Nasib
(Penulis: Vera Yuliana, cerpenis tanpanama.id)
------
"Nit, sudah datang rentenir itu?" tanya Indin cemas.
Seharian ini tidak ada kata tenang di hatinya sedikitpun.
Rasa takut karena dihantui rentenir yang dengan bengisnya menagih utang selalu mengintainya setiap saat.
"Belum, Ndin. Sebentar lagi mungkin. Pergilah sembunyi dulu! Nanti ketahuan."
Nit selaku adik Indin sedikit banyak ikut merasakan penderitaan kakaknya itu. Karena kehidupan mereka sebelas dua belas atau kurang lebih sama.
------
![]() |
| Ilustrasi: Poor Amongst You/FOTO. redletterchristians.org |
Seharian ini tidak ada kata tenang di hatinya sedikitpun.
Rasa takut karena dihantui rentenir yang dengan bengisnya menagih utang selalu mengintainya setiap saat.
"Belum, Ndin. Sebentar lagi mungkin. Pergilah sembunyi dulu! Nanti ketahuan."
Nit selaku adik Indin sedikit banyak ikut merasakan penderitaan kakaknya itu. Karena kehidupan mereka sebelas dua belas atau kurang lebih sama.
Entah siapa yang lebih melarat dari siapa.
Indin dan Nit sama-sama sudah berkeluarga, namun tetap tinggal serumah akibat ketidakmampuan masing-masing keluarga membeli rumah sendiri.
Indin dan Nit sama-sama sudah berkeluarga, namun tetap tinggal serumah akibat ketidakmampuan masing-masing keluarga membeli rumah sendiri.
Alhasil, rumah peninggalan orangtua mereka yang tidak terlalu besar menjadi pilihan pertama dan terakhir untuk ditempati.
Rumah dengan empat kamar itu ditempati dua keluarga, Indin dengan seorang suami dan empat orang anaknya dan Nit dengan dua orang anak yang ditinggal mati ayahnya.
"Iyolah, Nit. Kalau dia datang nanti pandai-pandailah menjawab, ya? Aku mau sembunyi dulu."
Sepersekian detik kemudian, Indin menghilang dari peradaban ke tempat yang sekiranya tidak dapat dijamah siapa pun.
Guna melarikan diri sementara. Sudah cukup rasanya hati Indin menahan sakit, sudah tebal pula rasanya telinga mendengar hinaan rentenir kejam itu.
Rumah dengan empat kamar itu ditempati dua keluarga, Indin dengan seorang suami dan empat orang anaknya dan Nit dengan dua orang anak yang ditinggal mati ayahnya.
"Iyolah, Nit. Kalau dia datang nanti pandai-pandailah menjawab, ya? Aku mau sembunyi dulu."
Sepersekian detik kemudian, Indin menghilang dari peradaban ke tempat yang sekiranya tidak dapat dijamah siapa pun.
Guna melarikan diri sementara. Sudah cukup rasanya hati Indin menahan sakit, sudah tebal pula rasanya telinga mendengar hinaan rentenir kejam itu.
Mungkin jika ditampung semua air matanya dapat membendung sebuah danau sakit hati.
___
"Indin, Indin, cepat bayar utang kau!" teriak seorang rentenir bernama Inang.
Nit yang sepertinya mengenali pemilik suara itu langsung menuju ke luar rumah untuk menemuinya yang kedengaran berada di sana, "Kau mencari siapa?"
"Indin. Mana wanita busuk itu? Dia harus bayar utangnya. Sudah seminggu menunggak."
Nit mulai memainkan perannya seperti skenario yang telah dibuat tadi, "Mana aku tahu, Nang. Aku baru saja pulang kerja."
"Sialan si Indin busuk itu. Sudah seminggu menunggak, janjinya sekarang tapi kini malah ingkar janji."
Jawaban semacam itu memang sering diterima bahkan sudah jadi makanan sehari-hari bagi Indin dan Nit apabila menghadapi kemarahan Inang.
Bukannya tidak merasa sakit hati akibat harga diri yang diinjak-injak, namun karena tidak ada lagi pilihan lain yang bisa dijalani selain menerima semua umpatan orang tanpa bisa berkilah.
Setelah puas meluapkan emosinya, Inang pun bertolak pergi sambil terus menggotong tas kecil berisi penuh dengan uang-uang tagihan dari orang-orang khilaf seperti Indin.
___
"Indin, Indin, cepat bayar utang kau!" teriak seorang rentenir bernama Inang.
Nit yang sepertinya mengenali pemilik suara itu langsung menuju ke luar rumah untuk menemuinya yang kedengaran berada di sana, "Kau mencari siapa?"
"Indin. Mana wanita busuk itu? Dia harus bayar utangnya. Sudah seminggu menunggak."
Nit mulai memainkan perannya seperti skenario yang telah dibuat tadi, "Mana aku tahu, Nang. Aku baru saja pulang kerja."
"Sialan si Indin busuk itu. Sudah seminggu menunggak, janjinya sekarang tapi kini malah ingkar janji."
Jawaban semacam itu memang sering diterima bahkan sudah jadi makanan sehari-hari bagi Indin dan Nit apabila menghadapi kemarahan Inang.
Bukannya tidak merasa sakit hati akibat harga diri yang diinjak-injak, namun karena tidak ada lagi pilihan lain yang bisa dijalani selain menerima semua umpatan orang tanpa bisa berkilah.
Setelah puas meluapkan emosinya, Inang pun bertolak pergi sambil terus menggotong tas kecil berisi penuh dengan uang-uang tagihan dari orang-orang khilaf seperti Indin.
Nit hanya geleng-geleng kepala sambil menatapi punggung Inang yang berjalan angkuh sampai akhirnya menghilang.
Selang beberapa menit, Indin datang kembali dari tempat persembunyian.
Sejenak kegelisahannya berkurang.
Wajah yang sudah penuh kerutan di sana-sini itu tampak begitu lelah. Harus kabur seperti buronan setiap kali rentenir itu datang menagih utang atau kalau tidak, bersiaplah dengan semua umpatan makhluk keji itu.
_____
Iput, anak bungsu Indin yang kini duduk di kelas lima SD baru saja pulang sekolah dengan berjalan kaki 600 meter pulang pergi.
Selang beberapa menit, Indin datang kembali dari tempat persembunyian.
Sejenak kegelisahannya berkurang.
Wajah yang sudah penuh kerutan di sana-sini itu tampak begitu lelah. Harus kabur seperti buronan setiap kali rentenir itu datang menagih utang atau kalau tidak, bersiaplah dengan semua umpatan makhluk keji itu.
_____
Iput, anak bungsu Indin yang kini duduk di kelas lima SD baru saja pulang sekolah dengan berjalan kaki 600 meter pulang pergi.
Baju seragam yang tidak pernah diganti atau dibeli baru sejak masuk sekolah pertama kali itu, kini terlihat lusuh, pirang cenderung berubah warna menjadi putih tapai.
Ditambah keringat yang membasahi sebagian baju seragamnya menimbulkan bau matahari yang sama sekali tidak enak dicium.
"Mak, Iput pulang. Apa lauk?" teriak Iput seraya masuk ke dalam rumah yang berdinding bata dan loteng yang sudah dipenuhi sarang laba-laba itu.
"Sudah pulang anak amak, ya? Amak belum masak. Ayah belum pulang ngojek."
"Tapi Iput lapar sekali, Mak. Di sekolah tidak ada jajan. Ayah tidak ngasih uang."
Mendengar keluhan putri bungsunya, Indin seakan tak kuasa menahan air matanya.
Betapa perih hatinya menyaksikan Iput meraung kelaparan.
Bagaimana mungkin anak sekecil ini harus merasakan penderitaan seperti ini?
Ditambah keringat yang membasahi sebagian baju seragamnya menimbulkan bau matahari yang sama sekali tidak enak dicium.
"Mak, Iput pulang. Apa lauk?" teriak Iput seraya masuk ke dalam rumah yang berdinding bata dan loteng yang sudah dipenuhi sarang laba-laba itu.
"Sudah pulang anak amak, ya? Amak belum masak. Ayah belum pulang ngojek."
"Tapi Iput lapar sekali, Mak. Di sekolah tidak ada jajan. Ayah tidak ngasih uang."
Mendengar keluhan putri bungsunya, Indin seakan tak kuasa menahan air matanya.
Betapa perih hatinya menyaksikan Iput meraung kelaparan.
Bagaimana mungkin anak sekecil ini harus merasakan penderitaan seperti ini?
Indin menarik Iput ke pelukannya, dengan susah payah dia tahan air mata agar tidak jatuh di hadapan putri kecilnya.
Dia harus tetap terlihat tegar meski hati tak sanggup.
"Ambil piring di dapur. Amak mintakan nasi pada si Eka, tetangga kita itu. Habis itu amak gilingkan garam, ya?"
Iput mengangguk lalu berlalu ke dapur dengan segera.
Perut yang sudah gemetar belum diisi sejak tadi pagi itu membuatnya tak tahan. Selang beberapa jam, giliran Iyha, anak ketiga Indin yang pulang sekolah.
Dia harus tetap terlihat tegar meski hati tak sanggup.
"Ambil piring di dapur. Amak mintakan nasi pada si Eka, tetangga kita itu. Habis itu amak gilingkan garam, ya?"
Iput mengangguk lalu berlalu ke dapur dengan segera.
Perut yang sudah gemetar belum diisi sejak tadi pagi itu membuatnya tak tahan. Selang beberapa jam, giliran Iyha, anak ketiga Indin yang pulang sekolah.
Dia sekarang menginjak kelas 2 SMA.
Iyha dapat terus bersekolah berkat beasiswa yang selalu diterimanya sejak SD.
Iyha dapat terus bersekolah berkat beasiswa yang selalu diterimanya sejak SD.
Iyha memiliki kemampuan yang mumpuni, selalu memboyong tiga besar dalam peringkat kelas di setiap semester.
Beruntunglah dia bisa menyekolahkan dirinya sendiri. Karena kalau tidak, pasti Iyha telah putus sekolah dari dulu akibat ketiadaan biaya.
Beruntunglah dia bisa menyekolahkan dirinya sendiri. Karena kalau tidak, pasti Iyha telah putus sekolah dari dulu akibat ketiadaan biaya.
Selain itu, satu hal yang selalu diingatnya, yaitu Allah SWT di mana pun dia berada.
Ketika menginjak teras rumah, Indin telah menyambut Iyha yang kelihatan amat lelah setelah seharian belajar di sekolah.
"Sudah pulang, Yha? Makanlah dulu. Ada nasi dan garam sedikit. Makan itu dulu, nanti kalau ayah pulang ngojek mudah-mudahan kita bisa beli lauk."
Iyha menuruti perkataan Indin.
Keadaan seperti ini memang sudah biasa dijalaninya hari ke hari. Mungkin Indin dan suaminya, Tahai, berpendapat bahwa Iyha adalah suatu harapan yang dapat membangkitkan batang terendam keluarga mereka.
Ketika menginjak teras rumah, Indin telah menyambut Iyha yang kelihatan amat lelah setelah seharian belajar di sekolah.
"Sudah pulang, Yha? Makanlah dulu. Ada nasi dan garam sedikit. Makan itu dulu, nanti kalau ayah pulang ngojek mudah-mudahan kita bisa beli lauk."
Iyha menuruti perkataan Indin.
Keadaan seperti ini memang sudah biasa dijalaninya hari ke hari. Mungkin Indin dan suaminya, Tahai, berpendapat bahwa Iyha adalah suatu harapan yang dapat membangkitkan batang terendam keluarga mereka.
Mengingat Peter, anak sulung mereka sudah putus sekolah sejak SD dan Icha, anak kedua yang hanya tamat SMP dirasa sudah tidak mungkin lagi meneruskan harapan mereka.
Suami istri itu berharap kelak Iyha akan hidup berkecukupan dan dapat membantu saudara juga keluarga nanti saat Iyha sukses.
Jangan sampai anak-anaknya bernasib sama seperti Indin dan Tahai nanti.
Harapan yang sederhana dan tidak muluk-muluk.
____
"Sudah tiga orang rentenir mencarimu, Ndin. Bagaimana ini?" ujar Nit khawatir.
Indin menggeleng tak tentu, "Entahlah. Awak tidak tahu harus bagaimana lagi.
Tahai sampai saat ini belum dapat pinjaman, penghasilan dari ngojek pun tidak cukup memenuhi makan keluarga.
Jangan sampai anak-anaknya bernasib sama seperti Indin dan Tahai nanti.
Harapan yang sederhana dan tidak muluk-muluk.
____
"Sudah tiga orang rentenir mencarimu, Ndin. Bagaimana ini?" ujar Nit khawatir.
Indin menggeleng tak tentu, "Entahlah. Awak tidak tahu harus bagaimana lagi.
Tahai sampai saat ini belum dapat pinjaman, penghasilan dari ngojek pun tidak cukup memenuhi makan keluarga.
"Kalau rentenir-rentenir itu datang lagi, aku pasrah. Mau mereka bunuh aku sekalipun terserah."
"Astaghfirullah, Ndin. Istighfar! Jangan bicara seperti itu." Nit menenangkan Indin yang putus asa.
Indin lelah harus selalu menghilang, sembunyi dan makhluk keparat bernama rentenir itu.
Coba saja mereka tidak meminjam uang untuk membiayai sekolah Iput yang tidak seberapa itu pasti tidak akan sebesar ini utang ditambah bunga bertarif besar yang kini menumpuk.
"Indin, keluar kau! Cepat bayar utang kau itu." Suara rentenir lintah darat itu kembali menghujam dada Indin.
Indin keluar dengan pasrah. Diikuti Iyha dan Ipuy yang kelihatan begitu takut.
"Aku tidak punya uang lagi. Terserah kau mau apakan aku. Mau bunuh sekalipun aku pasrah." ujar Indin penuh emosi, meluapkan seluruh hasrat di dada.
Iyha dan Iput hanya menangis sejadi-jadinya.
Inang yang kelihatan amat berang langsung berteriak kasar, "Apa katamu? Keparat kau, Ndin. Sialan kau!" Kemudian Inang melayangkan tangan kasarnya untuk menampar Indin yang menangis menjerit.
Iyha tak membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
Sebelum tangan kotor Inang sempat mendarat di pipi amaknya, Iyha menggenggam tangan Inang kuat, lalu mencampakinya, "Jangan pernah kau pukul amakku dengan tangan kotormu!" hardiknya tak kalah penuh emosi.
"Astaghfirullah, Ndin. Istighfar! Jangan bicara seperti itu." Nit menenangkan Indin yang putus asa.
Indin lelah harus selalu menghilang, sembunyi dan makhluk keparat bernama rentenir itu.
Coba saja mereka tidak meminjam uang untuk membiayai sekolah Iput yang tidak seberapa itu pasti tidak akan sebesar ini utang ditambah bunga bertarif besar yang kini menumpuk.
"Indin, keluar kau! Cepat bayar utang kau itu." Suara rentenir lintah darat itu kembali menghujam dada Indin.
Indin keluar dengan pasrah. Diikuti Iyha dan Ipuy yang kelihatan begitu takut.
"Aku tidak punya uang lagi. Terserah kau mau apakan aku. Mau bunuh sekalipun aku pasrah." ujar Indin penuh emosi, meluapkan seluruh hasrat di dada.
Iyha dan Iput hanya menangis sejadi-jadinya.
Inang yang kelihatan amat berang langsung berteriak kasar, "Apa katamu? Keparat kau, Ndin. Sialan kau!" Kemudian Inang melayangkan tangan kasarnya untuk menampar Indin yang menangis menjerit.
Iyha tak membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
Sebelum tangan kotor Inang sempat mendarat di pipi amaknya, Iyha menggenggam tangan Inang kuat, lalu mencampakinya, "Jangan pernah kau pukul amakku dengan tangan kotormu!" hardiknya tak kalah penuh emosi.
Inang tentu saja tak menerima hal itu.
Dia baru saja hendak memukul Iyha saat Tahai datang menghentikan semua itu.
Dia baru saja hendak memukul Iyha saat Tahai datang menghentikan semua itu.
Dengan sigap Tahai datang mendorong tubuh Inang dan melempar segenggam uang beberapa ratus ribu ke wajah Inang, "Pergi kau! Jangan pernah kembali ke sini lagi."
Tahai membayar semua utang pada rentenir keparat itu dengan menjual sepeda motor butut peninggalan ayahnya dulu.
Saat ini mereka lepas dari cengkraman rentenir, tapi bagaimana kelangsungan hidup keluarga mereka saat alat mata pencaharian terakhir mereka raib untuk membayar utang?
Tahai membayar semua utang pada rentenir keparat itu dengan menjual sepeda motor butut peninggalan ayahnya dulu.
Saat ini mereka lepas dari cengkraman rentenir, tapi bagaimana kelangsungan hidup keluarga mereka saat alat mata pencaharian terakhir mereka raib untuk membayar utang?
***
[Cerpen lain dari Vera Yuliana:
1. Bararak

Post a Comment