Perjuangan Bu Ita Menunggu Suaminya

(Laporan langsung: Edo Hia)

FOTO./@akutakutanjing di Instagram
Siang ini, kami mencoba mencari tahu keadaan keluarga Pak Edi Cotok.

Saya: "Bu, boleh kami bertanya tentang sosok Pak Edi?"

Bu Ita tak menjawab. Hanya mengangkat ujung jilbab menyeka wajah. Ia menangis dengan deras.

Bu Ita adalah istri Pak Edi Cotok yang saat ini sedang mendekam di Rutan Polres Solok. Pak Edi sehari-hari bekerja sebagai petani dan penjual barang bekas. Sejak ditangkap (dikriminalisasi -red) Januari lalu, kondisi keluarganya cukup terpuruk. 

Kini, Bu Ita harus banting tulang sendirian dengan pikiran tak tenang. Ia tak pernah tenang! 
Ia lebih banyak termenung. Banyak yang ia pikirkan.

Semenjak suaminya ditangkap, ia harus mengurangi biaya anak-anaknya yang sekolah dan kuliah di Padang. Tak hanya itu, utang di bank menunggak karena tak mampu mencicil. Ia mengaku, suasana rumahnya sangat jauh berbalik sejak suaminya ditahan. 

"Anak-anak sangat terganggu. Mereka tertekan," ungkapnya sambil menghapus air mata. 

Anak bungsunya, Fajar, mulai banyak melamun dan berubah sikap, baik di rumah maupun di sekolah.

Berdasarkan Surat Perpanjangan Penahanan Ditreskrimum, Pak Edi Cotok diduga keras menghasut di muka umum dengan lisan dan turut membantu merusak serta membakar mobil, pada November 2017. 

Namun, penuturan Bu Ita berbeda jauh. Saat aksi itu, Pak Edi sedang berada di ladang dan baru tiba di lokasi aksi ketika kerusuhan telah pecah. Masa penahanan sendiri berlaku 30 hari (27 Feb - 28 Maret 2018). Bu Ita harus menempuh jalan jauh untuk dapat bertemu suaminya sekali atau tiga kali seminggu.

Saya: "Apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh Pak Edi Cotok?"

Bu Ita: "Nagari ini!"

Saya: "Kenapa?"

Bu Ita: "Jangan sampai nagari ini dirampas oleh perusahaan. Ia tak ingin tanah ini hilang."

Saya: "Ada yang ingin Ibu sampaikan?"

Bu Ita: "Saya tidak ingin perusahaan ini berdiri! Saya tidak ingin kemakmuran masyarakat dirampas oleh mereka."
Inilah gambaran kenyataan apa yang sedang terjadi di sini. Masyarakat tak pernah mendapatkan keadilan.

Maaf tak dapat mengirim gambar untuk saat ini.

Salayo Tanang, 8 April 2018.

======

(*) Artikel ini diterbitkan ulang di sini atas izin dari penulis sebagai bentuk kampanye #TolakGeothermal dan mengalami sedikit penyuntingan dari editor. Artikel asli klik: https://www.instagram.com/p/BhUBoQTlq_v/?taken-by=akutakutanjing.

Follow juga akun yang fokus pada isu ini di Instagram: @bunghattatalks, @talangmelawan, dan akun lainnya.

Tidak ada komentar