[Bagian II] Kubalas Suratmu, Kekasihku
[Kiriman berikut merupakan lanjutan dari seri cerita "Pacarku Seorang Aktivis" karya Bung Nurdin Hamzah Hidayat. Sebelum membaca Bagian II "surat balasan untuk kekasih" ini, pembaca dianjurkan untuk membaca surat dari kekasih terlebih dahulu pada Bagian I]
Selamat malam kekasihku, jujur aku terkesima membaca bait-bait dari seluruh goresan tanganmu ini.. tak kusangka engkaupun mengutip kata-kata dari buku-bukuku itu, aku tidak marah sayang, percayalah.
Akhir-akhir ini aku sudah mulai jarang memintamu untuk datang kerumah, karena aku diminta untuk menginap disalah satu sekretariat BEM karena lusa akan ada aksi., aku harap engkau mengerti dan rajin-rajinlah bertanya kabarku, sebab aku sudah terlalu larut dalam draf-draf materi yang tiap malam dibahas dan belum juga tuntas.
Pacarku, terima kasih engkau mengerti kondisiku belakangan ini, bukan tak ingin mendatangi kost-an mu.. tapi uangku habis dan belum kudapati tambahannya, kemaren aku pinjam pada temanku, tak banyak, namun cukup kurasa untuk beberapa minggu ini.
-----
![]() |
| Ilustrasi |
Akhir-akhir ini aku sudah mulai jarang memintamu untuk datang kerumah, karena aku diminta untuk menginap disalah satu sekretariat BEM karena lusa akan ada aksi., aku harap engkau mengerti dan rajin-rajinlah bertanya kabarku, sebab aku sudah terlalu larut dalam draf-draf materi yang tiap malam dibahas dan belum juga tuntas.
Pacarku, terima kasih engkau mengerti kondisiku belakangan ini, bukan tak ingin mendatangi kost-an mu.. tapi uangku habis dan belum kudapati tambahannya, kemaren aku pinjam pada temanku, tak banyak, namun cukup kurasa untuk beberapa minggu ini.
Tak perlu engkau risau pula sayang, aku tak akan menyakiti diriku sendiri, tetapi percayalah jika tidak begini, --bila aku tak lantang dalam berprinsip-- maka aku bisa pastikan selama denganmu aku pun tak punya keinginan bersamamu sampai nanti, iya sampai nanti, yang sering kita bicarakan setiap malam dirumah belajar, setiap engkau mulai mengeluh karena ragu akan langkah kita kedepannya..
Sayang, lusa ada aksi,. Aku harap kau datang, Beritahu papamu bahwa kau ikut bersamaku, tapi kau bacalah dulu draf-draf ini, kau bahas dan kau tanyakan kepadaku, mungkin sebagai anak berprestasi dikelas kau punya cara analisa berpikir kritis yang aku sendiri tak berpikir demikian, sampaikan pula kepada mamamu bahwa aku yang akan menjagamu digaris massa, aku juga yang akan perhatikanmu diantara massa aksi yang ada. Itupun jika mereka setuju..,
Sayang, lusa ada aksi,. Aku harap kau datang, Beritahu papamu bahwa kau ikut bersamaku, tapi kau bacalah dulu draf-draf ini, kau bahas dan kau tanyakan kepadaku, mungkin sebagai anak berprestasi dikelas kau punya cara analisa berpikir kritis yang aku sendiri tak berpikir demikian, sampaikan pula kepada mamamu bahwa aku yang akan menjagamu digaris massa, aku juga yang akan perhatikanmu diantara massa aksi yang ada. Itupun jika mereka setuju..,
Pacarku, kemerdekaan itu adalah sebuah guyonan bagi mereka yang masih enggan memerdekakan diri, kau terpelajar, dan akupun terpelajar, sudah patutnya kita bersetia pada hati terlebih hati yang acap kali tertindas.
Kau tau, aku bukanlah aktivis yang baik, bukan mengincar ketenaran dan popularitas belaka, seperti banyaknya aktivis yang hanya berlindung pada lembaganya.
Aku, pacarmu, yang sejak dahulu merasakan pahit, mendengar jerit, dan sering kali dililit sulit. Itu sebab aku yang paling sulit untuk berkata --untuk pamit dari gerakan-gerakan ini.
Embed from Getty Images
Aku, pacarmu, yang sejak dahulu merasakan pahit, mendengar jerit, dan sering kali dililit sulit. Itu sebab aku yang paling sulit untuk berkata --untuk pamit dari gerakan-gerakan ini.
Embed from Getty Images
Sayang, aku bangga padamu dari semua keluh kesahmu, dan apalagi engkau mulai tajam dalam menyikapi persoalan bangsa ini, diam-diam aku pun punya pacar seorang pemberani, aku suka itu.
Esok lusa datanglah pagi hari kekampus kita, bawa almamatermu, jika kau takut wajahmu tampak oleh dosen atau media, gunakan saja masker pelindung dari debu agar tiada orang-orang tau,, cukup aku yang tau engkau ada diantara kawan-kawanku.
Kekasihku yang manis, cinta itu bagiku adalah sebuah keidealis-an, berpijak dan tak goyah, begitulah kenapa aku sengaja menyembunyikannya darimu, sebab aku takut kau mulai takut bersamaku karena orang-orang berpikir bahwa jadi pacar aktivis hanya memperburuk keberuntungan, dan memperjelas nasib kemeralatan.
Tak punya uang dan hanya jadi incaran intel disetiap malam, untung-untung yang datang itu benar-benar intel, kalau saja orang suruhan? Semoga kau ikhlaskan aku sejak dari sekarang.
Percayalah, dan jangan sesali atau bergerak mundur, kita sama-sama jalani ini dengan seada-adanya, dengan penuh bahagia, aku pasti akan memprioritaskanmu.
Tapi kau juga harus prioritaskan rakyat, sebab kita ini bagian dari rakyat, yang semestinya merelakan kemerdekaan diri sendiri, dan bukan sekedar hidup mewah dan terkesan wah di depan banyak orang seakan-akan buta dalam kondisi yang ada.
Aku tak mau seperti itu sayang.
Aku yakin dibalik lipstik mahalmu, ada sebuah bibir manis yang tak mau lihat rakyat menangis.
***
Nurdin Hamzah Hidayat merupakan pendiri Komunitas Aksara Berkaki sekaligus aktif di Gema Petani SPI
Ikuti tulisan lain penulis di nurdinhamzahhidayat.wordpress.com
Follow juga Aksara Berkaki di Istagram @aksara_berkaki.

Post a Comment