Buah Harapan

FOTO.Hope/Google Images

Nama saya Robi Salam, saya sekarang duduk di kelas XI IPS di SMA N 2 Pulau Punjung. Salah satu sekolah terkenal di Dharmasraya.

Saya selalu menjalankan hidup dengan penuh semangat, sangat semangat.

Sampai-sampai semua orang di sekolah mengenal saya.

Tetapi, malah sebaliknya, saya tak begitu mengenali mereka semua.

Itu karena hobi saya yang suka dengar lagu Jepang, film Jepang, bahkan ngomong Jepang sendirian dalam perasaan.

Bahkan mereka semua memberi saya banyak nama panggilan.

Ada yang memanggil arigatou, hajimemashite, bahkan sesekali si Jepang.

Saya sangat terharu, semoga apa yang mereka sebut tentang saya, memberikan sebuah motivasi. Saya berdoa.

-----

Aku adalah orang yang mandiri, aku tak mau menyusahin orang lain.

Ketika pergi sekolah, saudara (tetanggaku) selalu gonceng pergi sekolah.

Ketika motorku rusak, aku tak juga mau untuk menumpang sama orang.

Aku lebih baik diantar sama Ayahku, karena jika kita menumpang pergi sekolah, kita tidak tahu, apakah orang tersebut ikhlas atau tidak!!

-----

Berjalannya waktu.

Pada waktu itu di sekolah.

Guruku menyuruh untuk membeli buku LKS (Lembar Kerja Siswa).

Sedangkan aku tidak meminta uang untuk membeli buku kepada Ibuku.

Aku lebih memilih membayar dengan uang sakuku untuk membeli buku LKS itu, sampai-sampai aku tidak jajan, dan setelah pulang aku langsung makan sampai kenyang. hehe!!

------

Suatu hari

Di sekolah, aku melihat ada beberapa orang teman telah membeli handphone baru dengan berbagai merk.

Aku merasa sedikit iri terhadap mereka dengan punya handphone baru itu.

"Kapan yah? Aku bisa membeli gadget baru seperti mereka," hatiku berbisik

Aku termenung di depan kelas sambil menatap bukit yang ada di hadapan kelasku.

Kapan aku bisa mempunyai hp baru seperti mereka ya, kataku dalam hati.

"Oh yah! apa salahnya aku mencoba untuk meminta sama Ayah dan Ibu untuk belikan handpone baru, siapa tahu mereka mau membelikannya. hehe. 

"Lagian kan hanphoneku ini sudah berumur 6 tahun, itupun handphone bekas punya abangku yang dia berikan waktu itu masuk SMA ini.

"Siapa tahu nanti aku meminta belikan untung-untung  mereka mau." Aku bicara sendiri.

Sesampai di rumah.

Suasana berubah.

Ternyata aku melihat Ibuku lagi nangis, aku menanyakan "ibu kenapa?"
Lalu Ibu tak menjawab, aku tak berani bilang apa mauku itu.

Teringat tugas yang tadinya dikasih oleh guruku di sekolah, lalu aku meminta uang Rp 4.000 untuk membuat tugas ke warnet.

Setelah aku mendekati Ibu, tampak mata Ibu sedang berkaca-kaca.

Aku disuruh mengambil uang yang tadi aku minta dan aku termenung, ternyata Ibu tak punya uang di dompetnya. itu membuat aku bertambah sedih.

Sekarang hari musim hujan, ayah tak dapat mencari uang dan niat awalku ingin meminta handphone baru pun telah pudar, dan aku akan bersabar menunggu waktu.

Akhirnya aku tak membuat tugas yang berikan guru di sekolah.

Sampai-sampai aku menerima sangsi dari guru, aku hanya tertunduk dan diam.

Teng, teng, teng!!!!

Bel sekolah mulai terdengar untuk istirahat pertama.

Aku mencoba untuk menyendiri di belakang sekolahku, di belakang sekolah aku melihat ada celengan yang rusak di tempat pembuangan sampah, mungkin aku bisa memperbaikinya dan membawa pulang, pikirku panjang.

Setelah memperbaiki celengan yang rusak tadi, aku mulai berpikir, kalau aku mulai untuk menabung pasti bisa beli hanphone baru, masih ada keinginan ingin beli hanphone.

Berjalannya waktu aku mulai menyisihkan uang jajanku untuk celengan baruku, bahkan 2-10 ribu dalam sehari aku relakan untuk menabung.

Ini juga untuk membuat pribadiku untuk suka menabung, dengan semangat aku selalu ingin menabung.

Esoknya, Ayahku mendapatkan uang dari hasil kerja, aku ingin mencoba bicara sama Ayah untuk keinginanku tadi.

Tapi ternyata uang itu untuk biaya kuliah abangku, dan sisanya untuk bayar hutang di bank dan membeli perlengkapan pangan.

Aku tak berani bilang sama ayah tentang kemauanku.

Aku mulai berkata di dalam hatiku paling dalam, bahwa saya bisa!!

Beli handphone baru tanpa meminta uang kepada orang tua. Akupun mengepalkan tangan seakan menjadi kuat kembali.

Setelah uang terkumpul, aku langsung membeli hp merek iPhone.

Yah, meskipun tipenya s4, tapi tak apa yang penting punya iPhone.

Sambil memandang handphone di genggamanku.

Sekarang aku mampu beli yang iPhone 4, besok ada rezki aku beli yang iPhone 8 hehehe mimpi deh beli handphone bagus, yang s4 saja lama untuk ngumpulkan duitnya.

-----

Suatu hari, aku pernah menanyakan kepada Ibu, aku ingin kuliah.

Ambil jurusan sastra Jepang, tapi dengan tegasnya Ibu tidak mengizinkanku untuk kuliah, dengan alasan biayanya tidak ada.

Apa yang dikatakan Ibu membuatku patah semangat untuk sekolah.

Aku merasa sedikit menyesal bersekolah di SMA, lebih baik dahulunya masuk SMK.

Tamat kan bisa langsung kerja, tetapi kalau SMA harus melanjutkan kuliah baru bisa bekerja. Pikiranku melebar.

Aku sedih, bahwa orangtuaku tak adil.

Abangku mampu untuk dikuliahkan, sedangkan aku jika tamat SMA nanti langsung menjadi tani.

Aku sangat sedih mendengar yang dikatakan Ibuku.

-----

Aku teringat, abangku pernah bilang, waktu malam itu ia berkata, "nanti suatu saat abang sudah tamat kuliah, lalu kerja, abang akan membayar biaya kuliahnya kamu," kata abngku kepadaku malam itu.

Aku masih ingat dengan perkataan itu.

Tapi abngku ingin Aku megambil jurusan Hukum.

Yah...dengan janji abangku, aku lebih bersemangat untuk belajar.
Aku akan menerima apa saja yang penting aku bisa menjadi Mahasiswa.


FOTO. Google Images

-----

Insya Allah suatu saat nanti, setelah menjadi sarjana hukum, dan telah bekerja, lalu aku akan mengumpulkan uang hasil kerjaku dan mengulangi kuliah kembali di luar negara (Jepang) demi mencapai cita-cita.

Aku akan bersabar.

Meskipun butuh waktu lama tak masalah.

Setelah nanti aku tamat kuliah di Jepang lalu mencari kerja, dan memiliki dua pekerjaan.

Menjadi pengacara atau bekerja di  Negara Sakura "Jepang."

Itulah yang aku harapkan selama ini.

Aku berharap tidak memakai proses seperti di atas itu, aku ingin langsung kuliah di Jepang.

Tapi tak apalah, jika abangku inginku menjadi pengacara ya akan kuikuti, karena dia yang akan membiayai nanti. whoahaha

Dan aku akan meningkatkan ilmu di bidang PKN (khususnya UUD).

"Bang, aku akan menagih janjimu itu!" Kataku sambil memandang foto abangku saat di genggamanku.

:)

Semoga tuhan mendengar semua doaku.

Amin.

---------------

Robi adalah siswa SMA Negeri 2 Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. 

Mau mengenal lebih dekat Robi, silakan klik nama berikut Robi Salam.



Tidak ada komentar