Lelaki Paru Baya Itu, Malaikat Tanpa Sayapku

(Penulis: Mahmudah El Gumeri*)

------


Ilustrasi. FOTO/Google Images
Di suatu ruangan yang sederhana, seorang lelaki paruh baya sedang menerangkan pelajaran. Di sudut sisi yang lainnya dalam ruangan tersebut di sebelah kanan mendekati jendela duduk seorang anak perempuan yang culun.

Anak perempuan tersebut sibuk menaikkan kacamatanya. Ukuran kacamatanya tak sesuai dengan hidungnya yang pesek.

Anak perempuan itu memperhatikan setiap inci gerak-gerik lelaki paruh baya itu. Suara yang dikeluarkan paruh baya itu tiap menyampaikan materi pembelajaran selalu diselingi sepintas suara batuk dan juga suara ingar bingar murid-murid lain, mencampurbaurkan suasana di kelas.

Anak itu merindukan sesosok perempuan, Ibunya. Entah, sejak beberapa bulan ia dan Ibunya tak lagi bertukar kabar. Dan lelaki paruh baya itu sebagai pengganti perhatian sang Ibu. 

Jika ditanya sejak kapan ia dan lelaki paruh baya itu menjadi dekat. Entahlah, sejak kapan persisnya.

Ketika lelaki paruh baya itu menjelaskan di depan kelas, ia melihat anak perempuan lugu yang sama persis dengan putrinya yang telah meninggal lima tahun lalu. 

Lelaki paruh baya itu acap kali menemukan anak perempuan itu duduk termenung memperhatikan ke arah depan. Lelaki paruh baya itu tahu persis bukan pelajaran yang ia terangkan yang mengambil alih fokus siswinya tersebut. Tetapi, alasan lain.

Saat jam pelajaran lelaki paruh baya itu berakhir, bertepatan jam pulang sekolah. Semua siswa-siswi sibuk membereskan perlengkapan alat tulis mereka ke dalam tas. Ketika semua murid yang lain sibuk, cuma anak perempuan itu yang masih betah duduk di bangkunya.

Sambil sibuk membereskan perlengkap mengajar, lelaki paruh baya itu memanggil anak perempuan itu “Cahaya?”

Anak perempuan itu masih belum bergeming. Sekali dua kali lelaki itu memanggil tetap juga anak perempuan itu tidak merespon. Entah beban seperti apa yang dipikirkannya sehingga ia benar-benar tenggelam dalam dunia khayal.

Lelaki paruh baya itu menghampiri anak perempuan itu dan menepuk pundak anak perempuan itu.

“Cahaya? Ada apa?”

Anak perempuan itu menoleh dan melihat di sekelilingnya sudah sepi hanya terdengar suara kipas angin yang usang.

“Sudah pada pulang pak?” Ujar anak perempuan yang bernama Cahaya tadi.

“Seperti yang kau perhatikan” terdengar tawa renyah dari lelaki paruh baya itu. 

“Apa yang sedang engkau pikirkan, anakku? Bapak rasa bukan mengenai materi yang bapak ajarkan. Mana mungkin materi pelajaran yang bapak sampaikan membuatmu termenung sampai sedemikian rupa ini.”

“Bukan apa-apa pak,” ujar anak perempuan itu yang mulai sibuk membereskan perlengkapan alat tulisnya.

Saat semua perlengkapan alat tulis itu masuk ke dalam tas, anak perempuan itu bangkit dari tempat duduk dan hendak pamit pulang.

“Saya hendak pamit pulang, Pak,” ujar anak perempuan itu.

Lelaki paruh baya itu hanya bisa menghela nafas. Sebelum anak perempuan itu menghilang dari pintu kelas. Lelaki paruh baya mengatakan sesuatu, “Cahaya, maukah engkau mendengar cerita tentang daun yang gugur?”

Anak perempuan tersebut berhenti dan menoleh ke arah lelaki paruh baya itu. Dalam hatinya ia ingin tahu tapi di sisi lain ia ingin pulang. 

Ia sangat mengagumi lelaki paruh baya itu. Hingga beberapa detik kemudian anak perempuan itu bersuara, “Boleh, pak.”

Lelaki paruh baya itu tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya.

“Ayo, kita berbincang sambil berjalan saja. Toh, rumah kita searah”

Anak perempuan itu tersenyum dan mengikuti langkah kaki lelaki paruh baya itu.

“Cahaya.. apa yang kau pikirkan tentang daun yang gugur? Daun yang berwarna cokelat yang harus gugur karena sang pohon tak mampu menahannya?”

Anak perempuan itu hanya diam. Lebih memilih mendengarkan kelanjutan cerita dari lelaki paruh baya itu.

“Baiklah, daun yang gugur itu belajar mengikhlaskan, anakku. Bapak tau engkau sedang berpikir mengenai Ibumu. Mengenai Ibu yang memintamu ini dan itu. Ketahuilah anakku. Seorang Ibu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, terutama anak perempuannya. Pohon itu diibaratkan semangatmu dan daun kering yang gugur itu keputusanmu. Daun yang gugur itu akan tergantikan dengan daun hijau yang cerah anakku. Maka, daun kering yang gugur itu mengikhlaskan dirinya gugur karena ia percaya akan tergantikan dengan yang lebih baik. Hidup di dunia ini hanya ada dua cara yang kita miliki kebahagiaan dan kesedihan. Dua-duanya tidak buruk anakku untuk menuju kebahagiaan kita harus menempuh yang namanya pahit kesedihan dan sebaliknya begitu. Jalanilah hidup ini dengan ikhlas maka sebaik-baiknya kehidupan saat engkau dengan seriusnya mencari ilmu anakku. Engkau akan menemukan berbagai macam pembelajaran yang mendekati kata ikhlas saat engkau tertatih-tatih menuntut ilmu, anakku."

Tak terasa anak perempuan itu telah tiba depan rumahnya.
Cerita lelaki paruh baya itu sudah melahap abis waktu perjalanan mereka.

 “Bapak pulang, anakku. Pahamilah maksud ceritaku.”

“Pak..” ujar anak perempuan itu sambil memainkan ujung jari kedua tangannya.

“Belajarlah dengan giat, anakku. Jangan terlalu kau pikirkan urusan orang dewasa. Anak perempuan harus memiliki bekal hidup yaitu ilmu pendidikan agar dikemudian hari ia tidak di remehkan, anakku."

Belum selesai anak perempuan itu menjawab. Lelaki paruh baya itu sudah beranjak pergi meninggalkan anak perempuan itu depan pagarnya.

“ Benar, pak. Jikalau orang lain bisa, mengapa Cahaya tidak bisa” ujar anak perempuan itu.

***

(*) Mahmudah El Gumeri merupakan mahasiswa Pendidikan Fisika, STKIP PGRI SUMATRA BARAT.

Tidak ada komentar