Gagalnya Proyek Deradikalisasi

(Reporter: Ferdy Andika)



Jakarta-- 19 Mei 2018, bertempat di kediaman ketua umum PB HMI. Forum Diskusi Mingguan Al-Barkah (FOSAL) mengadakan diskusi dengan tema "Mengurai Spiral Terorisme dan Gagalnya Proyek Deradikalisasi".


Foto/Dok. Ferdy Andika

Dalam diskusi tersebut hadir dua orang pembicara Mutya Gustina (Sekum Kohati PB HMI) dan Hardian Tuassamu, diskusi dimoderatori oleh Aan Julianda.

Pada diskusi tersebut Mutya banyak memberikan pemaparan dalam perspektif perempuan. Dikatakan Mutia, "perempuan harus punya pengetahuan akan ideologi. Dan Laki laki harus mempunyai peran penting dalam menanggulangi paham radikalisme dan terorisme".

"Perempuan adalah aktor utama dalam Deradikalisasi. Perempuan harus bisa mentransformasikan pengetahuan kepada anak dan relasi di lingkungan".

Ulasan panjang juga disampaikan oleh Hardian, sekaligus menjawab salah satu pertanyaan dari Peserta diskusi "apakah sangat krusial sehingga UU teroris diganti" tanya Afriansyah. 

Menurut saya perlu, ketika ada peristiwa harus ada penindakan, namun pada saat yang sama terjadi penyalahgunaan wewenang, disini sulitnya.

Dalam perkembangan teori demokrasi Salah satunya adalah teori Militan demokrasi. Ringkasnya, Prinsipnya negara tidak boleh toleran dengan orang orang yang intoleran.

Namun pada saat yang sama pembatasan yang dilakukan harus sangat konsitusional. Pasal demi pasal mesti didudukan dengan jelas agar tidak pasal karet. Undang undang mesti eksplisit. Ujar Hardian.

Disimpulkan Aan, selaku moderator diskusi. "Munculnya teroris-teroris melalui aksi bom bunuh diri belakangan ini, menandakan bahwa proyek Deradikalisasi itu gagal". (rfa)

Tidak ada komentar