Diskusi Panel GMPP: "Mempertegas Kenapa Harus Pancasila"
(Reporter: Ferdy Andika)
Padang-- Melihat berbagai fenomena serta realita yang terjadi hari ini serta perkembangan kehidupan manusia. Ada pertarungan ideologi besar dunia yang berdampak kepada eksistensi ideologi bangsa Indonesia, yakni Pancasila.
Ideologi tersebut sebenarnya pernah dan sedang terjadi di Indonesia, yaitu: komunisme, paham radikalisme, dan liberalisme --yang menjurus kepada sekularisme dengan memisahkan faktor duniawi dan ukhrowi. Jika dibiarkan, maka akan terjadi kegoyahan terhadap nilai-nilai pancasila yang nyata-nyata tidak sama dengan pertarungan ideologi besar dunia.
Hal di atas menjadi dasar untuk Gerakan Mahasiswa Peduli Pancasila (GMPP) beserta Sikola Cafe melakukan diskusi panel dengan tema “Mempertegas, Kenapa Harus Pancasila” di ruangan Imam Bonjol LPMP Provinsi Sumatra Barat, Padang, Selasa (30/1/2018).
![]() |
| Deklarasi Pemuda "Pancasila Ideologi Bangsa". |
Ideologi tersebut sebenarnya pernah dan sedang terjadi di Indonesia, yaitu: komunisme, paham radikalisme, dan liberalisme --yang menjurus kepada sekularisme dengan memisahkan faktor duniawi dan ukhrowi. Jika dibiarkan, maka akan terjadi kegoyahan terhadap nilai-nilai pancasila yang nyata-nyata tidak sama dengan pertarungan ideologi besar dunia.
Hal di atas menjadi dasar untuk Gerakan Mahasiswa Peduli Pancasila (GMPP) beserta Sikola Cafe melakukan diskusi panel dengan tema “Mempertegas, Kenapa Harus Pancasila” di ruangan Imam Bonjol LPMP Provinsi Sumatra Barat, Padang, Selasa (30/1/2018).
"Agar Pancasila tidak kembali goyah (dan) mempertegas (kalau) Pancasila adalah satu-satunya ideologi (yang) harus selalu dipakai oleh seluruh komponen bangsa,” ujar Dori Asra Wijaya, Ketua Umum GMPP.
Diskusi panel menghadirkan Dandim Kota Padang yang diwakili oleh Mayor (Inf) Feri Handra, sejarawan sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial UNP, Hendra Naldi, dan dosen Fakultas Ilmu Sosial UNP, Abdul Salam sebagai pembicara.
Hendra Naldi selaku salah seorang pembicara memaparkan bahwa sangat logis untuk bangsa ini menerapkan Pancasila, karena secara historis dalam paradigma gerakan sosial dikenal konsep kolektif behavior, dan Pancasila adalah konsep kolektif behavior itu.
“Sejarah menunjukkan secara teorial pada masa Long Dure konsepsi Indonesia lahir dari sebuah konsepsi nusantara. Nusantara dikenal dengan imperium Sriwijaya sebagai imperium dasar, setelah itu periode Majapahit dalam cita-cita Gadjah Mada yang terkenal dengan sumpah palapa. Pada periode ini terbentuk struktur dalam kehidupan bermasyarakat, terbentuk kultur dan tatanan sosial,” tambahnya.
Dilihat dari perspektif sejarah, Hendra Naldi mengatakan zaman kolonial merupakan rangsangan kepada pribumi terhadap semangat kolektif behaviornya, yaitu sama-sama terjajah, dan semangat keluar dari penjajahan yang menggebu-gebu tersebut terkonsepsi dalam Pancasila.
Pemateri selanjutnya, Abdul Salam yang juga seorang ustaz, mengemukakan proses berbangsa dalam Islam diterjemahkan juga dalam Pancasila.
“Peristiwa Isra’ Mi’raj mengawali terbentuknya negara dengan langkah awal ketika negara berdiri dengan membentuk piagam Madinah sebagai aturan bagi seluruh elemen. Tidak hanya untuk umat muslim saja, tapi beragam dan piagam Madinah menjadi pemersatu dari semua ragam macam yang ada di Madinah,” tegasnya di hadapan 200 orang lebih hadirin.
Abdul Salam menambahkan semangat itulah yang menjadi semangat awal berdirinya pancasila karena pancasila mampu mengakomodir seluruh perbedaan yang ada di bangsa dan negara ini.
“Pancasila lahir dari ijtihad para tokoh bangsa, menjadi dasar kita untuk bernegara, menjadikan Pancasila sebagai dasar negara tidak mengurangi sedikitpun kepercayaan umat Islam,” tutur Abdul Salam.
Sedangkan Dandim Kota Padang yang diwakili oleh Mayor (Inf) Feri Handra, mengemukakan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, sebagai ideologi nasional serta sebagai pandangan hidup bangsa.
“Namun kita harus tetap waspada terhadap ancaman pancasila yang datang dari luar, yakni globalisasi, lembaga swadaya masyarakat asing, konflik perbatasan, dan impor yang merugikan,” katanya.
Mayor (Inf) Feri Handra menambahkan ancaman dari dalam juga tidak bisa diabaikan, seperti gerakan radikal, terorisme dan gerakan pembebasan. Mayor (Inf) Feri Handra juga menegaskan kalau kita sebagai bangsa yang kuat jangan mau diadu domba oleh orang luar yang mencoba untuk memecah belah bangsa. (fa)
Diskusi panel menghadirkan Dandim Kota Padang yang diwakili oleh Mayor (Inf) Feri Handra, sejarawan sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial UNP, Hendra Naldi, dan dosen Fakultas Ilmu Sosial UNP, Abdul Salam sebagai pembicara.
Hendra Naldi selaku salah seorang pembicara memaparkan bahwa sangat logis untuk bangsa ini menerapkan Pancasila, karena secara historis dalam paradigma gerakan sosial dikenal konsep kolektif behavior, dan Pancasila adalah konsep kolektif behavior itu.
“Sejarah menunjukkan secara teorial pada masa Long Dure konsepsi Indonesia lahir dari sebuah konsepsi nusantara. Nusantara dikenal dengan imperium Sriwijaya sebagai imperium dasar, setelah itu periode Majapahit dalam cita-cita Gadjah Mada yang terkenal dengan sumpah palapa. Pada periode ini terbentuk struktur dalam kehidupan bermasyarakat, terbentuk kultur dan tatanan sosial,” tambahnya.
Dilihat dari perspektif sejarah, Hendra Naldi mengatakan zaman kolonial merupakan rangsangan kepada pribumi terhadap semangat kolektif behaviornya, yaitu sama-sama terjajah, dan semangat keluar dari penjajahan yang menggebu-gebu tersebut terkonsepsi dalam Pancasila.
Pemateri selanjutnya, Abdul Salam yang juga seorang ustaz, mengemukakan proses berbangsa dalam Islam diterjemahkan juga dalam Pancasila.
“Peristiwa Isra’ Mi’raj mengawali terbentuknya negara dengan langkah awal ketika negara berdiri dengan membentuk piagam Madinah sebagai aturan bagi seluruh elemen. Tidak hanya untuk umat muslim saja, tapi beragam dan piagam Madinah menjadi pemersatu dari semua ragam macam yang ada di Madinah,” tegasnya di hadapan 200 orang lebih hadirin.
Abdul Salam menambahkan semangat itulah yang menjadi semangat awal berdirinya pancasila karena pancasila mampu mengakomodir seluruh perbedaan yang ada di bangsa dan negara ini.
“Pancasila lahir dari ijtihad para tokoh bangsa, menjadi dasar kita untuk bernegara, menjadikan Pancasila sebagai dasar negara tidak mengurangi sedikitpun kepercayaan umat Islam,” tutur Abdul Salam.
Sedangkan Dandim Kota Padang yang diwakili oleh Mayor (Inf) Feri Handra, mengemukakan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, sebagai ideologi nasional serta sebagai pandangan hidup bangsa.
“Namun kita harus tetap waspada terhadap ancaman pancasila yang datang dari luar, yakni globalisasi, lembaga swadaya masyarakat asing, konflik perbatasan, dan impor yang merugikan,” katanya.
Mayor (Inf) Feri Handra menambahkan ancaman dari dalam juga tidak bisa diabaikan, seperti gerakan radikal, terorisme dan gerakan pembebasan. Mayor (Inf) Feri Handra juga menegaskan kalau kita sebagai bangsa yang kuat jangan mau diadu domba oleh orang luar yang mencoba untuk memecah belah bangsa. (fa)

Post a Comment