Lembaran Danau Gunung Tujuh

(Penulis: Yogi Buana Putra, Mahasiswa UNAND III Dharmasraya)

====

Suasana di Danau Gujung Tujuh

Pada hari Jum’at kami segera meninggalkan daerah yang kami cintai, yang di sana beribu-ribu orang tergantung kepada kekayaan alamnya. Kekayaan alam yang berlimpah ruah, kekayaan bidang perkebunan.

Namun, kami baru menyadari bahwa kekayaan alam kami belum tereksploitasi semaksimalnya, mengakibatkan semua itu tidak menyempurnakan julukan negeri "petro dollar"

Setelah pamitan dengan kedua orang tua. Mereka tidak lupa mengingatkan kami tentang, "jangan lupa jika di alam bersikaplah yang sopan dan ramah dikarenakan di alam berbagai makhluk hidup baik yang tampak maupun yang tidak tampak juga hidup di sana".  

Pesan tersebut mungkin sudah berulang kali atau sudah sarapan bagi para pencinta alam tentang bagaimana kode etik seorang pencinta alam.

Setelah tabiat itu, kami para rombongan mapala agroudha bersiap-siap untuk menunggangi si besi.

Ketua kami menyampaikan kepada kami, mari segera berangkat, dan titik kumpul selanjutnya di salah satu SPBU yang kebetulan di dekat rumah saya yang berkisar 1 km.

Kebetulan saya semotor dengan senior yang biasa kami panggil bang Vasir.

Kemudian kami melaju dengan kecepatan 40 km/jam, yang artinya kami selalu dikalahkan oleh mobil angkutan barang lainnya.

Setelah melewati beberapa rumah, para si pengendara besi mengambil alih di dalam perbehentian di SPBU, setelah para rekan mengisi bahan bakar kami berkumpul di depan SPBU tersebut.

Sembari mengharapkan ridho Allah, atas itikad kami yang baik ini yaitu "mengujungi ciptaanMu ya Allah," ujar salah satu dari rekan kami sambil mengadahkan tangan ke atas.

Sadar atau tidaknya apabila kami melakukan perjalanan dalam rangka pecinta alam kami selalu menempatkan lokasi terakhir perkumpulan kami di SPBU ini.

Dengan gaya yang tidak mainstreem di mata masyarakat, kami bergaya bak turis yang lengkap memakai peralatan pendakian berupa tas carrel, sepatu, skraf, dan ransum serta hal lainnya.

Yang membuat orang tertawa ialah, gelagat pakaian dari kami ada yang memakai celana pendek kemudian diselimuti dengan memakai shock.

Mungkin di kalangan para pendaki biasa-biasa saja, tapi di depan masyarakat yang pada umumnya jarang melihat pakaian seorang anak bujangan yang mempunyai kulit sawo matang (dalam gurauan kami) "kulit batu baro."

Setiap kami berkumpul di SPBU, pasti bakalan ada orang yang menghampiri kami untuk bertanya setidak basa-basi tentang "acara apa di sini?" Dan dengan semangat yang tinggi salah satu menjawab untuk berdoa dalam pendakian ini atau itu.

Setelah berdo’a para penunggang besi menekan pedal gas, dengan perasaan yang bercampur gembira dan senang namun ada hal yang merasa sedih dikarenakan harus meninggalkan kampung halaman, di mana dari sinilah saya dilahirkan.

Setelah itu, salah satu dari rekan mengatakan para rombongan harus berhenti di salah satu rumah rekan kita dikarenakan orang tuanya telah menyiapkan berupa gorengan yang biasa orang Minang mengatakan ‘’makan gorengan kito lai’’ yang artinya "makan goreng kita lagi".

Setelah sampai di rumah beliau, kami bersalaman dengan orang tuanya, dengan senyumannya sang Ibu menawari kami gorengan, walaupun sebenarnya perut sudah terisi namun jika kita menolak pemberian sang Ibu, maka akan membuat sang Ibu tersinggung dengan sikap itu.

Setelah melahap gorengan sembari bercengkerama dengan teman lainnya, tidak terasa gorengan yang di depan kami sudah mulai habis.

Maklum karena gorengan adalah salah satu makanan yang akan dirindukan, apalagi ketika minuman kopi sedang diteguk maka gorengan adalah pasangannya. hahahaha saya bercanda.

Setelah melahap gorengan, kami segera mengangkat tas bawaan para rombongan, dan kami mulai berpamitan dengan ibu untuk segera berangkat. Dan lagi pesan yang sama disampaikan kepada kami.

Tidak terasa kami telah melewati Kabupaten Dharmasraya dan akan memasuki Provinsi Jambi, di daerah yang kami lewati hampir seluruh usaha para masyarakat setempat berkebun. Yaitu kelapa sawit dan karet.

Tidak terasa badan sudah penat dan pantat se-akan mati rasa dikarnakan berjam-jam di atas motor yang kondisi jalan nya cukup memperhatinkan. Dibandingkan  dengan daerah kami, jalan yang dilalui memiliki variasi yang beragam. 

Ada batu-batuan yang kecil jika tidak hati hati mengendarai si besi maka nasibnya akan seperti dengan saya yang hampir terjungkal dari motor. 

Dan kondisi jalan yang landai disungguhkan dengan pemandangan perkebunan di tepinya membuat adrenalin dan konsentrasi tinggi.

Setelah sampai di perkebunan besar kondisi jalan sudah mulai membaik dan tidak separah sebelumnya.

Dengan adanya jalan yang melalui perkebunan besar maka setiap masyarakat yang ingin cepat tujuan antara sungai rumbai-abai sangir, maka akan melewati perkebunan swasta tersebut.

Mungkin, sewaktu perjanjian menandatangani kontrak meyebutkan bahwa setiap masyarakat di bolehkan melalui jalan yang telah disediakan pihak swasta atau apalah yang jelas menguntungkan masyarakat.

Di perjalanan saya beserta si penunggang besi bercengkrama tentang semua hal,banyak yang kami bahas dari situasi politik maklum kami merasa politik di indonesia telah berubah haluan dari politik demokrasi berpindah ke politik kapitalis.

Di mana orang yang kaya yang menjadi singa di dunia perpolitikan. Masalah ekonomi yang ada di Indonesia mengalami fluaktasi dan harga barang yang naik dan tidak konsisten.

Bahkan masalah agama, bagaimana jika orang orang yang beragama yang hanya berhak mejadi pemimpin dan nampaknya masalah agama yang sangat intens dikarenakan sistem di Indonesia yang menerima kemajemukan.

Di mana agama tidak bisa dilibatkan di dalam pemeritahan.

Jika kita lihat negara yang sekuler --yang sampai saat ini mengalami krisis peperangan adalah negara Turki, di mana pemerintah mulai memasukkan agama ke dalam pemerintahannya yang mengakibatkan masyarakat terpecah bela.

Ada yang pro dan kontra. Dan jika kita bandingkan dengan Indonesia maka negara kita tetap memegang prinsip Pancasila sesuai sila pertama "ketuhanan yang maha esa" dan tentunya masyarakat indonesia menerima kemajemukan di dalam agama, adat, budaya. 

Walaupun bermunculan kelompok separatis yang ingin memakai isu SARA untuk meleburkan ibu pertiwi.

Sebenarnya kami melakukan pembicaraan agar tidak terlihat bosan dan letih dikarenakan rute yang begitu menguras konsentrasi dan tenaga.

Di dalam perjalan kami menikmati hasil karya dari tangan-tangan para petani demi mendapatkan sesuap nasi agar dapat menghidupi keluarga.

Pada umumnya jalan yang kami lewati mempunyai pos-pos setiap titik lokasi di perkebunan swasta di setiap pos dihuni oleh penjaga demi terciptanya keamanan.

Apakah para penjaga diupah yang sesuai dengan pekerjaannya? yang tidak menggunakan cahaya putih yang hanya mengandalkan sebuah cahaya yang terbuat dari lilin --yang apabila ada angin maka lilin tersebut akan bergoyang? 

Mungkin hanya mereka yang tahu. Jalan yang kami tempuh selama 3 jam membuahkan hasil. Kami telah memasuki sebuah desa yang terdapat di Solok Selatan.

Kami segera merapat ke desa tersebut dikarenakan salah satu dari rombogan menginstruksikan bahwasanya kita beristirahat di rumah keluarga beliau.

Sesampai di sana kami merasa dihormati bak raja yang datang ke rumah rakyatnya, padahal kami bukan siapa siapa dari mereka.

Tentu itulah salah satu kelebihan hidup di pedesaan, di mana saling bergotong-royong di dalam kebaikan.

Tepat kami datang ada suatu acara yang sedang berlangsung yaitu penagakan rumah gadang yang menyimbolkan rumah adat Minangkabau.

Di mana sebelum rumah adatnya selesai, maka seluruh kaum masyarakat dari bapak, ibuk, anak, dan cicit berkumpul di halaman rumah gadang dan bernyanyi dengan bahasa yang sangat kental yang membuat para pendatang seperti kami tidak mengetahui arti dari nyanyiannya. 

Maklum, tidak dapat kami pungkiri hampir semua dari kami tidak menemukan budaya yang sekental di daerah kami. Mungkin nyanyian itu yang menemani kami di malam hari.

Tepat dini harinya, kami mulai mengemasi peralatan yang akan dibawa dengan berpakaian jaket yang tebal di karenakan udara malam yang sudah menembus tulang yang kurus ini.

Kami segera meninggalkan julukan daerah seribu rumah adat ini demi menyosong Danau Gunung Tujuh.

Dari daerah ini kami memakan waktu 3 jam untuk sampai ke tujuan, dengan melewati infrastruktur dan pembangunan di Solok Selatan ini. Di daerah ini kantor DPRD dan kantor kepolisian berdekatan agar para legislator takut atas kesalahan ataupun keikhlafan dalam membuat undang-undang yang seharusnya pro terhadap rakyat, malahan yang pro terhadap investor.

Dengan adanya fenomena yang seperti ini menjadi buah bibir bagi para rombongan. Tidak terasa kami sudah sampai di tempat tujuan kami semula.

Dengan kurangnya sumber informasi yang kami dapatkan membuat kami tersasar di dalam perjalanan, maka oleh itu salah satu dari rombogan mengeluarkan inisiatif bagaimana untuk saat ini kita beristirahat di masjid sampai kita menemukan informasi yang jelas dan menunggu adzan subuh.

Akhirnya para rekan menyetujui ide ini yang menurut saya sesat dikarenakan hanya menumpang tidur di mesjid tidak dengan niat shalat. hahha.

Maklumlah sebenarnya anak muda mempunyai ide ide yang gila dan tajam. Jika tidak ada ide-ide yang gila, maka rezim-rezim sebelumnya tidak akan pernah runtuh dikarenakan ide yang gila tersebut.

Dengan dibekali karpet masjid dan alunan tarian dari nyamuk yang mengisi tidur kami pada malam itu.

Setelah matahari menampakkan cahayanya, maka kami bercengkrama dengan salah satu penduduk lokal untuk menanyakan keberadaan jalan dari Gunung Tujuh.

Dengan semangat bapak tersebut menunjuk ke arah barat yang artinya kami sudah salah jalan.

Sesuai instruksi dari ketua, kami mulai mengemasi peralatan kembali dan membersihkan mesjid dan mulai berpamitan kepada bapak yang sudah berbuat baik kepada kami.

Setelah berpamitan rombongan mulai menyusuri jalan demi jalan agar dapat menemukan pos dari Danau Gunung Tujuh.

Setelah berselang beberapa menit kami sudah menemukan pos yang terletak agak menjorok ke dalam, dan kami mulai melakukan administrasi, setelah selesai kami bersiap-siap dengan mengisi perut masing masing dengan nasi goreng yang sudah disediakan oleh para penjual.

Setelah beristirahat kami berpesan kepada bapak tersebut agar menempelkan papan pos dari Danau Gunung Tujuh agar para pendaki yang dari luar daerah memungkinkan tidak tersesat sama halnya seperti kami.

Setelah peralatan sudah siap, maka kami segera berjalan dengan tidak melupakan pengambilan moment dari pintu utama danau gunung tujuh.

Dengan beban yang mungkin 60-70 liter saya sudah mulai kelelahan, maklum di karenakan rute pendakian yang panjang.

Di dalam pendakian kami terbagi dua kelompok di mana ketua di kelompok 2 dan saya di kelompok 1.

Di kelompok satu badan kami yang tidak terlalu besar menyebabkan kami berada di garis depan di bandingkan kelompok 2, dengan kehati-hatian, kami memahami prinsip tujuan pendaki yaitu pulang dengan selamat sampai ke rumah masing-masing.

Selama mendaki kami bercengkrama tentang makna dari pendakian. Bagi saya pendakian agar dapat memaknai sikap kejujuran dan rasa cinta terhadap alam, tanah air, dan rakyat, dikarenakan di saat di gunung adalah situasi yang tidak kita dapati di bawah, dikarenakan tidak adanya kekejaman dan saling menyakiti ataupun tersakiti.

Dan pada hakikatnya mencari kedamaian.

Sekitar 2 jam di dalam perjalanan dalam artian kata sudah setengah perjalanan perkiraan kami, badan sudah mulai penat akibat tidak ada masuknya cairan kedalam tubuh, dikarenakan kelompok saya tidak mempunyai air mineral yang mengakibatkan lambannya perjalanan kami.

Sampai pada akhirnya kami tidak tahan lagi menanggung kehausan terpaksa kami berhenti mendengarkan nyanyian suara burung dan seolah daun ikut bergoyang menandakan masih terjaganya hutan di sini.

Dengan adanya kicauan burung membuat rasa haus mulai berkurang, sampai para pendaki lainnya datang yaitu segerombolan para bidadara dan seketika itu kami meminta seteguk air.

Bidadara yang dimaksudkan ialah para lelaki yang bergaya ala wanita yang membuat perasaan kami tertawa dan rasa heran mulai menyelimuti pikiran kami bahwasanya mereka itu hanya terdapat di tempat yang mewah dan bersifat glamour tetapi yang satu ini berbeda dengan yang kainnya.

Tak apalah yang terpenting rasa haus kami sudah terobati dengan setegukkan air.

Setelah beristirahat yang cukup memakan waktu, maka kami mulai berangkat menuju danau yang kononya mengandung seribu misteri dan menempatkan danau yang tertinggi di Asia.

Dengan adanya dorongan semangat dari diri sendiri tidak terbayangkan kami sudah menapaki jejak di puncak gunung ini, dan demi harus ke danau maka rute selanjutnya yaitu penurunan yang memakan waktu 15 menit, dengan beban yang tidak ringan lagi dan cucuran keringat yang tidak tertampung lagi pada akhirnya dibalas dengan keindahan dari danau gunung tujuh.

Danau tersebut memiliki ketinggian 1959 mdpl yang berarti cukup tinggi di bandingkan dengan danau lainnya. Di danau ini kita bisa melepaskan seluruh kepenetan dengan melihat ke arah danau yang diapit oleh kedua bukit.

Jika di bawah sana kita tidak bisa melihat lagi alam yang tidak terusik oleh tangan manusia dan teknologi yang hanya bersifat hipokrit yang munafik yang mengatasnamakan kepentingan rakyat maka pergilah ke alam lepaskan seluruh kemunafikan ini, maka alam akan menjawab semua kemunafikkan ini.

Pagi hari di temani segelas kopi hangat melihat sang fajar terbit yang menambahkan keelokkan sisi keindahan danau ini, dengan ekosistem danaunya yang tampak perawan dan seakan menambahkan kemisteriusan dari danau ini.

Pada malam hari dengan bulan yang seakan bersahabat dengan para pendaki lainnya yang menghadiahi kami dengan cahaya yang berkemilap sehingga danau tersebut menjadi cermin dari cahaya bulan dan apalagi di temani dengan para bidadara yang menangkap kepiting di bawah rembulan seakan mengingatkan kami cerita dahulu yaitu si punduk merindukan bulan,hahaha 

Apalagi nikmat yang diberikan tuhan kepada kita sungguh lengkap perasaan kami pada saat itu.

Meskipun kami harus meninggalkan orang tua, meninggalkan kasur yang empuk yang di sini hanya beralaskan matras, meninggalkan televisi yang di sini hanya melihat tontonan alam, tapi itu semua terobati dengan alam.

Para bidadara dan pendaki lainnya, akhirnya dengan tidur di alam yang terbuka ini aku rebahkan tubuh yang lemah ini tubuh yang selalu rakus akan apapun di bawah cahaya rembulan yang menyinari seluruh alam.

keesokkan siangnya tibalah momen yang sebenarnya tidak diharapkan yaitu harus kembali kepada rutinitas sehari-hari, kembali kepada kehidupan yang hanya memetingkan diri sendiri, kembali kepada sistem yang di sistematikkan, kembali kepada materi yang menguasai segala yang inti nya kembali kepada jati dirimu sendiri.

Di saat itulah kami harus berpisah dengan danau yang menyuguhkan keindahan, harus berpisah dengan para bidadara yang selau ceria, harus berpisah dengan pendaki lainnya.

Memang benar apa yang di katakan pepatah disaat pertemuan pasti akan adanya perpisahan, di saat yang indah akan ada yang buruk, di saat yang menyenangkan akan ada kesedihan, sekarang tergantung bagaimana jiwa seseorang memahami itu semua dikarenakan tidak ada pemaksaan terhadap apapun.

Perjalanan ini tidak akan pernah terlupakan, tidak akan pernah dihapuskan, akan menjadi sebuah arsip di dalam kehidupan para pendaki, jika memang kita tidak bersua kembali jangan pernah melupakan keindahan alam ini teman, jangan pernah melupakan momen ini teman.

Selamat tinggal danau Gunung Tujuh, selamat tinggal para bidadara, selamat tinggal pendaki lainnya, semoga kelak kita dipertemukan kembali dengan keadaan yang baik dan untukmu alam jangan pernah bosan untuk memberikan hadiah kepada para pendaki dikarenakan para pendaki akan merasa bangga ketika engkau memberikan semua keindahanmu alam.

Sepenggal pengalaman yang akan kami simpan dan kami pratekkan ke dalam sehari yaitu belajarlah dengan alam yang tidak pernah bosan memberikan apapun kepada kita dan tidak pernah meminta imbalan. Salam lestari, salam alam dari Mapala Agroudha.

DANAU GUNUNG TUJUH

Nyanyian burung semakin
Melengkapkan kesempurnaan mu
Air yang jenih dan berombak
Memperlihatkan para lumut

Seakan bergoyang mengiringi alunan ombak
Yang seakan menjadi musik buat alam
Ikan yang beragam yang menandakan
Tidak adanya ilegal fishing

Pada malam hari seakan
Bulan menyinari semua danau
Seperti lampu sorot yang
Menerangkan para sirkus 

Tidak terasa waktu kami sudah
Mulai habis,menikmati adegan adegan
Yang tidak diciptakan,pemain pemain
Yang tidak di bayar

Yang hanya meminta belas kasihan
Lindungi kami dari pembalakkan liar
Lindungi kami dari global warning
Lindungi kami dari tangan-tangan jahil

Agar kami senantiasa menampilkan adegan 
Yang tidak akan pernah di dapatkan
Di bawah sana.

Tidak ada komentar