Sunset di 18:7 Menit

(Penulis: Fajria Maulida*)

-----

Ilustrasi: Sunset/FOTO. timeanddate.com

Hari itu aku terpaku, duduk terdiam di bawah sebatang pohon yang rindang. Panas begitu terik sekali, membuatku lelah untuk melanjutkan perjalanan. 

Memang sih kos-kosanku tak terlalu jau(h) dari kampus. Tapi, aku lebih memilih untuk duduk sejenak di bawah pohon itu. Menuang asa lewat aksara agar aku bisa sedikit tenang. 

Menghilangkan sedikit dari kegelisahan yang slalu mengganggu pikiranku.

Sesaat, terlintas dalam benakku suara serak ibu berkata, “Nak, belajarlah kamu dengan baik-baik, apa saja akan ibu lakukan untuk membiayai kuliahmu. Ibu hanya ingin kau menjadi mahasiswa berprestasi dan kelak akan diwisuda dengan nilai yang memuaskan!” Kata-kata ibu langsung terhenti dengan batuknya yang sering muncul.

Sekarang aku sudah menginjak semester lima, namun sedihnya, aku sering tidak masuk jam kuliah.

Waktu kuhabiskan buat nongkrong bersama teman-teman geng motorku. “Rino, loe kuliah juga nanti gak bakalan dapat kerjaan langsung, ngapain capek-capek kuliah coba, mending loe balapan sama kita-kita nih, dapat duit juga kan dari hasil taruhan, lumayan lho.” Begitulah teman-teman menggodaku.

Memang sih mereka tak punya kerjaan lain. Kerjaannya cuma balapan, nongkrong, tak ada ubahnya dari (hari) ke hari. Aku selalu termakan ajakan mereka selama ini.

Rasa sesalku datang, teringat wajah teduh ibu, daging yang mulai keriput dimakan usia, beliau tetap bekerja tak pernah kenal kata lelah agar aku bisa menjadi seorang sarjana.

Aku adalah anak semata wayang . Jadi, beliau sangat sayang kepadaku. Semenjak bapak pergi meninggalkan kami, beliaulah yang banting tulang untuk mencari hidup.

Bapak entah pergi ke mana. Beliau meninggalkan kami semenjak aku masih kelas tiga SMP, dan sekarang tak tahu di mana rimbanya.

Aku benar-benar menyesal. Menyesal dengan tingkah lakuku selama ini. Padahal ibu mengira aku kuliah dengan serius.

Tapi nyatanya tidak.

Dulu aku termasuk anak yang berprestasi di sekolah. Aku selalu menjadi juara kelas dari SD hingga SMA. Tapi sekarang, Rino yang dulu slalu ibu bangga-banggakan, sekarang sudah tidak ada lagi.

Aku kesal dengan diriku sendiri. Tak terasa air mata sudah menganak di pipi. Aku tak tampak seperti anak geng motor yang tak kenal air mata.

Kesal yang mendalam, yang terbayang hanya wajah iba ibu yang jauh di sana. Aku meremas jemari sekuat mungkin dan bertekad bahwa aku akan keluar dari geng motor dan mencoba untuk mulai serius dengan kuliahku yang hanya tinggal dua semester lagi.

Hari semakin sore, waktuku habis dengan lamunan panjang tentang ibu.

Matahari kini bersinar menenangkan, bertepatan dengan pukul 18 lewat 7 menit.

Embed from Getty Images

Tak berapa lama lagi, matahari akan segera menenggelamkan diri.

Aku berdiri, menghadap matahari yang hampir tenggelam tersebut dan berkata dengan lirih bahwa satu tahun lagi aku harus menjadi seorang sarjana teknologi informasi yang slama ini ibu harapkan. Aku berjanji.

Satu tahun berlalu, aku habiskan hanya untuk menghadapi kuliahku saja, demi ibu.

-----

Semua demi ibu. Satu minggu lagi aku akan diwisuda. Aku mengirim surat untuk ibu, aku ingin melihat ibu di hari wisudaku. Aku ingin membuat beliau bangga.

Setelah dua hari surat balasan dari ibu datang, belau meminta maaf kepadaku karna tidak bisa hadir mendampingiku wisuda.

Katanya, beliau agak sedikit demam dan suka pusing kalau lagi berjalan. Dokter menyarankan agar beliau tidak pergi ke mana-mana untuk beberapa hari ini.

Aku sedih, benar-benar sedih. “Bagaimana bisa aku diwisuda tanpa senyuman indah mentariku??” Hatiku bertutur meski hanya telingaku saja yang mendengar.

Aku tak tahu mungkinkah jangkrik malam tahu bagaimana rasa sedihku? karna yang terdengar, mereka hanya bernyanyi di atas luka yang kurasakan, kuyakini saja jika memang mereka tak mengerti.

Aku juga tak bisa memaksa ibu meski sebenarnya aku slalu berharap. Kemudian aku tuliskan surat balasan untuk ibu bahwa jika aku selesai diwisuda nanti, aku akan segera pulang, dan ibu pasti sangat bangga denganku.

-----

Hari di mana aku diwisudapun datang, semua terlihat bahagia karna pada akhirnya bisa menobatkan diri sebagai sarjana. Begitu pula denganku yang kini telah menjadi apa yang diharapkan ibu dengan nilai yang sangat memuaskan 3,9. Aku menjadi mahasiswa dengan lulusan terbaik.

Sore itu juga, kukemas barang-barangku tanpa peduli rasa lelah yang menyelimutiku hari ini. Aku ingin segera kembali ke kampung halaman dengan ijazah dan medali yang akan kuserahkan kepada ibu.

Aku pulang dengan penuh rasa bahagia yang berapi-api.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, aku sudah hampir tiba di halaman rumah kami yang masih tampak seperti dulu.

Tapi, kali ini suasananya berbeda. Kukira ibu mengundang semua tetangga untuk menyambut kehadiranku.

Mereka begitu ramai hingga aku kesulitan memasuki rumah. Wajah mereka yang tak sedikitpun menunjukkan rasa suka membuatku bingung.

Ternyata, mereka datang bukan untukku. Tapi untuk menjenguk ibu yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya hari ini.

Aku sangat terpukul, lidahku kalu (keluh) tak bisa berucap apapun, tanganku gemetar menahan pilu yang menghujam seketika.

Semua bercampur aduk dalam perasaanku. Seharusnya ibu melihatku yang sudah mewujudkan harapannya slama ini, tapi sekarang kenapa dia malah pergi???

Tak ada yang kuharapkan hari ini selain rasa bangga ibu. Tapi kini semua hanya tinggal harapan. Ibu sudah pergi duluan sebelum tahu aku adalah harapan yang selama ini hendak beliau wujudkan.

Aku melepas ibu dengan luka yang sangat mendalam. 18,7 menit, ibu memasuki alam yang baru, air mataku tak henti mengalir, mengalir tanpa ada harapan bahwa ibu akan kembali satu detik saja.

Sekarang, matahari hampir tenggelam. Seiring tenggelamnya mimpiku untuk mewujudkan harapan ibu, dan tenggelamnya matahariku di bumi. "IBU".

------

[*Fajria Maulinda saat ini tercatat sebagai seorang mahasiswa Pendidikan Matematika angkatan 2015 di IAIN Batusangkar. Penulis lahir di Bukittinggi.]

Tidak ada komentar