Nasi Uduk dan Jiwa Nasionalisme

(Oleh: Alek Kaka, Bujangan Paruh Waktu)


FOTO. Nasi Uduk/cookpad.com

Matahari memanjat ufuk timur. Sedang Mikel belum juga tidur. Banyak hal berputar-putar di pikirannya: skripsi, t****, judi bola, serta pidato seorang tokoh pemuda di kampungnya yang tengah berusaha membangkitkan jiwa nasionalisme generasi millenial Indonesia.

Rekaman pidato itu didapati Mikel dari sebuah layanan jejaring sosial yang berkantor pusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat. Konon pidato yang viral itu dibuat dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda. 

Waktu Mikel mengunduhnya, tertera view sudah 1781. 

Tapi, di rumah kosan yang terdampar di Gunung Pangilun itu, Mikel tetaplah Mikel, yang jiwa nasionalismenya susah bangkit. 

“Apa perlu kutelpon ****h, Kel? Untuk membuat jiwa nasionalismemu bangkit lagi.” Kata saya pada Mikel.

“Tidak perlu Lek, aku tidak ingin mengganggunya.” jawab Mikel.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke luar, mencari sesuatu yang bisa di makan. Jam di telepon genggam menunjukkan pukul 06.00.

Kami sengaja tidak bawa motor. Udara pagi terlalu sayang bila diterban asap kendaraan. Dan lagi pula, seperti kata seorang penyair, adakah yang lebih puitis dari gesekan sandal ke aspal oleh laki-laki mencari sarapan pagi?

Namun jam segini, di Gunung Pangilun, bukan perkara mudah mencari warung makan yang buka. Untung ada satu yang nampak, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kosan Mikel, yaitu penjual nasi uduk. Tidak ada pilihan lain.

Penjual nasi uduk itu namanya Supratman, dan satu lagi Marsaid. Yang satu dari Solo, yang satu lagi dari Cilacap. Mikel dari Dharmasraya dan Saya dari Maluku Timur. 

Supratman dan Marsaid merantau dari daerahnya untuk mengadu nasib dengan menjual nasi uduk. Mikel dan Saya merantau pula dari daerah kami masing-masing demi makan nasi uduk Supratman dan Marsaid. 

Sepertinya, lima puluh ribu tahun yang lalu, Tuhan telah menulis dalam Buku Takdir Manusia bahwa kami akan berjumpa pada suatu pagi di suatu tempat di belahan Sumatera, untuk urusan nasi uduk.

Saya bertanya kepada Mas Supratman, perihal nasi uduk. “Mas, uduk ini apa sih artinya?” tanya saya.

“Uduk itu berasal dari bahasa Sunda, yang artinya bersatu atau bercampur.”

Benar juga, saya kira, nasi uduk memang nasi yang dicampur dengan menu lain, seperti tempe, cabe, telur, mie, dan timun. Makanan ini juga punya sedikit kemiripan dengan nasi lemak yang sangat khas di Malaysia. Aih, memang penamaan atas sesuatu oleh orang dulu sederhana saja, tidak serumit sekarang.

Saya pernah liat menu di sebuah restoran yang demi menyebutnya kita mesti mengeluarkan energi yang sama dengan memakannya. Padalah sebernarnya makanan lokal.

Ada namanya Diced Beef Black Soup di menu, ternyata pas dihidang:Rawon. Ada Glutenous Rice, kiranya Lemper. Ada Sunny Side Up Egg, ternyata Telur Ceplok. Ada Indonesian Fried Meal, Consisting of Vegetables and Batter, ehh ternyata Bakwan.

Saya heran saja untuk makanan lokal yang sederhana itu kok di Inggris-Inggris kan segala. Atau barangkali demi menarik perhatian orang luar.

Kenapa tidak mereka saja yang mempelajari bahasa kita? Jadi sebenarnya yang menarik dari suatu makanan itu apakah dari namanya atau rasanya?

Ingin saya tanya ke Mikel, tapi urung saya lakukan. Saya tidak ingin jiwa nasionalisme Mikel makin redup, alih-alih dapat pencerahan.

Tidak ada komentar