Cita-cita dan Kesederhanaan: Antara Pahonjean dan Majenang dalam Ingatan Seorang Budiman Sudjatmiko

FOTO. Salah satu ilustrasi dalam komik Talking about a Revolution

"Desaku, Akar Rumputku," begitu bunyi judul bab ke-2 dalam buku karya Budiman Sudjatmiko, Anak-Anak Revolusi 1.

“Hamparan kehijauan dengan udara jernih yang kontras dengan aroma kemiskinan yang menyengat itu bernama Pahonjean. Aku terlempar ke dunia ini melalui salah satu jendelanya yang bernama desa Pahonjean. Ia terletak di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Untuk mencapainya kamu harus menempuh perjalanan sejauh 242 km dari Jakarta Ibukota Negeriku,” begitulah bunyi paragraf pertama pada bab kedua tersebut.

Paragraf tersebut mengantarkan ingatan Budiman akan kehidupan orang-orang di Pahonjean. Sebuah ingatan yang kontras dalam pikiran seorang Budiman kecil. 

Waktu itu tahun 1975, tahun di mana umur Budiman sudah memungkinkan untuk masuk TK (Taman Kanak-Kanak). Setiap pagi Budiman kecil dengan pakaian rapi bersiap berangkat ke sekolah. Tapi, ada pemandangan yang selalu mengusik hati seorang Budiman kecil.

Beriringan dengan berangkatnya Budiman ke sekolah ia melihat wajah-wajah lusuh dengan pakaian seadanya. Mereka pergi ke pasar untuk membantu orang tuanya menjaga warung.

Pertanyaan yang bergejolak di kepala seorang Budiman kecil “kenapa mereka tidak pergi ke sekolah, Mbah Kakung? Apa mereka tidak ingin pintar?” begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Budiman kecil.

Mbah Kakung memandang dengan tajam dan menjawab “orang tua mereka juga ingin menyekolahkan mereka, tapi mereka tidak mampu membayar uang sekolah.”

Pemandangan-pemandangan yang dialami Budiman kecil selalu terlihat kontras dengan kehidupan dirinya. Walaupun di tengah berkecukupan seorang Budiman kecil tak menyurutkan dan membatasi ruang gerak untuk berkawan pada banyak orang.

Orang-orang di sekitar Budiman adalah orang-orang yang sederhana. Sederhana dalam busana yang mereka kenakan, juga sederhana dalam pemikiran dan mimpi-mimpinya. 

Artinya kesederhanaan mereka bukan seperti yang dikatakan Leonardo da Vinci yang pernah mengatakan bahwa "kesederhanaan merupakan bentuk kecanggihan tertinggi".

Mereka; sederhana dan kalah. Itu masalahnya!

Kontrasnya pemandangan yang dilalui oleh Budiman kecil tidak berhenti antara Pahenjoan dan Majenang saja. Cerita antara Pahenjoan dan Majenang masih ia temui sampai dewasa. Catatan itu ditulis dalam Anak-Anak Revolusi 2, yaitu semasa kuliah dan pencarian ilmu keluar negeri.

Begitu miris kita memahami antara kesederhanaan yang di maksud oleh Leonardo da Vinci antara kesederhanaan yang terjadi Pahenjoan dan Majenang. Jika kesederhanaan bentuk kecanggihan yang tertinggi, tentulah kesederhanaan ini telah melewati batas pemahaman dan pemaknaan yang dalam.

Bahwa, kesederhanaan hakiki yang telah melampaui batas duniawi, begitu pun jika kita lihat dalam konteks ilmu. Seorang yang telah berilmu tinggi akan menampilkan kesederhanaan kata yang mudah dimengerti dan dimaknai oleh semua orang. Tanpa harus mengusik orang-orang di sekelilingnya.

Tapi, kesederhanaan di Pahenjoan dan Majenang tidak seperti itu. Goresan kata yang ditulis Budiman sangat jelas mengacu kepada kondisi ekonomi yang terjadi pada saat itu. Kesederhanaan dalam berpakaian jelaslah sebuah kenyataan hidup yang sulit. Karena busana yang sederhana yang dilihat oleh Budiman beriringan dengan pemandangan anak-anak yang tidak sekolah.

Sebuah pemandangan yang kompleks anak-anak tidak bersekolah sudah pasti disebabkan oleh ekonomi yang lemah di masyarakat. Jangankan untuk bersekolah, waktu mereka hanya disibukkan dengan membantu orang tua bekerja di pasar untuk mencari uang.

Sebuah cita-cita yang tinggi akan dipengaruhi oleh realitas yang tampak. Pembentukan pola pikir di sekolah akan membantu mereka untuk merancang gagasan masa depan. 

Ruang belajar yang dipenuhi imajinasi dan perubahan menjadi labor pikir bagi anak didik untuk merancang masa depan yang mereka inginkan. Tapi, semua itu tidak bisa terjadi, mereka hanya mampu untuk bercengkerama dengan orang-orang kaya maupun orang terpelajar di pasar sekedar pembicaraan tawar menawar harga. Tidak lebih.

Kesederhanaan terkadang memang sulit dimengerti. Tapi, pada kenyataannya di negeri ini masih banyak kesederhanaan dan cita-cita yang sederhana terjadi di masyarakat akibat ekonomi yang lemah dan tidak mendapatkan pendidikan.

*

Ditulis oleh Ferdy Andika seorang pegiat sejarah di Komunitas Arus Sejarah. Saat ini penulis sedang mencari dan mendalami simbol-simbol perjuangan.

Tidak ada komentar