Nggak Tau Apa yang Harus Kutulis

(Penulis: Fajria Maulida)

-----

Gambar/ Google Search
Disudut ruangan yang biasanya kumencurahkan semua fikiranku, di sana aku duduk termenung di atas kursi dan meja dan secarik kertas yang selalu menemaniku, tak tau apa yang akan kulakukan, aku belum juga mendapatkan ide untuk tulisanku, aku masih kebingungan apa yang akan ku tulis dalam secarik kertas ini.

“Hanya sebuah cerita pun aku tak bisa” dengan nada lesu aku menengadahkan kepalaku ke langit-langit kamar, aku masih kebingungan. 

Jari-jemari tanganku masih belum juga menari di atas secarik kertas ini, sejenak kutinggalkan ruangan ini pergi mengambil makanan dan kembali duduk di ruangan itu. 

Kembali kumerenung sambil memakan coklat yang ada di dekatku, sedikit demi sedikit kumasukkan coklat ke dalam mulutku.

“Ahhh aku lupa,” lekas kuberdiri dan meninggalkan ruangan itu, sejenak kukembali membawa segelas air putih, seteguk demi seteguk air kuminum, aahh lega, keningku kembali berkerut apa yang akan kutulis hanya sebuah cerita mengapa aku tak bisa menulisnya?

Lagi aku kembali memakan coklat dan minum, kemudian kuberanjak sejenak dari kursi itu dan mengambil telepon genggam yang ada di meja samping kiri, lalu berbaring sambil mengotak-atik keypad telepon genggam, kubermain dengan alat itu, membuka beberapa aplikasi tak lama kutertawa sendiri membaca tulisan-tulisan yang ada di telepon genggamku yang berwarna biru-putih itu.

Beberapa menit setelah asyik bermain telepon genggam, aku kembali mengambil secarik kertas, posisiku yang tadi berbaring berubah menjadi duduk kembali, kutersenyum, kini jari-jari tanganku mulai bergerak perlahan dari ujung kertas ke ujung yang lain, baru akan menari terdengar bunyi telepon genggamku, ternyata sahabatku Fajri menelponku.

Kembali ku menatap secarik kertas dengan tajam, jari-jari yang bergerak tadi juga ikut terhenti kembali mencoba lagi untuk menari. 

Namun tidak bisa, kukehilangan pelangi imajinasiku, sebab gangguan kecil dari sahabatku.

Aku menatap kembali tulisan yang ada di atas kertas itu, dan kembali kuhapus, aahh kesal sekali aku terhadap gangguan dari sahabatku tadi, kertas yang kembali putih itu benar-benar membuat keningku berkerut. 

Harus gimana lagi ini?

Ingin segera aku menyelesaikan tulisan meski belum ada yang tertera. 

Dalam renungan tiada henti, aku mencari sebuah ide cemerlang. Apa yang akan kutulis? 

Kusut sudah mukaku, penuh dengan kerutan dan kekesalan. 

“Ide apa ya?” seperti orang gila aja ku-berbicara sendiri. 

Susah payahku memutar otak, mencari kisah serta cerita hanya untuk dibubuhkan dalam secarik kertas putih itu. 

Namun apa daya, empuknya tempat yang kududuki itu membuatku ingin beristirahat sejenak, menenangkan pikiran yang penat, dalam lelapku mengarungi pulau samudra, aku memimpi bahwa tulisan yang kubuat ini menjadi Best Seller tahun ini, mungkin tersenyum raut wajahku ketika itu.

Begitu dalam aku mengarungi pulau samudra sehingga suara derasnya hujan dan petir tak sanggup membangunkan diriku.

Satu jam berlalu aku terbangun, seketika itu aku termenung, kuambil secarik kertas yang berada di atas meja di samping ku, kemudian kuletakkan di hadapanku. 

Sejenak berfikir seraya menatap kembali kertas putih dan menutup mata beberapa detik, kuregangkan otot-otot tubuhku, kuusap mata dengan kedua tangan, ku detuk-detukkan jemari tangan diikuti dengan detukan leher ke kiri dan ke kanan, lalu kutundukkan kepala. 

Dan mulutku berkomat-kamit seperti orang berdo'a lalu kuangkat lagi kepalaku, dan melihat ke langit-langit ruangan itu, dan kupandang seperti memandang langit, kubayangkan sebuah kisah yang pernah kulalui, terkekeh sejenak dalam bayangan. 

Kuambil kembali gelas yang berisi air di atas meja, kuminum secara perlahan.

“Bismillah,” kumemulai tarian jemariku perlahan tapi pasti, tarian itu mulai menghasilkan satu kata begitu seterusnya hingga terbentuk sebaris kalimat yaitu “Nggak tau apa yang harus ku tulis” kemudian kutebalkan tulisan itu, ya itulah judul tulisanku. 

Aku tersenyum bahagia.

Tidak ada komentar