Aku Benci Penyair Hari Ini
(Gubahan: D)
___________
![]() |
| Ilustrasi;Pinterest |
Namaku Rohana, istri dari seorang penyair yang cukup tenar di kota kelahiranku. Sebagai seorang istri aku tak tampak seperti seorang istri yang semestinya.
17 Februari tahun ini usia pernikahanku dengannya genap 7 tahun.
Sebab aku hampir tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana memiliki suami. Lebih-lebih bersama suami yang tidak bisa memberikanku keturunan. Payah.
Dulu aku begitu beruntung bisa menikah dengan seorang laki-laki yang sangat puitis seperti dia.
Dulu aku begitu beruntung bisa menikah dengan seorang laki-laki yang sangat puitis seperti dia.
Laki-laki yang menghujaniku kalimat-kalimat cinta terbaik saban detik. Sekarang dia laki-laki monoton yang pernah aku temui.
Untuk urusan yang paling sederhana saja dia tidak bisa memutuskan sendiri, selalu aku yang ambil keputusan. Payah.
17 Februari tahun ini usia pernikahanku dengannya genap 7 tahun.
Usia yang penuh gairah bagi perempuan seusiaku, harusnya. Tapi, bagaimana denganku? Aku hanya istri seorang laki-laki yang puitis.
Ah, aku jadi sadar jika hidup itu tidak butuh kata-kata, hidup hanya butuh pengakuan. Bukan begitu?
Aku masih ingat waktu pertama kali kau mengenalku. Meski bagiku hari itu menjadi penyesalan yang terburuk.
Aku masih ingat waktu pertama kali kau mengenalku. Meski bagiku hari itu menjadi penyesalan yang terburuk.
Aku jadi geli jika mengingat hari itu. Harusnya tuhan tidak usah saja menakdirkanmu lahir di dunia yang harusnya indah ini.
Baiklah tidak ada takdir yang berada dalam kendali manusia.
Dan tentang hari itu, aku tidak ingin menjadi orang yang munafik.
Kau hari itu sangat berlebihan dengan segala kesederhanaanmu. Lain kali kuingin kau jangan lagi seperti itu, aku takut akan ada orang sepertiku yang akan terpukau tanpa sebab.
Apa yang membuat kita saling jatuh hari itu?
Apa yang membuat kita saling jatuh hari itu?
Kau bilang itu keajaiban. Bagiku itu jawaban terburuk dari pecundang terbaik.
Tahu apa kau soal keajaiban. Lalu, apa yang kualami ini juga keajaiban bagimu?
Kukira kau harus ubah cara pandangmu, kehidupan tidaklah sepuitis anggapanmu. Zaman tidak sekolot yang kau kira.
Tapi aku sungguh tidak ingin berdusta padamu.
Tapi aku sungguh tidak ingin berdusta padamu.
Sejak pertemuan itu hingga tahun kedua pernikahan kita, aku begitu tercurah padamu. Tak ada lagi wajah laki-laki yang melintas di benakku.
Semua kata terburuk yang mungkin aku ucapkan padamu luber bersama kalimat cinta yang kau tinggalkan di selimutku saban hari.
“Istriku yang baik, maafkan atas kepengecutanku hari ini,” bisikmu seperti orang bodoh yang mengira aku masih tertidur. Demikian berulang setiap pagi.
“Istriku yang baik, maafkan atas kepengecutanku hari ini,” bisikmu seperti orang bodoh yang mengira aku masih tertidur. Demikian berulang setiap pagi.
Dulu tak jadi soal bagiku.
Aku bisa terima kebodohan itu. Sudah semestinya seorang istri seperti itu. Tak ada seorang istri pun yang mau menempatkan laki-lakinya pada posisi terburuk. Demikian juga aku. Dulu.
Bukan soal kebodohanmu dengan kalimat puitismu yang menyesak telingaku saban hari itu yang membuatku pusing.
Bukan soal kebodohanmu dengan kalimat puitismu yang menyesak telingaku saban hari itu yang membuatku pusing.
Tapi ketidaksanggupanmu memberikanku keturunan yang begitu mengganjal di hidupku. Apakah semua laki-laki yang suka bermain kata-kata semuanya lemah sepertimu? Aku kira tidak.
Andai saja sebelum kau mengucapkan ijab kabul, menjabat erat tangan bapakku, aku paksa kau membuat kesepakatan.
Andai saja sebelum kau mengucapkan ijab kabul, menjabat erat tangan bapakku, aku paksa kau membuat kesepakatan.
Jika nantinya akan terjadi seperti ini, kau akan mengizinkanku untuk menikah lagi. Mencari laki-laki yang mampu menafkahiku lahir batin.
Aku tak mempersoalkan jika kau sampai hari ini tidak mampu menafkahiku dengan layak secara materi.
Aku tak mempersoalkan jika kau sampai hari ini tidak mampu menafkahiku dengan layak secara materi.
Tak kau beri pun, gajiku cukup untuk menghidupi kita, bahkan masih ada lebihnya untuk membelikanmu deodoran dan minyak wangi.
Aku insaf benar gaji seorang yang menjual tulisan tidak pernah layak di negeri ini.
Aku insaf benar gaji seorang yang menjual tulisan tidak pernah layak di negeri ini.
Dari dulu aku sudah tidak ambil pusing soal itu. Tapi, bukan berarti kau boleh meniduriku secara gratis. Ada harga yang perlu kau bayar. Harga yang sampai hari ini tidak mampu kau sanggupi.
Tak masalah jika hari ini aku terlihat buruk di hadapanmu.
Tak masalah jika hari ini aku terlihat buruk di hadapanmu.
Aku sudah muak tampil manis di hadapan laki-laki yang tidak bisa mengurus rambutnya sendiri. Untuk urusan kumis saja harus aku yang menata.
“Maaf jika aku merepotkanmu istriku,” katamu dengan enteng.
Kalau saja waktu itu kau tahu aku sangat direpotkan oleh keberadaanmu.
“Maaf jika aku merepotkanmu istriku,” katamu dengan enteng.
Kalau saja waktu itu kau tahu aku sangat direpotkan oleh keberadaanmu.
Tapi, aku tidak sampai hati mengatakannya. Kau sudah tahu bukan soal ucapan seorang perempuan.
Kau sudah insaf soal gerak perempuan yang tak suka berterus terang bukan? Harusnya kau sudah memahami istrimu ini suamiku.
Kukira ini puncak dari segala sedak yang tertahan. Mesti aku apa kan lagi egoku ini. Sekerat hatiku ingin memaafkan ketidaksanggupanmu, sekeratnya lagi ingin mencampakkan dirimu yang tak berguna.
Kukira ini puncak dari segala sedak yang tertahan. Mesti aku apa kan lagi egoku ini. Sekerat hatiku ingin memaafkan ketidaksanggupanmu, sekeratnya lagi ingin mencampakkan dirimu yang tak berguna.
Aku bukanlah wanita yang bisa kau suruh ini dan itu tanpa alasan. Dan alasan terbaikmu saat ini belum kudapati.
Aku tak paham dengan dirimu, tiap kali aku maki tiap itu pula kau tak peduli.
Adakah kau mempunyai harga diri. Kau itu laki-laki. Harga diri harusnya menjadi nomor satu bagi seorang laki-laki.
Aku pikir kau wanita yang terperangkap di tubuh laki-laki. Begitu malang perempuan itu salah memilih tubuh. Payah.
Sudah habis pengharapanku pada laki-laki lembek sepertimu.
Sudah habis pengharapanku pada laki-laki lembek sepertimu.
Aku kira kau bisa melindungiku dengan kata-katamu. Aku kira kau bisa paham kata-kataku yang tak terucap. Paham kehausan seorang perempuan yang merindukan keturunan. Paham akan perempuan yang ingin juga seperti istri orang lain. Sibuk mengurusi anak; mengganti popok atau mengantar lalu menjemput anak sepulang sekolah barangkali. Apa kau paham itu?
Aku ingat sekali di awal-awal pernikahan dulu, kau bercerita tentang keluarga yang hidup di tepian bukit. Punya anak empat atau lima. Punya lahan pertanian kecil di belakang rumah. “setidaknya tidak usah membeli sayur ke swalayan, cukup dipetik saja,” katamu, seingatku.
Indah memang jika kehidupan yang kujalani kini seperti ceritamu itu.
Aku ingat sekali di awal-awal pernikahan dulu, kau bercerita tentang keluarga yang hidup di tepian bukit. Punya anak empat atau lima. Punya lahan pertanian kecil di belakang rumah. “setidaknya tidak usah membeli sayur ke swalayan, cukup dipetik saja,” katamu, seingatku.
Indah memang jika kehidupan yang kujalani kini seperti ceritamu itu.
Aku lupa, ternyata aku dikawani oleh seorang laki-laki yang pintar mengarang cerita. Sementara kenyataannya hanya dongeng yang membuat anak-anak tak bisa tidur semalaman.
Aku dikawini si pembual.
Setelah begini, aku bisa apa lagi?
Setelah begini, aku bisa apa lagi?
Tentunya aku tak perlu menanyaimu karena memang kau tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan dan tanpa aku.
Sudahlah, kau mesti jadi laki-laki yang kuat. Baik di rajang tidurku, maupun di ranjang tuhan yang maha besar ini. Tidakkah kau berniat seperti itu? Setidaknya demi dirimu sendiri.
Aku bukanlah perempuan yang pandai mengingat sesuatu secara detail. Tapi, jika itu soal mengingat kelemahanmu, bisa kupastikan tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.
Aku bukanlah perempuan yang pandai mengingat sesuatu secara detail. Tapi, jika itu soal mengingat kelemahanmu, bisa kupastikan tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.
O, aku bukan tipe orang yang pendendam. Aku begini adalah atas kehendakmu.
Kau pikir ada istri yang benar-benar dendam pada suaminya. Seburuk apa pun kau, di batinku ada sedikit celah yang menyelamatkanmu. Celah itu jua yang membuatku bertahan hingga kini. Harusnya kau paham itu.
Sebenarnya aku tak sampai hati memperlakukanmu seperti seorang pesakitan yang tak bisa berbuat apa-apa. Sebagai seorang istri aku berkewajiban patuh di hadapanmu.
Sebenarnya aku tak sampai hati memperlakukanmu seperti seorang pesakitan yang tak bisa berbuat apa-apa. Sebagai seorang istri aku berkewajiban patuh di hadapanmu.
Di belakangmu itu soal lain.
Apa kau lupa, aku juga pernah jadi seorang pengarang bukan? Masihkah aku pengarang favoritmu? Tentu aku juga pandai membuat alur cerita sendiri. Tak semua cerita kubiarkan kau membacanya.
Ada cerita yang hanya untukku sendiri. Aku paling piawai dalam hal menyimpan rahasia. Hal yang tidak pandai bagimu, tak ada rahasia yang tak kau ceritakan padaku. Payah.
Mungkin kau mengira aku pendiam. Malu-malu. Berlagak manis bila berhadapan denganmu. Kau salah.
Mungkin kau mengira aku pendiam. Malu-malu. Berlagak manis bila berhadapan denganmu. Kau salah.
Manusia mana yang bisa diam jika telah begini. Sungguh amarah mengepul dalam diri. Kau kawini aku tapi tak kau beri aku keturunan.
Bukankah itu sebuah kecurangan suamiku tercinta? Laki-laki yang sangat pandai berbalas budi. Pengasih lagi sungguh penyegan.
Selama tujuh tahun pernikahan kita, mungkin cuma aku yang selalu melapangkan dada. Menerima apa yang tidak benar-benar aku perlukan.
Selama tujuh tahun pernikahan kita, mungkin cuma aku yang selalu melapangkan dada. Menerima apa yang tidak benar-benar aku perlukan.
Kau kira aku benar-benar menyukai lukisan wajah diriku yang kau lekatkan di kertas kusam itu. Senyuman kurang simetris yang kau gambar sangat menganggu pandanganku. Andai kau tidak selemah ini.
Aku jamin lukisanmu itu menjadi lukisan paling indah yang pernah kulihat.
Jangan kau anggap aku jahat. Aku hanya ingin kau sadar kalau semua ini salahmu. Seperti setiap senja yang kau habiskan sendiri. Kau lumat dengan rakus, lalu kau ludahkan ke wajahku.
"Istriku yang baik, hari ini senja tak tampak indah. Maafkan aku ya," katamu.
"Tak indah. Memang aku penduli," teriak batinku.
Lain kali jika kau mengatakan itu lagi, aku tak segan-segan menjawabnya dengan kasar. Sekasar aku memperlakukamu di ranjang.
Jangan kau anggap aku jahat. Aku hanya ingin kau sadar kalau semua ini salahmu. Seperti setiap senja yang kau habiskan sendiri. Kau lumat dengan rakus, lalu kau ludahkan ke wajahku.
"Istriku yang baik, hari ini senja tak tampak indah. Maafkan aku ya," katamu.
"Tak indah. Memang aku penduli," teriak batinku.
Lain kali jika kau mengatakan itu lagi, aku tak segan-segan menjawabnya dengan kasar. Sekasar aku memperlakukamu di ranjang.
Mungkin kau belum tahu betapa kerinduan seorang perempuan bersuami akan kehadiran keturunan. Dia mau berbuat apa saja agar bisa beranak. Demikian juga aku. Barangkali dengan menyeleweng.
Aku ingin buktikan pada semua orang, kalau bukan aku yang bermasalah. Tapi, suamiku tercintalah yang tak berdaya. Laki-laki dengan perkakas yang pesakitan. Lembek dan tumpul.
Untung saja aku masih punya cara. Meski untuk sekedar pelepas sesak dari seorang suami yang payah.

Post a Comment