Arfino Bijuangsa: "IMAPAR Milik Seluruh Mahasiswa Pariaman!"
[Penulis: Dodi Abdullah]
***
Dalam dunia kemahasiswaan yang penuh dengan gejolak darah muda berpikiran progresif tak ada yang lebih menarik dibicarakan selain pembicaraan soal organisasi beserta dinamika-dinamika di dalamnya, --yang-- bagi sebagian orang ini lebih menarik ketimbang kisah percintaan sepasang remaja.
Banyak sekali jenis-jenis dari organisasi, ada yang lingkupnya nasional, regional, hingga ke tingkat akar rumput kedaerahan; belakangan sebagian aktivis menyebutnya dengan isme baru, yakni "kampung-isme" biasanya jenis yang disebutkan terakhir ini berkembang di kota-kota besar yang banyak dihuni oleh pelajar perantauan.
Di Kota Padang, ada satu organisasi daerah yang sudah lama eksis. Daerah itu Pariaman letaknya tidak begitu jauh dari Kota Padang. Organisasi daerah ini bernama Ikatan Mahasiswa Piaman Raya (IMAPAR). Seperti dikutip dari buku karangan Fajar Rusvan "Satni Eka Putra: Lika-Liku Pengabdian dalam Syukur & Kearifan", IMAPAR berdiri sejak 1968. Dikisahkan organisasi ini dibentuk dengan tujuan "penyatuan mahasiswa asal Piaman yang sedang menimba ilmu di Kota Padang".
Dimotori oleh Satni Eka Putra.
Syahdan, suatu siang di tahun 1968 Satni Eka Putra berkunjung ke kediaman Azmi Mochtar di Jl. Bandar Olo Padang.
Setibanya di sana Satni terlibat obrolan serius dengan Mochtar, dalam obrolan Satni melemparkan ide untuk mendirikan suatu perkumpulan yang bisa menaungi aspirasi-aspirasi dari mahasiswa serta pelajar asal Pariaman yang sedang menuntut ilmu di Kota Padang.
Usulan Satni tersebut disambut dengan gembira oleh Mochtar.
Pendek kata mereka langsung bergerak mengumpulkan data-data para pelajar dan mahasiswa Pariaman di Kota Padang.
Setelah data-data terkumpul, duo motor awal organisasi ini menetapkan hari untuk berkumpul bersama. Seminggu berselang, berkumpullah anak-anak muda Pariaman ini di depan kantor Pos Indonesia.
Dalam duduk bersama ini diputuskanlah bahwa mereka (anak-anak muda Pariaman) akan mendirikan suatu organisasi, dan nama yang dipilih atas kesepakatan bersama adalah "IMAPPAR" akronim dari "Ikatan Mahasiswa Pelajar Padang Pariaman".
Dalam perkembangannya setelah didirikan sejak 2 Desember 1968 (tanggal dalam perkiraan) IMAPPAR benar-benar mampu menampung aspirasi baik mahasiswa maupun pelajar Pariaman di Kota Padang.
Organisasi ini sering membuat kegiatan-kegiatan seperti duduk bersama, pulang kampung bersama, camping, naik gunung dan sebagainya.
Seiring berjalannya waktu IMAPPAR tidak hanya sebagai wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada kekelurgaan tetapi juga sebagai wadah organisasi perjuangan yang selalu menampung aspirasi masyarakat Pariaman.
Itu dibuktikan ketika IMAPPAR memiliki peran besar atas terwujudnya Kota Madya Pariaman, tidak hanya itu IMAPPAR juga selalu melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat Pariaman.
Sekarang secara pemerintahan Pariaman terbagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, maka untuk memperluas arti yang dulunya IMAPPAR (Ikatan Mahasiswa Padang Pariaman) diganti menjadi IMAPAR (Ikatan Mahasiswa Piaman Raya).
Sehingga membuat organisasi ini sebagai milik seluruh mahasiswa Pariaman yang kuliah di luar Daerah Pariaman.
Maka dari itu Arfino Bijuangsa selaku Ketua Umum dan Mardio Padly, Sekretaris Umum IMAPAR DPD Kota Padang periode 2016-2018 mengajak seluruh mahasiswa yang berasal dari Pariaman Raya yang berkuliah di Kota Padang untuk bergabung serta membesarkan IMAPAR, karena beliau berpesan bahwa "IMAPAR adalah milik seluruh mahasiswa Pariaman".
***
![]() |
| Ketua IMAPAR Arfino Bijuangsa/FOTO. Istimewa |
Dalam dunia kemahasiswaan yang penuh dengan gejolak darah muda berpikiran progresif tak ada yang lebih menarik dibicarakan selain pembicaraan soal organisasi beserta dinamika-dinamika di dalamnya, --yang-- bagi sebagian orang ini lebih menarik ketimbang kisah percintaan sepasang remaja.
Banyak sekali jenis-jenis dari organisasi, ada yang lingkupnya nasional, regional, hingga ke tingkat akar rumput kedaerahan; belakangan sebagian aktivis menyebutnya dengan isme baru, yakni "kampung-isme" biasanya jenis yang disebutkan terakhir ini berkembang di kota-kota besar yang banyak dihuni oleh pelajar perantauan.
Di Kota Padang, ada satu organisasi daerah yang sudah lama eksis. Daerah itu Pariaman letaknya tidak begitu jauh dari Kota Padang. Organisasi daerah ini bernama Ikatan Mahasiswa Piaman Raya (IMAPAR). Seperti dikutip dari buku karangan Fajar Rusvan "Satni Eka Putra: Lika-Liku Pengabdian dalam Syukur & Kearifan", IMAPAR berdiri sejak 1968. Dikisahkan organisasi ini dibentuk dengan tujuan "penyatuan mahasiswa asal Piaman yang sedang menimba ilmu di Kota Padang".
Dimotori oleh Satni Eka Putra.
Syahdan, suatu siang di tahun 1968 Satni Eka Putra berkunjung ke kediaman Azmi Mochtar di Jl. Bandar Olo Padang.
Setibanya di sana Satni terlibat obrolan serius dengan Mochtar, dalam obrolan Satni melemparkan ide untuk mendirikan suatu perkumpulan yang bisa menaungi aspirasi-aspirasi dari mahasiswa serta pelajar asal Pariaman yang sedang menuntut ilmu di Kota Padang.
Usulan Satni tersebut disambut dengan gembira oleh Mochtar.
Pendek kata mereka langsung bergerak mengumpulkan data-data para pelajar dan mahasiswa Pariaman di Kota Padang.
Setelah data-data terkumpul, duo motor awal organisasi ini menetapkan hari untuk berkumpul bersama. Seminggu berselang, berkumpullah anak-anak muda Pariaman ini di depan kantor Pos Indonesia.
Dalam duduk bersama ini diputuskanlah bahwa mereka (anak-anak muda Pariaman) akan mendirikan suatu organisasi, dan nama yang dipilih atas kesepakatan bersama adalah "IMAPPAR" akronim dari "Ikatan Mahasiswa Pelajar Padang Pariaman".
Dalam perkembangannya setelah didirikan sejak 2 Desember 1968 (tanggal dalam perkiraan) IMAPPAR benar-benar mampu menampung aspirasi baik mahasiswa maupun pelajar Pariaman di Kota Padang.
Organisasi ini sering membuat kegiatan-kegiatan seperti duduk bersama, pulang kampung bersama, camping, naik gunung dan sebagainya.
Seiring berjalannya waktu IMAPPAR tidak hanya sebagai wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada kekelurgaan tetapi juga sebagai wadah organisasi perjuangan yang selalu menampung aspirasi masyarakat Pariaman.
Itu dibuktikan ketika IMAPPAR memiliki peran besar atas terwujudnya Kota Madya Pariaman, tidak hanya itu IMAPPAR juga selalu melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat Pariaman.
Sekarang secara pemerintahan Pariaman terbagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, maka untuk memperluas arti yang dulunya IMAPPAR (Ikatan Mahasiswa Padang Pariaman) diganti menjadi IMAPAR (Ikatan Mahasiswa Piaman Raya).
Sehingga membuat organisasi ini sebagai milik seluruh mahasiswa Pariaman yang kuliah di luar Daerah Pariaman.
Maka dari itu Arfino Bijuangsa selaku Ketua Umum dan Mardio Padly, Sekretaris Umum IMAPAR DPD Kota Padang periode 2016-2018 mengajak seluruh mahasiswa yang berasal dari Pariaman Raya yang berkuliah di Kota Padang untuk bergabung serta membesarkan IMAPAR, karena beliau berpesan bahwa "IMAPAR adalah milik seluruh mahasiswa Pariaman".

Post a Comment