturan kampus, apalagi aku. Aku sangat suka memakai baju kemeja dengan rok jins serta sepatu yang tidak terlalu feminim.
Hal ini membuat aku sangat percaya diri, sesekali mengenakan baju kaos. Tentu saja kami bukanlah orang-orang yang patut untuk dicontoh. Perjalanan perteman ini masih membuat kami merasa kesepian satu sama lain, tentu saja karena terbiasa ada yang perhatian, dan sekarang tidak tentu saja hidup ini terasa langit menghimpit bumi.
Hidup ini sangat tidak menyenangkan.
Pelantaran blok M mempertontonkan bagaimana mahasiswa kampusku, jalan berdua dengan tawa yang selalu mangambang membuat kami kebakaran jenggot dan sesekali menyumpah “semoga besok pagi putus” ah ini benar-benar memalukan.
Hari demi hari kesepian itu semakin saja memperlihatkan taringnya. Perlahan aku menyusuri seluruh kampus, kakiku terhenti di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Bernama Pers.
Hari itu aku bertemu seseorang bernama Oka dan Nelly . Dia adalah seorang senior yang aku tanya apa itu Pers. Ketika aku suka menulis kemana akan ku salurkan hobi ku itu. Tentu saja mereka menjelaskannya secara detail.
Menunggu pembukaan untuk penerimaan anggota baru Pers adalah rumah kedua bagi ku, sering belajar disana sehingga kau merasa sedikit istimewa. Perlahan kegalauan itu menghilang dari ku. Belajar, makan dan bersuka cita di sekretariat Pers membuat aku akrab dengan anggotanya.
Cinta lokasi, tapat saja aku menaruh hati pada sesosok pria putih yang cuek bernama Rudhi. Ada senang dan ada kesal dalam hati ku karena berpacaran sesama Anggota mengharuskan kami dipecat secara tidak hormat atau salah satu harus mengundurkan diri.
Benar-benar aturan konyol yang sangat ku benci. Bukan anak Pers namanya jika mereka tidak tau apa yang aku rasa, masing-masing dari mereka mulai memperingatkanku hingga semuanya harus ku ikhlaskan.
Aku tau kamu bertanya apakah Rudhi juga memiliki perasaan yang sama. Tentu saja aku tidak pernah tau sampai hari ini karna aku tidak pernah bertannya padanya.
Pers memberi aku warna baru dalam kehidupan kampusku.
Teman, tentu saja mereka sangat mengerti bahwa aku harus liputan dan menerbitkan berita setelah itu aku akan ada waktu untuk mereka, walaupun waktu makan dan obrolan singkat di kantin kampus.
Kantin kampus yang sangat kami suka memang banyak sekali orang di sana, entah itu dosen, mahasiswa fakultas lain dan fakultaku sendiri.
Tentu saja banyak cowoknya dan kau tau hal itu tidak membuat kami melirik salah satu di antara mereka, karna seluruh temanku sudah memiliki kekasih hati kecuali aku. Hanya saja "bodo amat" dengan semua itu.
Hari-hari kampusku memang dipenuhi rutinitas yang itu-itu saja, kuliah, pustaka, pers, dan tongkrongan kecil di kantin atau blok M.
Tidak ada yang spesial dari itu, yang indah adalah kasih sayang dan kedekatan pertemannan. Sesekali kami juga pergi bermain band walaupun hanya satu lagu yang benar-benar aku hafal kunci gitarnya.
Ah.. "gitar", kamu hanya mengingatkanku pada mantan kekasihku, dan sampai hari ini aku gagal move on, sesekali aku berlari mengitari lautan dekat kampusku, sepertinya memang tidak ada tempat lari dan bersembunyi dari kisah yang membuat ku hampir mengakhiri hidupku ini.
![]() |
| I Wanna Write..../Foto.123RF |
Mungkin kau berpikir aku bodoh, tapi cobalah sebentar saja jadi diriku pada saat seperti ini maka kau tidak akan mengatakan aku bodoh. Satu kalimat putus asa yang kutanamkan dalam hatiku adalah:
sejauh apapun kamu melangkah dan berlari jika Allah takdirkan maka kau akan kembali ketempat semula.-----
[* Selvi Hastria Ningsih adalah seorang mahasiswa Pascasarjana Perbankan Syariah IAIN Batusangkar]

Post a Comment