Jakarta, (Suatu) Malam di Bulan September Tahun 1984 (*)

FOTO.Monochrome/Google Image.
Langit Jakarta hari itu menunjukkan tanda-tanda kegelapan.

Sedangkan batas langit di senja hari memperlihatkan ketidaksenangan akan siang, karena pantulan cahaya dari seng yang berbentuk bulan bintang sudah mulai pudar.

Coretan-coretan dari dalam ruang keimanan seperti mengganggu penglihatan, entah apa yang tertulis, tetapi kertas buram ini penyebab dari merah merekah di ujung gang.

Bunyi sepatu bak kuda menghentak hendak mengeluarkan taiknya, menyerang pangkal telinga.

Sejurus dengan cepat melesat masuk menuju ruang keimanan, tanpa harus melepas ikat sepatu dan salam.

Dengan cepat merobek kertas buram yang terpampang di dinding ruang keimanan, melesat keluar bak anjing dipukul tongkat.

Tongkat pun hanya mampu dipegang untuk mengusir.
Bagaimana mau mengayun jika ternyata --memang anjing sebesar singa dengan sepatu lengkap siap melahap setiap gerak yang ada.

Alhasil anjing keluar dengan santai tanpa beban.

Laporan dari penjaga keimanan akan perbuatan anjing yang merobek buram di dinding tempo hari menjadi viral.

"Dikabarkan ada dua ekor anjing yang masuk ke ruang keimanan dan merobek kertas buram di dinding pengumuman".

Warga pun menjadi gelisah dan geram.

Bagaimana tidak, mana mungkin seekor anjing, yang najis dibiarkan masuk ke ruang keimanan tanpa permisi dan membuat gaduh. 

Karena itu akan membuat ruang keimanan tidak suci lagi.

Beberapa hari kemudian warga yang sedang gelisah menemukan anjing-anjing tersebut sedang bercengkerama dengan nada gonggongan-gonggongan yang khas.

Kebiasaan para anjing selalu berkumpul membicarakan pantat baru, dan itu membuat perut mual jika mendengarnya.

Alhasil warga menghalau dengan tongkat saktinya. 

Gonggongan lari terbirit-birit terdengan jelas dari suara anjing tersebut dari kejauhan.

Pada malam harinya, warga yang memukul anjing tersebut didatangi oleh centeng bloreng, ternyata yang punya anjing tersebut centeng bloreng kenamaan di kawasan tersebut.

Centeng bloreng yang tidak senang memasukan warga yang memukul anjingnya ke jeruji.

Mendengar warganya ditahan, pemimpin warga kawasan tersebut menemui centeng bloreng untuk bernegosiasi.

Dari hasil negosiasi sepertinya tidak membuahkan hasil, sebab pemimpin warga tersebut pulang dengan jumlah yang sama.

Runding yang tak kunjung usai, pada malam harinya pemimpin warga kawasan tersebut menggerakan massa untuk menemui centeng bloreng, dengan harapan centeng bloreng akan melepaskan warga yang ditangkap.

Tetapi pemimpin warga tersebut salah menduga, sepasukan anjing centeng bloreng dengan persenjataan lengkap sudah siap untuk menghadang.

Satu gonggongan dari ujung membuat tembakan beruntun kepada warga yang datang, puluhan warga terkapar dan berdarah.

Gonggongan-gonggongan dari anjing malam itu menutupi tangis duka lara di ujung gang.

Tak sampai sehari, perihal penembakan yang membabi buta tersebut, telah tersiar di seantaro negri, dan sampai ketelinga para pemimpin "singa perkasa" sebuah komunitas tempat berjuangnya para pejuang kemanusian dan keimanan.

"singa perkasa" memberikan tanggapan dan dukungan cepat, "singa perkasa" mengirimkan surat kepada centeng bloreng atas tindakan anjing-anjing peliharaannya.

"singa perkasa" mengecam keras sikap dari anjing-anjing peliharaan centeng bloreng".

Beberapa hari setelah kejadian tersebut kelompok "singa perkasa" ditangkap. Penangkapan tersebut dengan tuduhan atas dalang di balik semua gerakan tersebut.

Nafas yang ditarik dalam, tangan dipakaikan borgol, diiringi tangisan oleh janda-janda pejuang yang suaminya mati di ujung gang, orang-orang dari "singa perkasa" tersebut hanya tersenyum berharap keadilan akan datang segera menjemput.

Kawasan tersebut dirundung malang, kemana lagi janda-janda tersebut harus mengadu "singa perkasa" telah dijeruji.

Wajah murung menutupi malam kelam tanpa bulan. 

Janda-janda hanya mampu berdoa "semoga singa perkasa diberikan umur panjang dan bisa keluar dari jeruji untuk berjuang kembali".

----------------

Ditulis oleh Ferdy Andika, Pegiat sejarah di Komunitas Arus Sejarah, sembari mempelajari simbol-simbol perlawanan.

(*)Pemberian judul "Jakarta, (Suatu) Malam di Bulan September Tahun 1984", didedikasikan untuk mengenang perjuangan AM Fatwa dalam tragedi Priok pada 12 September 1984. A.M. Fatwa dipanggil sang pencipta kemarin. 
Bahagialah di surga, pejuang!
Tulisan lain dari Ferdy Andika di Tanpa Nama:

Berita:
1. http://www.tanpanama.id/2017/10/tolak-geotermal-masyarakat-salingka.html,
2. http://www.tanpanama.id/2017/06/muda-dan-berkarya.html,
3. http://www.tanpanama.id/2017/09/pelajar-dan-mahasiswa-nagari-gantuang.html.

Opini:
Pertemuan Singkat dengan Bang Eggi.

Tidak ada komentar