[Siaran Pers]
DPW SEMMI SUMBAR: "Pak Tito Kami Mohon Jangan Pecah Belah Umat"
(Catatan Redaksi: Ini merupakan siaran pers yang dikirimkan oleh salah seorang anggota SEMMI. Tanpa Nama sama sekali tidak terikat dengan organisasi tersebut dan tetap menjadi blog bersama independen. Siaran pers dari beberapa lembaga beberapa kali dipublish di sini).
Skrip pidato Tito yang dipermasalahkan:
"Perintah saya melalui video konferens minggu lalu saat Rapim Polri, semua pimpinan Polri hadir, saya sampaikan tegas, menghadapi situasi saat ini, perkuat NU dan Muhammadiyah. Dukung mereka maksimal.
Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi. Para Kapolres wajib membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten/kota.
Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah. Jangan dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian. Mereka itu bukan pendiri negara. Mau merontokkan negara malah iya, ya. Tapi yang sudah konsisten dari awal sampai hari ini, itu adalah NU dan Muhammadiyah.
Termasuk kami berharap hubungan antara NU dan Muhammadiyah juga bisa saling kompak. Satu sama lainnya. Boleh beda pendapat, tapi kalau sudah bicara NKRI, mohon, kami mohon dengan hormat, kami betul-betul titip, kami juga sebagai umat muslim, harapan kami hanya kepada dua organisasi besar ini."
Beberapa hari setelah video yang berisi skrip di atas viral pihak Tito telah memberikan klarifikasi yang dimuat di media arus utama berikut beberapa di antaranya kami kutipkan di sini:
(1. "Alhamdulillah pak Hamdan Zoelva paham senang ketika mendapatkan penjelasan dari pak Kapolri bahwaa video itu adalah rekaman tahun 2017 tanggal 8 Februari di pondok pesantren KH Ma'ruf Amin dan itu sudah dipotong-potong jadi kalimat tidak utuh. Bagaimana kalau kalimat tidak utuh, pesan pasti akan tidak utuh juga dan tidak sampai akhirnya menimbulkan inteprestasi masing-masing yang menonton itu," kata Karo Penmas Humas Polri Brigjen M Iqbal di Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (31/1/2018).
Dalam penggalan video yang beredar viral tersebut, Tito menyatakan bahwa dia meminta polisi untuk memperkuat NU dan Muhammadiyah. Karena hanya dua ormas itu, masih menurut Tito di video itu, yang berperan dalam mendirikan NKRI. Penggalan itulah yang kemudian menurut Iqbal disalahartikan. tayang di https://news.detik.com/berita/d-3843031/polri-pidato-kapolri-soal-nu-muhammadiyah-dipotong-maknanya-jadi-kabur
Menanggapi video terkait instruksi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian yang akan mendukung penuh Nadhatul Ulama (NU) dan Muhamaddiyah mendapat tanggapan dari organisasi islam di luar NU dan Muhammadiyah. Salah satunya adalah organisasi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (Semmi).
Ketua Umum Dewan Perwakilan Wilayah Semmi Sumatra Barat, Arfino Bijuangsa mengatakan jika ucapan Kapolri tersebut akan membuat hati umat islam di luar Nu dan Muhammadiyah sakit. Pasalnya, Tito karnavian menuduh ormas lain di luar NU dan Muhammadiyah hendak merontokkan NKRI. Intruksi dan pernyataan tersebut tentunya sangat lah tendensius dan tidak baik dilontarkan oleh orang nomor satu dipolisi tersebut.
“Jujur kami kaget atas pernyataan Kapolri dalam vidio yang tersebar tersebut, kami selaku organisasi dibawah syarikat islam yang lahir dari 1906 dan menjadi bapaknya organisasi Islam diIndonesia mengaku pernyataan dan intruksi dari pak Tito tersebut akan menuai permasalahan baru terhadap negara dan bangsa Indonesia khususnya umat islam diIndonesia,” tegasnya Kamis (31/1) di Padang.
Fino menambahkan pernyataan pak Tito sangat diskriminatif. “Padahal seharusnya sebagai pucuk pimpinan tertinggi kepolisian yang bertugas mengayomi masyarakat harus memperlihatkan keadilan. Tidak sepantasnya Kapolri berkata demikian, seakan-akan Kapolri tidak adil dan jika ini dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi umat islam. Karena itu pak Tito kami mohon jangan pecah belah umat,” tutupnya.
(Catatan Redaksi: Ini merupakan siaran pers yang dikirimkan oleh salah seorang anggota SEMMI. Tanpa Nama sama sekali tidak terikat dengan organisasi tersebut dan tetap menjadi blog bersama independen. Siaran pers dari beberapa lembaga beberapa kali dipublish di sini).
Skrip pidato Tito yang dipermasalahkan:
"Perintah saya melalui video konferens minggu lalu saat Rapim Polri, semua pimpinan Polri hadir, saya sampaikan tegas, menghadapi situasi saat ini, perkuat NU dan Muhammadiyah. Dukung mereka maksimal.
Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi. Para Kapolres wajib membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten/kota.
Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah. Jangan dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian. Mereka itu bukan pendiri negara. Mau merontokkan negara malah iya, ya. Tapi yang sudah konsisten dari awal sampai hari ini, itu adalah NU dan Muhammadiyah.
Termasuk kami berharap hubungan antara NU dan Muhammadiyah juga bisa saling kompak. Satu sama lainnya. Boleh beda pendapat, tapi kalau sudah bicara NKRI, mohon, kami mohon dengan hormat, kami betul-betul titip, kami juga sebagai umat muslim, harapan kami hanya kepada dua organisasi besar ini."
Beberapa hari setelah video yang berisi skrip di atas viral pihak Tito telah memberikan klarifikasi yang dimuat di media arus utama berikut beberapa di antaranya kami kutipkan di sini:
(1. "Alhamdulillah pak Hamdan Zoelva paham senang ketika mendapatkan penjelasan dari pak Kapolri bahwaa video itu adalah rekaman tahun 2017 tanggal 8 Februari di pondok pesantren KH Ma'ruf Amin dan itu sudah dipotong-potong jadi kalimat tidak utuh. Bagaimana kalau kalimat tidak utuh, pesan pasti akan tidak utuh juga dan tidak sampai akhirnya menimbulkan inteprestasi masing-masing yang menonton itu," kata Karo Penmas Humas Polri Brigjen M Iqbal di Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (31/1/2018).
Dalam penggalan video yang beredar viral tersebut, Tito menyatakan bahwa dia meminta polisi untuk memperkuat NU dan Muhammadiyah. Karena hanya dua ormas itu, masih menurut Tito di video itu, yang berperan dalam mendirikan NKRI. Penggalan itulah yang kemudian menurut Iqbal disalahartikan. tayang di https://news.detik.com/berita/d-3843031/polri-pidato-kapolri-soal-nu-muhammadiyah-dipotong-maknanya-jadi-kabur
2. Menyikapi (video tersebut), Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan, Tito akan mengumpulkan sejumlah ormas Islam.
"Nanti (rencananya) akan ada pertemuan dengan organisasi-organisasi Islam, silaturahmi," kata Setyo di Lapangan Tembak Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (30/1).
Menurutnya, kejadian yang direkam pada video tersebut terjadi pada 2016. Menurutnya, waktu itu pihaknya sedang menandatangani nota kesepahaman bersama NU.
"Saya waktu itu masih Kadiv Hukum, bahkan di gambar yang viral itu ada gambar saya di situ. Di kantor Pengurus Besar NU kalau nggak salah. (Kapolri) mau memberikan penjelasan.” ujar Setyo
Namun jenderal bintang dua itu tidak menjelaskan substansi pernyataan Tito yang dinilai oleh sejumlah pihak tidak mengakui kontribusi ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah. Tayang di sini https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180130195637-20-272738/pidato-tito-soal-cuma-nu-muhammadiyah-pendiri-nkri-diprotes)
Pernyataan SEMMI melalui siaran pers:
Menurutnya, kejadian yang direkam pada video tersebut terjadi pada 2016. Menurutnya, waktu itu pihaknya sedang menandatangani nota kesepahaman bersama NU.
"Saya waktu itu masih Kadiv Hukum, bahkan di gambar yang viral itu ada gambar saya di situ. Di kantor Pengurus Besar NU kalau nggak salah. (Kapolri) mau memberikan penjelasan.” ujar Setyo
Namun jenderal bintang dua itu tidak menjelaskan substansi pernyataan Tito yang dinilai oleh sejumlah pihak tidak mengakui kontribusi ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah. Tayang di sini https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180130195637-20-272738/pidato-tito-soal-cuma-nu-muhammadiyah-pendiri-nkri-diprotes)
Pernyataan SEMMI melalui siaran pers:
Menanggapi video terkait instruksi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian yang akan mendukung penuh Nadhatul Ulama (NU) dan Muhamaddiyah mendapat tanggapan dari organisasi islam di luar NU dan Muhammadiyah. Salah satunya adalah organisasi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (Semmi).
Ketua Umum Dewan Perwakilan Wilayah Semmi Sumatra Barat, Arfino Bijuangsa mengatakan jika ucapan Kapolri tersebut akan membuat hati umat islam di luar Nu dan Muhammadiyah sakit. Pasalnya, Tito karnavian menuduh ormas lain di luar NU dan Muhammadiyah hendak merontokkan NKRI. Intruksi dan pernyataan tersebut tentunya sangat lah tendensius dan tidak baik dilontarkan oleh orang nomor satu dipolisi tersebut.
“Jujur kami kaget atas pernyataan Kapolri dalam vidio yang tersebar tersebut, kami selaku organisasi dibawah syarikat islam yang lahir dari 1906 dan menjadi bapaknya organisasi Islam diIndonesia mengaku pernyataan dan intruksi dari pak Tito tersebut akan menuai permasalahan baru terhadap negara dan bangsa Indonesia khususnya umat islam diIndonesia,” tegasnya Kamis (31/1) di Padang.
Fino menambahkan pernyataan pak Tito sangat diskriminatif. “Padahal seharusnya sebagai pucuk pimpinan tertinggi kepolisian yang bertugas mengayomi masyarakat harus memperlihatkan keadilan. Tidak sepantasnya Kapolri berkata demikian, seakan-akan Kapolri tidak adil dan jika ini dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi umat islam. Karena itu pak Tito kami mohon jangan pecah belah umat,” tutupnya.

Post a Comment