Japan, "Is my Goal!"

(Penulis: Robby Salam, Siswa SMA N 2 Pulau Punjung)

=====

Ilustrasi./findmyfavouriteteacher.com

Saya bernama Roby, saya memiliki cita-cita ingin menuntut ilmu di Jepang. Kata abang saya Jepang itu negara yang jauh untuk dikunjungi. Tapi walaupun jauh, semangat saya ingin menjumpai dan mencari ilmu di sana tidaklah hanyut terbawa arus. 

Saya sekarang masih memegang kamus pemberian abangku.

Setiap abangku pulang dari kota, saya selalu dihadiahkan dengan beberapa buku. Dari beberapa buku yang dihadiahkan, terdapat selalu kamus bahasa Jepang yang membuat mataku kinclong saat memegangnya. 

Banyaknya buku yang dihadiahkan, cuma yang membuat mataku tercengang takjub ya "kamus" itu. 

Saya mulai mendalami bahasa Jepang, itupun dibantu dengan pemutaran disc yang berada di dalam buku, katanya hadiah jika beli buku itu.

Ke mana pun, saya tetap memegang atau membawa kamus itu di dalam saku bajuku. Saya belajar sangat simple, cuma dengan apa yang saya lihat. Saya selalu mengatakan dengan bahasa Jepang, tapi kadang-kadang saya selalu buka kamus jika saya tak tahu bahasa Jepangnya.

Tak hanya di rumah, di sekolah pun, di waktu istirahat, saya selalu memanjakan mata saya dengan membuka kamus Jepang. Sampai-sampai teman kelasku Rio, Melsa, Arfan, dan Sandi memberikan panggilan candaan kepadaku yaitu "si jepang". Hehe.

Walaupun teman-temanku memanggilku dengan panggilan itu, saya selalu mengucapkan (amin semoga saya sampai dijepang) itu pun diucap di dalam hati saja.

Tak tahu kenapa saya tak merasa risih dengan panggilan itu. Menurutku panggilan itu wajar untukku, orang yang tergila-gila dengan belajar bahasa Jepang. 

Walaupun di sekolahku tak ada mata pelajaran Bahasa Jepang. Tapi saya mencoba berusaha dengan belajar autodidak pun saya merasa cukup. 

Tapi tak se-cukup dengan adanya guru yang mendamping, seperti sekolah-sekolah lain yang memiliki guru pengampunya. 

Walaupun tak memiliki guru pengampu Bahasa Jepang, saya pernah ditawarkan abangku untuk mengikuti les di rumah guru yang sehari-harinya "dia" menjadi guru di sekolah lain.

Entah kenapa, saya juga tak mau mengiakan perkataan abangku itu, biarlah kamus ini yang menjadi pendampingku untuk belajar. 

Selama saya belajar bahasa Jepang, terasa semua pelajaran yang tak berkaitan dengan bahasa jepang pun susah masuk dalam rasionalku, entah kenapa kepikirannya begitu. Walaupun kadang kala tak seperti itu.

Sempat ketika itu, saya menampilkan atraksiku berbahasa jepang di depan umum, tepat di acara jum'atan di sekolahku, atau biasanya acara kultum jum'at. Di sini, saya dinobatkan menjadi protokol oleh guruku, tetapi dengan berbahasa Jepang. Woooow, itu mengejutkanku, sampai-sampai jantung yang berdetak mengalirkan darah ke seluruh tubuhku terasa cepat sekali perdetiknya.

Acara dimulai jam 07.20 WIB, dan saya telah berada di posisi depan sedang memegang microphone yang tersambung ke speaker sekolah, dan ke toa. 

Saya sangat gugup dan kaki saya gemetar dengan banyaknya mata memandang ke arahku, sebelum saya berbicara, kata-kata bising terdengar samar di telingaku. Ada yang berbicara, sijepang, siroby, eh itu siapa, ayo roby, ayo jeeeep. Sungguh membuatku bertambah gerogi tingkat dewa. 

Moment pertama sekalinya memang pantas diawali dengan santapan gerogi, itu menurutku wajar-wajar saja. 

Setelah salah seorang guru menyuruh semua audiens diam dan menyilahkan saya untuk mulai membuka acara kultum pagi itu.

Setelah saya mengucapkan assalamualaikum dengan nada kecil, dan dilanjutkan dengan memperkenalkan diri dengan bahasa Jepang, semua audiens yang berbisik-bisik terasa menoleh kearahku

Dengan sembari gerogi saya terus percaya diri untuk melanjutlan perkenalanku dengan bahasa negara sakura itu. 

Setelah berlanjut menuturkan bahasa-bahasa yang tak banyak dipahami oleh teman-temanku aku terasa santai dan mulai memainkan tanganku bak ibaratkan retorika seorang penyair. Hahahah sungguh berlebihan

Saya terheran, dari saya memulai berbicara jepang semua termenung. Entah itu mereka paham atau bukan saya tak tahu itu, yang penting mereka melihat dan meresapi perkataanku. 

Setelah saya selesai dengan bahasa baru itu, tepuk sorak terdengar sangat keras dari para audiens dan guru-guru yang menghadiri kultum itu.

Rasa bangga itu sangat melekat ditepukan waktu itu, dan legah rasanya telah berbicara dengan bahasa jepang di depan umum tanpa menggunakan teks. 

Ini sangat membuat saya untuk terus belajar bahasa kesukaanku, eiitttss, nanti dulu!!! 

Bahasa Indonesia tetap nomor satu, dan bahasa Jepang nomor dua. Wehehehe
Kejadian hari itu langsung saya ceritakan kepada abangku lewat salah satu media yang lagi hits sekarang, 

"Google Allo" di google ini juga banyak membantuku dalam berusaha untuk menghafal dan belajar bahasa kesukaanku nomor dua itu.

Sampai-sampai abangku menyuruhku ketika lulus sekolah nanti, untuk terbang ke jepang untuk melanjutkan kuliah disana, itu pun kalau diizinkan orang tua.

Sampai-sampai gilanya saya menempelkan di depan pintu kamarku tertulis dengan kertas "sudah pulang dari Jepang" dan di belakang pintu kamarku tertulis "Semangat, semoga sampai di Jepang". 

Ironisnya Ibu dan Ayahku yang menyaksikan ketika masuk/keluar kamarku, membuat mereka geleng-geleng kepala akan tingkahku akan belajar di Jepang.

Semoga dengan apa yang aku cita-citakan itu terwujut dan terlaksana. Dan tak cuma aku harapkan dengan cita-cita saja, disetiap sholatku, aku berdo'a untuk meminta kepada Allah yang maha kuasa akan mengkabulkan permohonan yang sederhana ini.

"Umaku ikeba watashi no mokuhyō o tassei" ☺☺✌

***

Tidak ada komentar