Teacher is the Best
[Penulis: Robi Salam]
======
Kali ini aku akan menceritakan sebuah pengalaman tentang seorang guru "teacher is the best".
Saat awal masuk sekolah SMA, abangku pernah mengatakan nostalgianya. Dia mengatakan di kala malam sebelum tidur. Kami bercerita sampai larut malam.
Dia bercerita pengalamannya di sekolah dan menyuruhku mencari guru yang bernama Bapak Agnes (Bukan Agnes yang ada di dalam TV lho ya) whehehe.
Dia mengatakan Bapak itu dengan "ciri-ciri berkumis, ada jenggotnya dan Bapak itu kulitnya sawo matang."
![]() |
| FOTO. Pak guru keren Agnes Riski Herman/Istimewa. |
Kata abangku Bapak itu guru terganteng di SMA itu. (Kata kebanyakan cewek-cewek bilangnya juga gitu)
Lalu abangku melanjutkan ceritanya "Jika kamu bertemu dengannya bilang kalau kamu adalah adikku" abangku mempertegaskannya.
"Guru itu cukup dekat denganku" abangku berbicara sambil angguk-angguk.
"Jika kamu sudah bertemu dengannya maka dia akan mendidik kamu dengan baik" kata abangku sambil memegang kepalaku.
Pada waktu awal saya sekolah (MOS), aku bertemu sama seorang guru, dan saya menanyakan "apakah bapak yang bernama bapak Agnes?" Tanyaku kepada guru yang di depanku.
Karena waktu aku menghampiri guru itu, "aku melihat dia mempunyai kumis dan jengot," dalam hati kuberkata.
Ternyata itu adalah bapak Arjuna, dia juga salah satu guru yang berjenggot dan berkumis.
Dan aku terus mencari, karena aku sudah berjanji sama abangku akan mencari bapak itu.
Dan aku pun mulai mencari lagi, dan saat aku berdiri di depan ruangan UKS, aku melihat seorang guru muda, aku mengira itu adalah Bapak yang diceritakan abangku malam tadi, karena dari kejauhan ia tampak tampan sekali, dan aku dengan bergegas langsung menemuinya.
Setelah aku menanyakannya persis dengan pertanyaan yang aku lontarkan kepada Bapak Arjuna tadi.
Ternyata setelah aku tahu itu bukan Bapak Agnes. Itu adalah Bang Rudi yang bertugas di UKS sekolah. Aku kira itu adalah guru yang aku cari.
Setelah masa MOS berakhir aku tidak menemui orang yang aku cari.
Saat itu, aku langsung menghubungi abangku, bahwa aku tidak dapat menemuinya.
Dalam telepon pun abangku mengatakan. "anak beliau sedang sakit, ia tak dapat hadir di sekolah," abangku menjelaskan.
"Namun untuk lain waktu beliau pasti akan hadir," abangku mulai meyakinkanku.
Dan aku dikirimkan melalui akun media sosial foto Bapak itu.
Dalam keterangan di bawah foto yang dikirimkanya, abangku menambahkan "dia adalah guru terbaik yang pernah abang temukan, dia tak pernah mengenal kata lelah, beliau selalu semangat, beliau adalah orang pintar, beliau bisa membrikan ilmu kepada anak murid yang ratusan banyaknya," kata abangku terkagum.
Waktu pun berjalan.
Istirahat ke-2 (Ishoma) Adzan pun dikumandangkan, aku bergegas ke musholah untuk melaksanakan sholat Zuhur.
Setelah selesai sholat, aku melihat seorang Bapak guru yang sedang terbaring di dalam musholah sambil meletakkan tangan di atas keningnya.
Aku melihat bapak itu, ternyata mirip yang di poto waktu malam itu, sambil memegang hp.
Tampaknya bapak itu lagi ada masalah, aku tak berani untuk ngobrol, mungkin lain kali aku akan ngobrol dengan bapak itu.
Ketika aku memposting foto dengan memegang tulisan jepang yang aku buat, ada seorang guru yang mengomentari dan mengirim pesan di Messenger dan memberiku sebuah motivasi.
Ya, ya, ya itu adalah Messenger dari Bapak yang diceritakan abangku.
Dengan nama akun Agnes Riski Herman. Di dalam messengerlah aku mulai bercengkerama dengannya.
Dahulu pada waktu aku kelas X, aku tak pernah belajar dengan beliau namun aku telah mengenal beliau.
Sekarang aku belajar dengan Guru yang dibanggakan oleh abngku.
"Guru yang super is the best"
Aku teringat kata abang waktu itu "dia adalah guru terbaik yang pernah abang temukan, dia tak pernah mengenal kata lelah, dia selalu semangat, dia adalah orang pintar" begitu ucapan abangku yang penuh makna.
"Ternyata Semua Itu Benar."
Menurut penilaianku, Bapak Agnes itu berbeda dengan guru yang lain, ia mendidik kami dengan tegas, tegas bukan berarti keras.
Ia memberikan ilmu kepada kami dengan santai tapi serius, sehingga kami sangat paham dengan ilmu yang ia berikan.
Pesan dari aku atau perwakilan untuk GURU dari siswa SMA Negeri 2 Pulau Punjung.
Kami ingin dididik dengan tegas bukan berarti keras!
Kami ingin guru memberikan ilmu kepada kami santai tapi serius.
Lalu abangku melanjutkan ceritanya "Jika kamu bertemu dengannya bilang kalau kamu adalah adikku" abangku mempertegaskannya.
"Guru itu cukup dekat denganku" abangku berbicara sambil angguk-angguk.
"Jika kamu sudah bertemu dengannya maka dia akan mendidik kamu dengan baik" kata abangku sambil memegang kepalaku.
Pada waktu awal saya sekolah (MOS), aku bertemu sama seorang guru, dan saya menanyakan "apakah bapak yang bernama bapak Agnes?" Tanyaku kepada guru yang di depanku.
Karena waktu aku menghampiri guru itu, "aku melihat dia mempunyai kumis dan jengot," dalam hati kuberkata.
Ternyata itu adalah bapak Arjuna, dia juga salah satu guru yang berjenggot dan berkumis.
Dan aku terus mencari, karena aku sudah berjanji sama abangku akan mencari bapak itu.
Dan aku pun mulai mencari lagi, dan saat aku berdiri di depan ruangan UKS, aku melihat seorang guru muda, aku mengira itu adalah Bapak yang diceritakan abangku malam tadi, karena dari kejauhan ia tampak tampan sekali, dan aku dengan bergegas langsung menemuinya.
Setelah aku menanyakannya persis dengan pertanyaan yang aku lontarkan kepada Bapak Arjuna tadi.
Ternyata setelah aku tahu itu bukan Bapak Agnes. Itu adalah Bang Rudi yang bertugas di UKS sekolah. Aku kira itu adalah guru yang aku cari.
***
Saat itu, aku langsung menghubungi abangku, bahwa aku tidak dapat menemuinya.
Dalam telepon pun abangku mengatakan. "anak beliau sedang sakit, ia tak dapat hadir di sekolah," abangku menjelaskan.
"Namun untuk lain waktu beliau pasti akan hadir," abangku mulai meyakinkanku.
Dan aku dikirimkan melalui akun media sosial foto Bapak itu.
Dalam keterangan di bawah foto yang dikirimkanya, abangku menambahkan "dia adalah guru terbaik yang pernah abang temukan, dia tak pernah mengenal kata lelah, beliau selalu semangat, beliau adalah orang pintar, beliau bisa membrikan ilmu kepada anak murid yang ratusan banyaknya," kata abangku terkagum.
***
Waktu pun berjalan.
Istirahat ke-2 (Ishoma) Adzan pun dikumandangkan, aku bergegas ke musholah untuk melaksanakan sholat Zuhur.
Setelah selesai sholat, aku melihat seorang Bapak guru yang sedang terbaring di dalam musholah sambil meletakkan tangan di atas keningnya.
Aku melihat bapak itu, ternyata mirip yang di poto waktu malam itu, sambil memegang hp.
Tampaknya bapak itu lagi ada masalah, aku tak berani untuk ngobrol, mungkin lain kali aku akan ngobrol dengan bapak itu.
Ketika aku memposting foto dengan memegang tulisan jepang yang aku buat, ada seorang guru yang mengomentari dan mengirim pesan di Messenger dan memberiku sebuah motivasi.
Ya, ya, ya itu adalah Messenger dari Bapak yang diceritakan abangku.
Dengan nama akun Agnes Riski Herman. Di dalam messengerlah aku mulai bercengkerama dengannya.
***
Sekarang aku belajar dengan Guru yang dibanggakan oleh abngku.
"Guru yang super is the best"
Aku teringat kata abang waktu itu "dia adalah guru terbaik yang pernah abang temukan, dia tak pernah mengenal kata lelah, dia selalu semangat, dia adalah orang pintar" begitu ucapan abangku yang penuh makna.
"Ternyata Semua Itu Benar."
Menurut penilaianku, Bapak Agnes itu berbeda dengan guru yang lain, ia mendidik kami dengan tegas, tegas bukan berarti keras.
Ia memberikan ilmu kepada kami dengan santai tapi serius, sehingga kami sangat paham dengan ilmu yang ia berikan.
Pesan dari aku atau perwakilan untuk GURU dari siswa SMA Negeri 2 Pulau Punjung.
Kami ingin dididik dengan tegas bukan berarti keras!
Kami ingin guru memberikan ilmu kepada kami santai tapi serius.
***
Masih cerita tentang sekolah, "Teacher is the Best" ini adalah cerpen ke-3 penulis dalam #Gerakan1000CerpenisSumbar.

Post a Comment