Cerita KKN
(Penulis: Yogi Buana Putra)
***
Cerita ini berawal sejak saya mulai mengenyam bangku perkuliahan, dan saya merasakan setiap pembaca yang pernah mengenyam bangku perkuliahan pasti akan merasakan hal yang ingin saya ceritakan ini.
Perkenalkan nama saya Ikbal, saya berasal dari daerah yang baru seumur jagung, dan saya juga sedang mengenyam bangku perkuliahan di daerah yang sama. Biasanya di perkuliahan ini waktu masuk masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dimulai dari awal semester tujuh, dari sinilah seribu rumah gadang mempunyai cerita saya sendiri.
Saya mendapatkan lokasi KKN yang sangat menyenangkan. Mengapa? dikarenakan keindahannya yang tidak tertandingi. Keindahan alam dan juga kearifan lokal yang sangat terjaga, tepatnya berada di Kabupaten Solok Selatan, Kecamatan Sangir Jujuan, Nagari Padang Gantiang.
Uniknya nagari ini baru mengalami pemekaran, waktu dulu nagari ini menjadi bagian dari Nagari Lubuak Malako. Sebelum memasuki Nagari Padang Gantiang, kita akan disambut oleh jembatan yang bergoyang, tentu kita menyebrangi sungai yang deras dan dalam.
Letak nagari ini diapit oleh perbukitan dan sejauh mata memandang akan terhalang oleh perbukitan itu, begitu kata orang setempat.
Jumlah anak KKN semasa saya yaitu 27 orang dari berbagai macam fakultas, dan dari berbagai macam rupa dan sikap yang tidak sama. Itu yang menjadi bumbu dari KKN, yaitu perbedaan yang akan menyatukan kita.
Sesampainya mobil di bibir jembatan, maka mobil harus saling bergantian melewati jembatan karena ukuran jembatan hanya pas buat satu mobil saja. Setelah berada di tengah jembatan, maka akan dirasakan sensasi seperti bergoyang, dan saya sampai di lokasi KKN tepat pada malam hari, saya langsung ke rumah wali nagari.
Di rumah Bapak Linun yang menjadi wali nagari, saya dan teman teman memperkenalkan diri terlebih dahulu dan pembicaraan berlanjut sampai kami merasakan kelelahan sewaktu perjalanan.
Nagari Padang Gantiang terbagi atas empat jorong: jorong pertama yaitu Jorong Padang Batubal, jorong kedua, Sirumbuak, jorong ketiga Sungai Barameh, dan jorong ke empat Pidang. Dengan jumlah anak KKN sebanyak 27 orang, maka mahasiswa diletakkan 7 orang perjorong.
Saya sendiri ditempatkan di Jorong Sungai Barameh.
Awal program kerja mahasiswa KKN yaitu membuat tapak batas dan rumah pintar, serta program unggulan lainnya. Kemudian nagari setempat meminta bahwasanya rumah pintar harus diterapkan di nagari ini.
Rumah pintar yang kami maksudkan ialah di mana tempat anak anak bersekolah di luar jam sekolah yang membahas beberapa mata pelajaran, ada bahasa Jepang, bahasa Inggris, ada Matematika, dan ada keterampilan. Tentu yang menjadi bapak asuh dari setiap mata pelajaran ialah mahasiswa, dan saya sendiri diamanahkan oleh kawan-kawan untuk menjadi bapak asuh dari keterampilan bidang puisi, walaupun saya sendiri tidak mampu mengucapkan puisi yang begitu indah.
Rumah pintar di lokasikan oleh wali nagari di MDA. Sebelumnya MDA ini juga digunakan oleh anak-anak untuk menimba ilmu agama. Rumah pintar dijalankan sampai 34 hari, dalam satu minggu 4 hari pertemuan.
Lokasi rumah pintar sangat nyaman untuk diri saya yang sedang dilanda kegalauan yang panjang ini, dengan melihat sungai yang di tepinya ada hamparan sawah membuat kegalauan yang sempat memuncak ini menjadi sebuah kenyaman yang tak mampu ditukarkan dengan hal apa pun.
Para orang tua mempercayakan anak-anak mereka kepada kami untuk dibimbing dalam mata pelajaran yang akan diberikan.
Selain rumah pintar yang program nagari, ada juga program dari individu. Dan saya yang berasal dari fakultas pertanian, maka orientasi saya tentu di lingkup pertanian.
Saya mempunyai program yaitu bagaimana mengetahui bahwasanya padi sudah bisa panen. Saya pun diajak oleh penduduk setempat untuk memanen padi. Dari sinilah perspektif saya berubah, yaitu yang awalnya merasakan bahwa padi gampang untuk dipanen, ternyata di Padang Gantiang ini mempunyai tantangan tersendiri.
Mungkin salah satunya, kurangnya infrastruktur jalan untuk mencapai akses ke persawahan. Sewaktu saya mengangkat karung yang telah berisi padi yang beratnya 35 ton, saya merasakan hal yang biasa-biasa saja dan ternyata karung ini harus melewati pematang sawah, dan ada sebuah titian jembatan --yang-- jika saya tidak berkonsentrasi, maka jangan harap padi tersebut akan aman.
Tidak hanya titian jembatan, kita akan melewati anak sungai, "huhuu" capeknya luar biasa, tapi itulah kondisi petani yang ada di salah satu pelosok negri ini. Tidak hanya sampai di petani kita akan beranjak ke pengalaman berikutnya, di mana saya sangat tersanjung, sebab masyarakat yang begitu ramah dan anggun membuat saya percaya diri untuk memberikan ilmu apa yang saya punya dan saya siap menerima apa yang belum saya miliki.
Dalam 40 hari itulah kegiatan-kegiatan yang saya lewati dari pagi hari, lalu kemudian, bersiap untuk menjalankan program individu, dan siang hari bersiap untuk menjalankan program nagari, dan malam hari berkumpul dengan lintas generasi, yaitu bapak-bapak, uda-uda di sebuah kedai dengan menonton film Mak Lampir.
Banyak pengalaman-pengalaman lainya yang belum bisa saya sampaikan kepada para pembaca karena menulis ini saja membutuhkan kekuatan hati agar mampu menyelesaikan setiap kalimat pengalaman ini.
Di ujung KKN saya dan kawan kawan mengangkat sebuah acara perpisahan bersama masyarakat dan anak-anak yang di rumah pintar. Tema dalam acara tersebut yaitu "palito cito bakeh cinto ka nagari", mungkin para pembaca tahu akan maksud dari tema tersebut.
Dalam perpisahan tersebut penampilan-penampilan dari anak-anak yang bersekolah di rumah pintar: ada yang menyanyi, menari, drama, dan puisi. Semua itu penampilan yang sangat mengesankan bagi mahasiswa dan masyarakat, ternyata bakat dari anak-anak di rumah pintar sangat bagus dan jika diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat, maka akan menjadi anak-anak yang berbahagia.
Itulah akhir dari masa KKN saya, memang sedikit pahit tapi diakhiri oleh kemanisan, dan percayalah masa KKN ini sudah saya letakkan di dalam perjalanan kehidupan saya sendiri.
Sebelum cerita ini sampai di akhir maka saya akan menuliskan sebuah puisi perpisahan dan yang akan di bacakan oleh anak asuh dari puisi tersebut:
***
![]() |
| Foto. Ilustrasi |
Cerita ini berawal sejak saya mulai mengenyam bangku perkuliahan, dan saya merasakan setiap pembaca yang pernah mengenyam bangku perkuliahan pasti akan merasakan hal yang ingin saya ceritakan ini.
Perkenalkan nama saya Ikbal, saya berasal dari daerah yang baru seumur jagung, dan saya juga sedang mengenyam bangku perkuliahan di daerah yang sama. Biasanya di perkuliahan ini waktu masuk masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dimulai dari awal semester tujuh, dari sinilah seribu rumah gadang mempunyai cerita saya sendiri.
Saya mendapatkan lokasi KKN yang sangat menyenangkan. Mengapa? dikarenakan keindahannya yang tidak tertandingi. Keindahan alam dan juga kearifan lokal yang sangat terjaga, tepatnya berada di Kabupaten Solok Selatan, Kecamatan Sangir Jujuan, Nagari Padang Gantiang.
Uniknya nagari ini baru mengalami pemekaran, waktu dulu nagari ini menjadi bagian dari Nagari Lubuak Malako. Sebelum memasuki Nagari Padang Gantiang, kita akan disambut oleh jembatan yang bergoyang, tentu kita menyebrangi sungai yang deras dan dalam.
Letak nagari ini diapit oleh perbukitan dan sejauh mata memandang akan terhalang oleh perbukitan itu, begitu kata orang setempat.
Jumlah anak KKN semasa saya yaitu 27 orang dari berbagai macam fakultas, dan dari berbagai macam rupa dan sikap yang tidak sama. Itu yang menjadi bumbu dari KKN, yaitu perbedaan yang akan menyatukan kita.
Sesampainya mobil di bibir jembatan, maka mobil harus saling bergantian melewati jembatan karena ukuran jembatan hanya pas buat satu mobil saja. Setelah berada di tengah jembatan, maka akan dirasakan sensasi seperti bergoyang, dan saya sampai di lokasi KKN tepat pada malam hari, saya langsung ke rumah wali nagari.
Di rumah Bapak Linun yang menjadi wali nagari, saya dan teman teman memperkenalkan diri terlebih dahulu dan pembicaraan berlanjut sampai kami merasakan kelelahan sewaktu perjalanan.
Nagari Padang Gantiang terbagi atas empat jorong: jorong pertama yaitu Jorong Padang Batubal, jorong kedua, Sirumbuak, jorong ketiga Sungai Barameh, dan jorong ke empat Pidang. Dengan jumlah anak KKN sebanyak 27 orang, maka mahasiswa diletakkan 7 orang perjorong.
Saya sendiri ditempatkan di Jorong Sungai Barameh.
Awal program kerja mahasiswa KKN yaitu membuat tapak batas dan rumah pintar, serta program unggulan lainnya. Kemudian nagari setempat meminta bahwasanya rumah pintar harus diterapkan di nagari ini.
Rumah pintar yang kami maksudkan ialah di mana tempat anak anak bersekolah di luar jam sekolah yang membahas beberapa mata pelajaran, ada bahasa Jepang, bahasa Inggris, ada Matematika, dan ada keterampilan. Tentu yang menjadi bapak asuh dari setiap mata pelajaran ialah mahasiswa, dan saya sendiri diamanahkan oleh kawan-kawan untuk menjadi bapak asuh dari keterampilan bidang puisi, walaupun saya sendiri tidak mampu mengucapkan puisi yang begitu indah.
Rumah pintar di lokasikan oleh wali nagari di MDA. Sebelumnya MDA ini juga digunakan oleh anak-anak untuk menimba ilmu agama. Rumah pintar dijalankan sampai 34 hari, dalam satu minggu 4 hari pertemuan.
Lokasi rumah pintar sangat nyaman untuk diri saya yang sedang dilanda kegalauan yang panjang ini, dengan melihat sungai yang di tepinya ada hamparan sawah membuat kegalauan yang sempat memuncak ini menjadi sebuah kenyaman yang tak mampu ditukarkan dengan hal apa pun.
Para orang tua mempercayakan anak-anak mereka kepada kami untuk dibimbing dalam mata pelajaran yang akan diberikan.
Selain rumah pintar yang program nagari, ada juga program dari individu. Dan saya yang berasal dari fakultas pertanian, maka orientasi saya tentu di lingkup pertanian.
Saya mempunyai program yaitu bagaimana mengetahui bahwasanya padi sudah bisa panen. Saya pun diajak oleh penduduk setempat untuk memanen padi. Dari sinilah perspektif saya berubah, yaitu yang awalnya merasakan bahwa padi gampang untuk dipanen, ternyata di Padang Gantiang ini mempunyai tantangan tersendiri.
Mungkin salah satunya, kurangnya infrastruktur jalan untuk mencapai akses ke persawahan. Sewaktu saya mengangkat karung yang telah berisi padi yang beratnya 35 ton, saya merasakan hal yang biasa-biasa saja dan ternyata karung ini harus melewati pematang sawah, dan ada sebuah titian jembatan --yang-- jika saya tidak berkonsentrasi, maka jangan harap padi tersebut akan aman.
Tidak hanya titian jembatan, kita akan melewati anak sungai, "huhuu" capeknya luar biasa, tapi itulah kondisi petani yang ada di salah satu pelosok negri ini. Tidak hanya sampai di petani kita akan beranjak ke pengalaman berikutnya, di mana saya sangat tersanjung, sebab masyarakat yang begitu ramah dan anggun membuat saya percaya diri untuk memberikan ilmu apa yang saya punya dan saya siap menerima apa yang belum saya miliki.
Dalam 40 hari itulah kegiatan-kegiatan yang saya lewati dari pagi hari, lalu kemudian, bersiap untuk menjalankan program individu, dan siang hari bersiap untuk menjalankan program nagari, dan malam hari berkumpul dengan lintas generasi, yaitu bapak-bapak, uda-uda di sebuah kedai dengan menonton film Mak Lampir.
Banyak pengalaman-pengalaman lainya yang belum bisa saya sampaikan kepada para pembaca karena menulis ini saja membutuhkan kekuatan hati agar mampu menyelesaikan setiap kalimat pengalaman ini.
Di ujung KKN saya dan kawan kawan mengangkat sebuah acara perpisahan bersama masyarakat dan anak-anak yang di rumah pintar. Tema dalam acara tersebut yaitu "palito cito bakeh cinto ka nagari", mungkin para pembaca tahu akan maksud dari tema tersebut.
Dalam perpisahan tersebut penampilan-penampilan dari anak-anak yang bersekolah di rumah pintar: ada yang menyanyi, menari, drama, dan puisi. Semua itu penampilan yang sangat mengesankan bagi mahasiswa dan masyarakat, ternyata bakat dari anak-anak di rumah pintar sangat bagus dan jika diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat, maka akan menjadi anak-anak yang berbahagia.
Itulah akhir dari masa KKN saya, memang sedikit pahit tapi diakhiri oleh kemanisan, dan percayalah masa KKN ini sudah saya letakkan di dalam perjalanan kehidupan saya sendiri.
Sebelum cerita ini sampai di akhir maka saya akan menuliskan sebuah puisi perpisahan dan yang akan di bacakan oleh anak asuh dari puisi tersebut:
PERPISAHAN
Malam ini,
Di depan khalayak bersama,
Kami tak akan dapat mengulangi,
Moment moment yang seperti ini.
Setiap pertemuan akan berakhir dengan sebuah perpisahan,
Setiap kebahagian akan berakhir dengan sebuah tangisan,
Tangan yang sudah mulai bergetar,
Suara yang sudah mulai terisak isak.
Tepat sudah 40 hari dirimu menemaniku sepanjang waktu,
Menghabiskan hari demi hari,
Pagi berganti siang,
Siang berganti malam,
Tawa, canda, tangis akan tiba saatnya,
Di bawah sinar rembulan ini,
Kami meminta kepada tuhan,
Jika boleh waktu yang sesingkat ini,
Dapat di perpanjang kembali,
Kakak yang akan meninggalkan kami
Jangan pernah melupakan kami
Masa anak-anak kami
Akan tergores dengan sebuah tinta tentang dirimu
Tanah padang gantiang ini
Akan menjadi saksi
Jejak langkah dari seorang pejuang
Tanpa mengharap imbalan
Kakak yang sedang duduk di bawah sana
Tetaplah menjadi kakak yang sekarang
Ketika kelak engkau menjadi penguasa
Yang selalu menegur kami apabila kami mempunyai kesalahan
Kami sadar engkau tak malaikat
Tapi kami tahu engkau malaikat tanpa sayap
Kami memaafkan kamu kakak
Doa kami selalu menyertai langkah mu
Pintu nagari ini selalu terbuka
Menanti kehadiran mu
Yang berdiri di ujung jembatan
Dengan membawa sebuah harapan.

Post a Comment