Kebijakan Trump, Yerusalem, dan Nasib Palestina

(Penulis: Yogi Buana Putra*)


Dewasa ini, dunia (maya) dihebohkan oleh statement Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Statement tersebut membuat dunia risih dengan kebijakan Trump.

Sebuah klaim sepihak berbunyi "Amerika Serikat mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel dan akan segera memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke sana (Yerusalem)".

Pemberitaan tersebut membuat negara-negara lain merasa kebijakan yang diambil Trump makin memanaskan konflik di wilayah Palestina dan Israel.

Bukan hanya negara Islam yang mengecam atas tindakan Trump, tapi negara-negara yang nonmuslim juga ikut mengecam.

Lantas apakah kebijakan yang dilakukan oleh Trump berakibat fatal bagi masyarakat dunia? 

Penulis mencoba menjawab; kebijakan Trump berakibat buruk bagi masyarakat dunia. 

Sebab masyarakat dunia sadar bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan perlindungan hidup, perdamaian, dan keadilan.

Embed from Getty Images

Kita mengetahui tujuan awal dibentuknya perserikatan bangsa-bangsa ialah menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Dan Amerika merupakan bagian dari dewan keamanan PBB di samping Perancis, Rusia, China, dan Inggris.

Perselisihan antara Palestina dan Israel sudah memakan waktu lama dan resolusi perdamaian hanya sekadar harapan. 

Sebab Israel mencoba menginvasi Palestina dengan cara-cara radikal. Kota Yerussalem merupakan kota yang memiliki keragaman antaragama yaitu agama Islam, Kristen dan Yahudi. 

Tapi kita lihat sejarah yang dahulu, Yahudi hanya menumpang di Palestina. Sebab Yahudi tidak memiliki negara.

Dikarenakan telah berkembangnya bangsa Yahudi, maka Yahudi mencoba mengatakan tepi barat dan jalur Gaza merupakan Negara Israel.

FOTO. Yerusalem/Google Images.
Semenjak itu masyarakat Palestina memperjuangkan hak negaranya sendiri. Perselisihan yang semakin panjang membuat korban jiwa berjatuhan, kesengsaraan di mana-mana, kesejahteraan tidak dapat dirasakan.

Peperangan antarkedua negara mampu menyedot perhatian dunia. Media-media berlomba mencari berita agar dapat dikonsumsi oleh jendela dunia. 

Berbagai kecaman telah diutarakan oleh pemimpin negara termasuk Indonesia, Turki, Malaysia dan negara-negara lain.

Bagi Indonesia sendiri Negara Palestina merupakan negara yang istimewa dikarenakan sewaktu kemerdekaan Indonesia, yang awal mengakui kedaulatan Indonesia salah satunya Palestina.

Selain dari negara yang sama-sama menganut islam, Palestina dan Indonesia juga sahabat tua dalam menegakkan perdamaian dunia.

Di Indonesia sendiri, banyak tuntutan yang dilakukan oleh para Mahasiswa, LSM, dan organisasi-organisasi yang berlandaskan Islam dengan cara-cara berdoa, menyampaikan aspirasi, dan menggalang dana untuk warga Palestina. 

Dengan cara seperti itu memperlihatkan bahwa wajah Indonesia sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan keadilan sesuai dengan harkat dan martabat manusia. 

Dengan adanya peristiwa-peristiwa seperti ini merupakan cermin bagi bangsa Indonesia di mana kita harus memupuk rasa saling menghargai antarumat beragama.

Jangan sampai negara kita seperti kebanyakan negara lain di Timur Tengah yang rawan konflik.

Kita mengetahui Amerika Serikat mempunyai hubungan baik dengan Indonesia. 

Namun, jangan sampai hubungan baik tersebut mempengaruhi otoritas Negara Indonesia, sebab kita lihat banyak negara yang tidak berinteraksi dengan Amerika Serikat dapat tumbuh dengan baik, mampu bersaing dengan negara lainnya. 

Sungguh banyak efek akibat kebijakan yang diambil Trump. Salah satunya proses rekonsiliasi sulit dilaksanakan dan gencatan senjata tidak mampu bertahan lama. 

Kita memahami tidak ada hak bagi negara lain untuk mencampuri urusan negara lain. Apalagi pada era yang modern ini, penjajahan, sudah saatnya tidak hidup dalam era ini.
(*)Yogi Buana Putra akrab dipanggil Ogit adalah seorang mahasiswa Universitas Andalas Kampus III Dharmasraya, jurusan Agroekoteknologi Pertanian.

Simak tulisan-tulisan lain dari Ogit di Tanpa Nama:

Cerpen: 



Tidak ada komentar