Empat Puluh Tahun Bahagia
(Cerpenis: Haldi Patra*)
_____
![]() |
| Happines/Ilustrasi: schoolsplus.co.uk |
Sudah seminggu jenazah Hasan dikebumikan pada pandam perkuburan keluarga mendiang, di mudik sana.
Sungguh, berat hati Nimar mengiyakan saat keluarga mendiang meminta agar Hasan, dibawa ke tempat dimana beberapa orang dalam keluarga besarnya juga telah dikubur di sana.
Dengan begitu, tentu Nimar tidak akan bisa bertemu Hasan setiap saat dia rindu.
Dengan begitu, tentu Nimar tidak akan bisa bertemu Hasan setiap saat dia rindu.
Mudik berada belasan kilometer di hulu sungai, dimana sulit untuk bisa ditempuh seorang perempuan tua berusia enam puluh tahun lebih ini.
Mereka dulu adalah pasangan tua bersahaja yang hidup di sebuah kampung miskin dengan perantau yang kaya.
Mereka dulu adalah pasangan tua bersahaja yang hidup di sebuah kampung miskin dengan perantau yang kaya.
Takdir tidak menggariskan Nimar untuk mengandung dan melahirkan seorang anak.
Tetapi suami-istri ini tetap menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kebahagiaan, selama lebih dari empat puluh tahun.
Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa bertemu, dan menikah.
Tetapi suami-istri ini tetap menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kebahagiaan, selama lebih dari empat puluh tahun.
Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa bertemu, dan menikah.
Jarak antara hilir dan mudik –rumah Hasan dan Nimar– terpaut belasan kilometer.
Mereka tidak memiliki pertalian darah sama sekali.
Orang mudik terbiasa pergi ke hutan untuk berladang, sedangkan orang hilir telah berabad-abad melaut.
Meskipun tinggal di hilir, kampung isterinya, Hasan tidaklah pergi melaut.
Orang mudik terbiasa pergi ke hutan untuk berladang, sedangkan orang hilir telah berabad-abad melaut.
Meskipun tinggal di hilir, kampung isterinya, Hasan tidaklah pergi melaut.
Dia tetap melanjutkan bekerja di ladang. Nimar dengan senang mengikuti Hasan berladang di mudik. Disanalah mereka membuat pondok yang sederhana. Menanam kopi, cokelat, lada dan apapun yang bisa ditanam. Hasil dari berladang memang tidak seberapa.
Tidak cukup membuat kaya raya. Tetapi lebih dari cukup untuk menyambung hidup dari tahun ke tahun.
Nimar mengasuh seorang anak kakak yang masih bayi, yang disayangi seperti anaknya sendiri.
Nimar mengasuh seorang anak kakak yang masih bayi, yang disayangi seperti anaknya sendiri.
Kemanapun pergi, selalu dibawa. Pergi ke pasar, ke mesjid, ke dapur, kemanapun itu. Sebuah kain panjang dililitkan pada leher untuk menggendong si kecil yang diberi nama Yahya.
Hasan dengan bahagia mengayuh kereta angin belasan kilometer menggonceng Nimar yang menggendong Yahya. Atau Hasan yang menggendong saat menuju ladang jika berjalan kaki. Mereka senantiasa berbahagia dalam kehidupan yang bersahaja.
Setiap kenalan yang ditemui di jalan selalu memuji kulucuan Yahya, dan terharu dengan kebahagiaan yang terlihat dalam rumah tangga Hasan dan Nimar.
Hasan dengan bahagia mengayuh kereta angin belasan kilometer menggonceng Nimar yang menggendong Yahya. Atau Hasan yang menggendong saat menuju ladang jika berjalan kaki. Mereka senantiasa berbahagia dalam kehidupan yang bersahaja.
Setiap kenalan yang ditemui di jalan selalu memuji kulucuan Yahya, dan terharu dengan kebahagiaan yang terlihat dalam rumah tangga Hasan dan Nimar.
Orang-orang yang tidak benar-benar mengenali mereka, menaruh hormat atas keharmonisan keluarga ini. Sedangkan Muni, seakan sudah ikhlas dengan anak kandungnya, diasuh dan sudah dianggap sebagai anaknya sendiri oleh Nimar.
Satu atau dua kali setahun aku berkunjung ke rumah di hilir itu selama satu atau dua jam. Kami duduk di beranda rumah panggung.
***
Satu atau dua kali setahun aku berkunjung ke rumah di hilir itu selama satu atau dua jam. Kami duduk di beranda rumah panggung.
Minum kopi, makan kue-kue kering, lemang, atau buah-buahan seperti jambu, nangka, durian, atau rambutan yang dipetik di kebun.
Kami berbincang-bincang tentang masa yang telah lewat. Menyeberangi sungai tanpa jembatan, di kejar-kejar celeng, rusa sudah semakin sulit untuk ditemukan, pergi sekolah dengan berjalan kaki sejauh belasan kilometer pulang pergi, atau hal-hal lainnya.
Perbincangan yang paling membuat aku tertarik adalah saat menyinggung nama-nama orang lama. Seperti Ali, Harun, Saf, Inan, Ikas, Ipit, Burhan, dan berbagai nama orang-orang lama yang sudah sangat jarang kita temui lainnya pada anak-anak muda sekarang ini.
Kami berbincang-bincang tentang masa yang telah lewat. Menyeberangi sungai tanpa jembatan, di kejar-kejar celeng, rusa sudah semakin sulit untuk ditemukan, pergi sekolah dengan berjalan kaki sejauh belasan kilometer pulang pergi, atau hal-hal lainnya.
Perbincangan yang paling membuat aku tertarik adalah saat menyinggung nama-nama orang lama. Seperti Ali, Harun, Saf, Inan, Ikas, Ipit, Burhan, dan berbagai nama orang-orang lama yang sudah sangat jarang kita temui lainnya pada anak-anak muda sekarang ini.
Beberapa yang tersebut masih hidup, sebagian lagi sudah meninggal, sedangkan sisanya tidak diketahui lagi rimbanya.
Yahya sedang bekerja memetik buah kelapa sawit di ladang saat Hasan menghembuskan nafas terakhirnya.
***
Yahya sedang bekerja memetik buah kelapa sawit di ladang saat Hasan menghembuskan nafas terakhirnya.
Jaringan telepon tidak menjangkau ladang tempatnya bekerja. Sehingga sudah sangat terlambat saat Yahya mengetahui bahwa ayah angkat yang lebih disayangi melebihi ayah kandung ini sudah tiada.
Bahkan, kabar duka ini, baru didapati Yahya setelah Hasan dikubur.
Bahkan, kabar duka ini, baru didapati Yahya setelah Hasan dikubur.
Sungguh pastinya besar sekali sesal karena tidak bisa bertemu sang ayah untuk terakhir kali. Sungguhpun dia tidak menyangka, padahal tiga bulan lalu ayah masih sehat walafiat.
Menurut cerita Nimar saat menelepon Yahya, Hasan mulai sakit sepulang dari ladang sekitar dua bulan yang lalu.
Menurut cerita Nimar saat menelepon Yahya, Hasan mulai sakit sepulang dari ladang sekitar dua bulan yang lalu.
Rakit yang Hasan tumpangi karam di tengah sungai, dan semenjak itulah dia mulai sakit-sakitan.
“Tidak usah pulang! Sakit ayahmu tidak terlalu parah,” kata Nimar saat akan menutup sambungan telepon.
Yahya mendapat pekerjaan yang bagus sebagai buruh pemetik buah kelapa sawit di sebuah daerah dimana perkebunan kelapa sawit terhampar sejauh mata memandang.
“Tidak usah pulang! Sakit ayahmu tidak terlalu parah,” kata Nimar saat akan menutup sambungan telepon.
Yahya mendapat pekerjaan yang bagus sebagai buruh pemetik buah kelapa sawit di sebuah daerah dimana perkebunan kelapa sawit terhampar sejauh mata memandang.
Seorang isteri, dua orang anak, dan upah yang bagus.
Kehidupan mereka sudah sangat bahagia tanpa harta yang melimpah.
Sekali setahun Yahya mengusahakan untuk pulang bertemu ayah dan ibu angkatnya, Hasan dan Nimar. Membelikan sepotong pakaian, atau berkaleng-kaleng roti setiap kali pulang.
Orang tua kandung Yahya sendiri seakan sudah ikhlas, dan berbangga hati melihat Yahya berbakti kepada orang tua angkatnya.
Sekali setahun Yahya mengusahakan untuk pulang bertemu ayah dan ibu angkatnya, Hasan dan Nimar. Membelikan sepotong pakaian, atau berkaleng-kaleng roti setiap kali pulang.
Orang tua kandung Yahya sendiri seakan sudah ikhlas, dan berbangga hati melihat Yahya berbakti kepada orang tua angkatnya.
Sungguh, Hasan dan Nimar sangat berhak untuk menerima kasih sayang yang tulus dari Yahya. Semua orang di kampung selalu saja bahagia melihat keluarga ini.
Hasan dan Nimar yang bersahaja, dan Yahya seorang anak yang berbudi.
Selesai Magrib menerima kabar duka, Nimar tidak memberi izin Yahya untuk pulang malam itu.
“Besok saja kau pulang! Ini sudah malam. Terlalu berbahaya. Kirimkan do’a untuk ayah. Mendiang lebih membutuhkannya,” kata Nimar dengan tangisan.
Dengan sangat berat hati Yahya menurut perkataan sang ibu.
Aku mengunjungi rumah panggung di bengkolan tempat Hasan dan Nimar tinggal.
Selesai Magrib menerima kabar duka, Nimar tidak memberi izin Yahya untuk pulang malam itu.
“Besok saja kau pulang! Ini sudah malam. Terlalu berbahaya. Kirimkan do’a untuk ayah. Mendiang lebih membutuhkannya,” kata Nimar dengan tangisan.
Dengan sangat berat hati Yahya menurut perkataan sang ibu.
***
Aku mengunjungi rumah panggung di bengkolan tempat Hasan dan Nimar tinggal.
Nimar dan Muni sedang bermenung di beranda saat kami sampai. Mereka menyilahkan naik ke rumah, lalu kami duduk diberanda. Teh manis hangat di hidangkan bersama kue-kue kering dan buah-buahan seperti tahun-tahun yang telah lalu.
Nimar memandangi kursi kosong itu, seakan dia masih melihat Hasan masih mendudukinya.
Nimar memandangi kursi kosong itu, seakan dia masih melihat Hasan masih mendudukinya.
Di sanalah dia memilih tempat untuk bersantai dan bermenung pada senja menunggu waktu magrib.
Dari sana dia mengamati anak-anak kecil, yang dia izinkan bermain-main di pekarangan rumahnya.
Dari sana dia mengamati anak-anak kecil, yang dia izinkan bermain-main di pekarangan rumahnya.
Di beranda itu pulalah dia selalu menerima kedatangan tamu selama dua puluh tahun terakhir.
Kursi di sudut beranda itu ibarat singgasana bagi Hasan yang kini justru memberikan kenangan pilu setelah kepergiannya.
Aku memandangi rumah panggung yang terlihat bersih ini.
Kursi di sudut beranda itu ibarat singgasana bagi Hasan yang kini justru memberikan kenangan pilu setelah kepergiannya.
Aku memandangi rumah panggung yang terlihat bersih ini.
Papan kayunya diminyaki sehingga tetap mengkilat walaupun sudah berumur puluhan tahun.
Begitu juga lantai semen yang mengkilat dimana Hasan dulu pernah dengan bangga berkata bahwa kau bisa becermin di lantai rumahnya.
Pekarangan rumah terlihat cantik dengan berbagai tanaman yang tumbuh.
Bermacam-macam pakaian sedang digantung di jemuran. Hatiku bergetar melihat tiga potong baju batik dan satu potong baju gunting Cina tergantung disana.
Sebisa mungkin aku mencoba untuk tetap tegar. Tetapi itu benar merupakan suatu hal yang sulit.
Bermacam-macam pakaian sedang digantung di jemuran. Hatiku bergetar melihat tiga potong baju batik dan satu potong baju gunting Cina tergantung disana.
Sebisa mungkin aku mencoba untuk tetap tegar. Tetapi itu benar merupakan suatu hal yang sulit.
Terlebih saat aku menyadari gelas yang dihidangkan Nimar di meja berjumlah lima, sedangkan kami hanya berempat. Dan gelas minum itu terhidang tepat di depan kursi di sudut beranda tempat biasanya Hasan duduk.
Dengan bangga perempuan tua itu membahas kopi yang tiga bulan lalu panen besar dan memuji Hasan, karena sangat pandai berladang.
Dengan bangga perempuan tua itu membahas kopi yang tiga bulan lalu panen besar dan memuji Hasan, karena sangat pandai berladang.
Namun sekarang ladang itu mungkin sudah bersemak karena tidak lagi diurusi.
“Ladang di mudik itu tidak akan lagi bersih dan menghasilkan kopi dalam jumlah yang banyak,” katanya, dan dia kemudian terdiam untuk beberapa lama dengan air muka yang tampak sedih memandang kopi yang sedianya akan dia hidangkan kepada Hasan yang biasanya duduk di kursi itu.
______
(*) Haldi Patra merupakan penulis buku Kita Tertawa, dikenal dengan nama pena H.
Cerita-cerita lainnya dari "H" bisa diikuti di blog pribadi penulis di http://haldipatra.blogspot.co.id/2017/01/, Mari Bercerita, dan di Wattpad berikut https://www.wattpad.com/user/kukang__.
Cerita-cerita lainnya dari "H" bisa diikuti di blog pribadi penulis di http://haldipatra.blogspot.co.id/2017/01/, Mari Bercerita, dan di Wattpad berikut https://www.wattpad.com/user/kukang__.

Post a Comment